Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Viral


__ADS_3

"Mbak yang di medsos itu, kan? Yang viral itu bukan? Itu lho mbak, yang di muka buku itu. Banyak banget yang komen, sampai puluhan ribu, mbak." supir taksi online yang ku tumpangi mencuri pandang lewat kaca spion. Aku menggeleng karena tak paham arah pembicaraannya. Tapi ia terus saja mempertanyakan, sampai sepuluh kali. Bahkan ketika mobil sudah sampai di lobi mall ia juga tetap mempertanyakan. "Itu bener mbak, kan? Mukanya mirip banget lho. Mbak baru menikah, kan? Aduh saya lupa siapa namanya. Tapi tadi pagi saya baca. Mbak Tina, Tika apa siapa ya."


"Maaf pak, saya tidak paham apa yang bapak maksud. Saya juga tidak ikut media sosial macam-macam jadi nggak mungkin viral." Kataku.


"Mbak nggak punya media sosial? Iya sih, yang nulis bukan aku Ayas nama mbak, itu lho mbak, kayaknya keluarga itu .... Aduh, saya mau ngomong nggak enak, mbak."


"Maaf ya pak, saya buru-buru." tak paham dengan apa yang ia katakan, usai memberikan ongkos lalu pergi meninggalkannya.


Tujuanku satu, makan di food court karena perutku sudah sangat lapar. Sejak pagi belum ada satupun makanan yang masuk ke dalam perutku. Tetapi kejadian aneh kembali terjadi, saat aku memasuki area tempat makan, orang-orang melihatku sambil berbisik-bisik. Begitu juga saat aku memesan makanan, mbak yang menjaga outlet sampai melirik beberapa kali.


"Dasar perempuan tidak tahu malu. Tidak punya harga diri. Cantik sih, tapi murahan!" seorang ibu memakai dan ia bahkan menyiram dengan air mineral. Tentu saja aku kaget dibuatnya. Tiba-tiba diserang oleh orang yang tidak aku kenal.


"Maaf ibu, ada apa ini ya?" Tanya satpam yang sedang patroli.


"Ini, ibu ini tiba-tiba marah, lalu dia menyiram saya." Kataku, mengadukan hal tidak enak yang aku alami sambil menunjukkan bukti penyiraman yang ku alami.


"Benar begitu, Bu?" Tanya pak satpam.


"Iya. Soalnya saya kesal sama pelakor. Kok ya tega, sesama perempuan bisa menyakiti seperti itu!" si ibu semakin berani.


"Pelakor bagaimana? Ibu saja tidak kenal saya kok sembarangan menuduh." Aku tak terima.


"Halah, nggak usah ngelak deh mbak. Saya lihat berita mbak kok kalau mbak melakorin suami orang. Tega ya mbak membuat seorang istri dan dua anak kecil ditelantarkan ayahnya." kata ibu tadi.

__ADS_1


Aku diam. Mulai mengerti dengan apa yang ibu itu katakan. Tapi kenapa ia tahu? Apa ibu ini saudara dari istrinya Andre? Aku mengerutkan kening.


"Sepertinya ibu salah orang." Kataku. "Sebaiknya ibu pergi dan jangan mengganggu saya atau saya bisa adukan ibu ke kantor polisi atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan!" Aku terpaksa mengancam agar ia tak lagi mendekatiku. Karena kondisinya sudah mulai tidak kondusif sebab yang berada di sekitar sudah mendengar penuturan ibu tersebut akhirnya aku mengurungkan niat untuk makan, memilih membungkus makanan saja.


💐💐💐


Ya Allah apa lagi ini? Kepalaku sampai berdenyut saat membaca berita di media online yang membahas tentangku. Ya, aku jadi bahan pembicaraan di media sosial, sampai viral. Aku tahu dari link yang dikirimkan Ciya.


Seorang perempuan cantik berinisial TP, berusia sekitar dua puluh dua tahun menjalin hubungan dengan suami orang yang sudah punya dua anak. Mereka sampai menikah secara hukum tanpa izin istri sahnya. Pantaslah selama dua bulan si suami tak kunjung pulang sebab sudah ada bunga yang baru. Suaminya sangat memanjakan perempuan tersebut. Semua hartanya dikuras oleh perempuan tersebut. Ia minta dibelikan apartemen, perhiasan, mobil hingga tabungan ratusan juta rupiah. Sementara istri sah dan anak-anaknya bernasib naas, mereka tak memiliki uang sama sekali, bertahan hidup dengan uang pas-pasan hasil jualan online. Bahkan putri sulung mereka terpaksa berhenti sekolah sebab tak ada biaya.


