
"Tira ... Tira ... Tira!" suara mas Saka masih sempat terdengar memanggil namaku, namun semakin lama menghilang bersamaan dengan laku taksi yang aku tumpangi. Aku memutuskan tak mengintip lewat kaca spion sebab tak mau menambahkan luka di hati sendiri.
Entah ini sudah berakhir atau tidak, tapi yang jelas aku sudah menyerah. Kini giliran mas Saka yang berjuang jika ia ingin pernikahan ini bertahan atau memang harus berakhir sampai di sini.
Langit ibukota memang sudah gelap, namun masih banyak nyala lampu yang hidup sehingga semua tak terlihat begitu gelap. Mas Saka memang belum menjatuhkan talak, namun aku tak harus mengakhiri semua perjuangan hidupku. Yang jelas, hidupku harus terus berlanjut meski kini statusku gak jelas.
Aku sudah berhenti dari kantor mas Saka, tak mungkin juga untuk kembali ke sana. Hubungan pernikahan saja tidak jelas, apalagi status sebagai karyawan. Meski begitu aku tak menutup komunikasi dengan mas Saka, ketika ia menghubungi aku memberikan jawaban. Aku tak mau berpikir seperti anak-anak. Apapun masalahnya harus diselesaikan, hanya saja sebelum bertemu lagi, aku memintanya untuk berpikir ulang sebab tak mau lagi kejadian seperti kemarin. Kami berdua sama-sama harus sudah mantap, mau lanjut atau berakhir saja. Tentunya dengan segala konsekwensinya.
Kami sama-sama sepakat, akan bertemu sepekan lagi. Saat kepala kami sudah sama-sama dingin. Bicara harus dengan pikiran tenang agar tak menyesal dengan segala keputusan nantinya. Toh keputusan yang didasarkan dengan emosi hanya akan berakhir dengan penyesalan.
Untuk melanjutkan hidup yang belum jelas ini, aku dan Amanda sama-sama sepakat untuk memulai usaha baru. Kami berdua dengan segala keterbatasan akan menjadi freelance untuk IT. Amanda sebagai operatornya sesuai bidang, sementara aku teknisinya. Hasilnya akan kami bagi tiga bagian. Satu untuk aku, satu untuk Amanda dan satu lagi untuk operasional. Termasuk untuk membayar sewa apartemen Amanda karena kami memutuskan di sinilah untuk sementara waktu kami akan berkantor.
Hari pertama, sudah banyak yang mengajukan untuk dibuatkan program olehku. Ada juga yang menawarkan pengajuan agar aku mau bergabung dengan perusahaan mereka. Tapi aku menolaknya, aku memilih tetap setia bekerja sama dengan Amanda, selain untuk membantu perekonomiannya, juga saat ini dengan status yang belum jelas, aku butuh bekerja dengan jam bebas.
"Kita ambil ini ya Ra. Totalnya ada tiga. Kamu sanggup?" tanya Amanda, sambil memperlihatkan tiga perusahaan yang rata-rata kecil. Fee yang ditawarkan juga dibawah rata-rata, hanya saja beban kerjanya juga tidak besar. Aku mengiyakan saja. Semua sudah ku serahkan pada Amanda. Aku percaya ia tahu bagaimana kondisiku saat ini. "Oke, aku transfer ke kamu lima puluh juta, sisanya untuk aku dan korporasi kita " ucap Amanda. Lalu ia mengirimkan semua data yang harus aku kerjakan ke emailku.
Seminggu lagi aku dan mas Saka akan bertemu, entah apa keputusannya nanti. Aku sudah ikhlas, sama inhlasnya dengan apa yang terjadi dimasa lalu. Bukankah semuanya sudah selesai oleh Allah.
"Fiuff." aku menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya. Untuk mengurangi sesak di dada. Tapi tetap saja sesak. Entah kenapa air mata itu akhirnya keluar juga. Dari dulu tak ada sedikitpun kebahagiaan yang aku rasakan, tapi aku menerima semuanya, meski begitu, tetap saja rasanya sakit.
__ADS_1
"Ra, kamu enggak apa-apa?" tanya Amanda yang menyadari kalau aku menangis. "Pasti teringat mas Saka lagi?"
"Enggak, hanya bertanya-tanya, kira-kira bagaimana akhir perjalanan dari perempuan ini nantinya." Kataku. Sambil menatap lurus kedeoan, seolah mencari jawaban untuk tanyaku.
"Kalau kamu masih mengharapkan pernikahan ini, perjuangkan Ra." Kata Amanda.
"Tapi kalau dia tidak menginginkan aku? Apa tetap harus diperjuangkan? Aku tak mau memaksa Man, aku tak mau membuatnya semakin buruk dengan perasaan curiga terus." Kataku. "Mungkin memang harus melepaskan kalau ia memang mau semuanya berakhir. Kalau ia mau bertahan, ia tak akan membiarkan aku menanti sendiri."
***
Aku dan mas Saka akhirnya bertemu. Kami kini sudah ada di apartemennya. Aku siap mendengarkan keputusannya.
"Kenapa kamu harus menjadi perempuan kedua," katanya.
"Tira ... aku tak bisa," katanya
Aku mengangguk. "Tak mengapa, mas. Aku memaklumi." Kataku.
"Ra, kenapa?" ia masih bergulat dengan pikirannya sendiri. "Bisakah kamu memberikan aku kesempatan lagi untuk berpikir."
__ADS_1
"Tidak mas, hari ini semuanya harus jelas."
"Aku mencintaimu tapi aku ...."
Aku tersenyum, memandangnya tanpa kedip.
"Tira Pratiwi, aku talak kamu. Mulai sekarang kamu bukan istriku lagi." kata mas Saka.
Aku menutup mata sambil mengucapkan hamdalah. Meski pahit, gagal menikah untuk kedua kalinya namun setidaknya statusku jelas. Tak digantung seperti sepekan lalu. Aku segera menarik koper yang memang sudah berada di dekatku. Lalu mengucapkan salam, meninggalkan mas Saka yang menangis kemudian menjadi histeris sebab aku pergi meninggalkan dirinya.
"Hidup ini masih panjang Tira, kalau di sini tak ada kebahagiaan untukmu, maka kamu harus cari ditempat lain, bukan membiarkan hidupmu hancur!" aku memotivasi diri sendiri. Sepanjang perjalanan pulang menuju apartemen Amanda aku berusaha tak menangis dengan bersenandung sambil menatap jalanan kota Jakarta. Namun tetap saja pada akhirnya air mata itu tumpah ketika sudah berada di tempat Amanda.
"Kenapa harus menikahi sih kalau akhirnya hanya dalam hitungan hari diceraikan." kata Amanda.
Aku memaklumi keputusan mas Saka. Ia teramat mencintai aku hingga terobsesi untuk memiliki aku seutuhnya. Ia memandang aku terlalu tinggi hingga ketika keluarganya mengingatkan akan aib masa laluku, rasa cemburunya membuatnya tak bisa menerima masa laluku yang bukan haknya.
"Lalu sekarang bagaimana, Ra?" tanya Amanda.
"Ya kita lanjutkan hidup kita. Ayo kita besarkan AT korporasi bersama. Mungkin sekarang saatnya kita berjuang jadi orang kaya agar nanti benar-bemar mendapatkan cinta yang sejati " kataku pada Amanda.
__ADS_1
Malam ini, meski sebenarnya sedih, aku dan Amanda membuat pesta kecil-kecilan untuk usaha baru kami berdua. Mulai sekarang, aku yang dikecilkan mereka oleh kesalahan yang tak aku sengaja, akan membuktikan bahwa aku pantas untuk dihargai sebab aku juga tak ingin menjadi buruk seperti pikiran mereka.
Tak ada lagi yang boleh meremehkan aku. Mereka harus bisa menghargai aku sebab aku bukan seperti yang mereka tuduhkan. Tira Pratiwi yang lama telah pergi bersama seluruh kepedihanku, sekarang yang ada adalah Tira yang baru. Tira yang tak akan pernah membiarkan dirinya jatuh ke tangan laki-laki pengecut. Tira yang tak mau dibuat menangis lagi. Air mataku sudah kering, selanjutnya aku hanya ingin bahagia!