Membaca berita online tersebut membuat perutku mual dan kepalaku berkunang-kunang. Apalagi di sana terpampang jelas fotoku. Tamatlah riwayatku. Aku hanya bisa duduk sambil memeluk lutut yang gemetaran sebab tak sanggup membaca komentar netizen yang benar-benar keras. Ada yang meninggalkan makian, cacian hingga menyumpahi agar aku mati.


Aku harus bagaimana? Aku tak pernah bermaksud seperti ini? Siapa yang sudah menulis seperti ini? Aku yang semula ingin makan jadi kehilangan nafsu makan. Bahkan untuk mengangkat kepala saja rasanya aku tak sanggup.


💐💐💐


Aku yang benar-benar dala. Kondisi ketakutan mencoba mengumpulkan keberanian. Dengan memakai jaket dan masker aku keluar dari kamar, rencananya mau ke rumah sakit untuk melihat kondisi ibu.


"Mau keluar? Tumben pakai baju tertutup seperti itu? Pakai jaket dan masker untuk nutup-nutupin wajah ya biar nggak ketahuan orang-orang karena sekarang kamu viral ya Ra." Kata mbak Dila sambil tersenyum mengejek. "Baru kali ini aku ngelihat orang cantik yang menyembunyikan kecantikannya. Biasanya bangga banget pamer. Begitulah kalau orang yang sudah banyak aib." celoteh mbak Dila.


Aku tak peduli, terus saja berlalu meninggalkannya. Tahu kondisi kesehatan ibu jauh lebih penting ketimbang berdebat dengan mbak Dila.


💐💐💐

__ADS_1


Sampai di rumah sakit; Ciya, Elis dan Kiki langsung menyanbutku. Mereka tampak gusar, sama sepertiku.


"Bagaimana ibu?" Tanyaku.


"Jantungnya ibu sakit, kak. Dokter menyarankan pasang cincin." Ciya menjelaskan perkataan dokter


"Ya Allah, maafin kakak ya. Semua karena kakak." Aku benar-benar menyesal.


"Enggak kak. Kakak nggak salah apa-apa. Ini bagian dari ujian Tuhan untuk keluarga kita. Semoga kita bisa melewati dan naik kelas." kata Ciya.


"Ibu kenapa bisa begini? Apa bibi Par datang lagi?" tanyaku.


"Enggak kak. Ini karena tadi orang suruhan pak kayak datang, mereka membatalkan niat melamar kak Ciya." Elis menceritakan semuanya.


"Astagfirullah, Ciya maaf. Ini gara-gara kakak." Kataku.


"Enggak kak. Kakak nggak salah apa-apa. Ciya sayang kakak, kehilangan lelaki seperti Umair nggak masalah dibandingkan kehilangan kakak terbaik seperti kakak." Ciya memelukku erat, tapi tetap saja aku tak tenang, diselimuti perasaan bersalah. Andai saja aku bisa lebih hati-hati lagi, ini semua pasti tak akan terjadi.


💐💐💐


Tak ada hal yang menurutku paling menyedihkan selain dibenci hingga diusir oleh ibu kandung sendiri. Kemarin ibu sudah mengusirku. Sekarang ibu meminta agar aku tak lagi menemuinya. Ibu tak ingin mengenalku. Sakit sekali rasanya. Tapi aku masih bisa memahami, ibu begitu karena sedih dan kecewa dengan nasib Ciya yang ikut terkena imbas atas perbuatanku.


"Maafin Tira Bu, tapi percayalah, Tira sangat menyayangi ibu dan adik-adik. Tira tak pernah bermaksud menyakiti kalian dengan semua ini. Tira benar-benar menyesal..andai waktu bisa diputar, Tira lebih memilih sendiri dan mengabdikan diri pada ibu, Ciya, Elis dan Kiki dari pada harus begini. Maaf Bu." Pintaku, sebelum meninggalkan kamar ibu. Tapi ibu acuh, tak peduli dengan itu semua.

__ADS_1


Kakiku gemetar, sekuat tenaga aku berusaha melangkahkan agar ibu tak perlu lagi terbebani dengan melihat wajahku. Saat adik-adikku menahan langkahku, ibu malah marah pada mereka. Tak ingin melihat mereka dimarahi ibu, makanya aku segera pergi.


__ADS_2