
"Tiket dari mana itu? Kenapa bisa ada sama bapak? Kenapa ada nama bapak juga? Duh, ini bagaimana sih ceritanya?" Aku menggaruk kepala yang tak gatal, melihat pak Saka yang hanya tersenyum-senyum. Ia membuatku semakin kebingungan.
"Sudah, jangan banyak tanya, nikmati saja perjalanannya. Kita akan duduk berdampingan selama tujuh sampai delapan jam. Jadi nanya-nanyanya nanti saja. Sekarang saya mau tidur dulu, ngantuk, semalaman berburu tiket kereta api!" ucap pak Saka, ia lalu menutup kedua matanya. Tak berapa lama terdengar suara dengkuran yang amat pelan, nyaris tak terdengar jika tak benar-benar berada di sampingnya.
Aku tersadar, ini apa sih? Dia mengatakan semalaman berburu tiket kereta api? Berarti ia sudah merencanakan ini semua, atau jangan-jangan ia tahu kalau aku akan pergi ke Yogyakarta jadi ia ikut sekalian. Tapi kenapa? Untuk apa? Ini juga tidak mungkin sebuah kebetulan sebab aku tahu jadwal pak Saka kedepan, tak ada sama sekali klien di Yogyakarta. Lalu untuk apa ia ikut?
"Ahhh, kenapa juga aku harus memikirkannya. Ia saja tak mau memberitahu. Lebih baik aku ikutan tidur!" ucapku, lalu memejamkan mata.
Perjalanan ini adalah bentuk pelarian diri yang aku lakukan atas penolakan orang-orang yang aku sayangi. Demi kebahagiaan mereka, aku rela menjauh, melanjutkan kehidupan baru meski sebenarnya sangat sedih sekali. Seperti di campakkan. Padahal aku sangat membutuhkan mereka di sisiku, terutama dengan masalah yang ku hadapi. Apa sebegitu tak berharganya diriku? Yang menginginkan aku hanya orang-orang yang terpana dengan rupa dan membutuhkan tubuhku saja, tak lebih. Tak ada yang benar-benar tulus padaku. Antara sadar dan tidak, menuju tertidur, tanpa sadar aku menangis.
Siapa sebenarnya aku? Jogja adalah kota yang ku pilih, sebab dari ayah sedikit cerita ku dapatkan tentang ibu kandungku. Ibu Ajeng Anyelir. Ia tinggal di Jogja. Aku ingin bertemu dengannya. Tak ada tujuan yang berarti selain ingin tahu perempuan seperti apa yang sudah melahirkan aku. Setelah itu akupun belum punya rencana lain. Akan ku jalani mengalir saja.
"Tolong, jangan biarkan aku sendiri." aku bicara sambil terisak-isak. Sementara tanganku berusaha menggapai.
"Ra, Tira ... bangun!" seseorang mengguncang pekan lenganku. "Tira, kamu mimpi?" tanya pak Saka.
"Ha, oh nggak. Aku ...." sisa air mata masih ada di pipi, buru-buru aku menyekanya. Bahkan saat tertidur pun rasa sedih itu tak bisa aku hindari.
"Tira, aku nggak akan pernah meninggalkan kamu." kata pak Saka. Membuatku bingung.
"Hah, kenapa pak?"
__ADS_1
"Saya tahu bagaimana perasaan kamu saat ini. Pasti kamu sangat sedih. Saya janji akan menemani kamu, Ra."
"Bapak bicara apa? Saya baik-baik saja. Lagipula kenapa harus bicara seperti itu? Tak ada yang perlu dikhawatirkan dari saya!" aku menegaskan. "Lagian untuk apa bapak ke Jogja? Kenapa kita bisa duduk di kursi yang bersebelahan? Ini pasti bukan seperti yang di novel-novel itu, kan?"
"Novel-novel yang mana? Saya tak suka membaca fiksi."
"Oh ya? Lalu kenapa bisa ada di sini?"
"Untuk kamu. Untuk menemani kamu. Seperti yang kamu katakan dalam mimpi tadi, kamu tak ingin ditinggalkan sendirian. Makanya saya ada di sini." pak Saka menceritakan padaku tentang rencanaku yang sudah diketahuinya. Ia melihatku memesan tiket kereta dari komputer kantor. Kami memang berada satu ruangan. Memang cukup aneh, direktur dan asistennya, tapi begitulah perintah pak Saka. Aku bisa apa.
Setelah melihat tiket itu, pak Saka juga memesan tiket yang sama, namun sayangnya sudah ada yang membeli tiket bangku sebelahku. Makanya ia harus berjuang hingga tadi malam untuk mendapatkan tiket tersebut.
"Untuk apa ikut dengan saya?" tanyaku.
"Cinta?" aku tersenyum kecut. "Saya sudah tidak percaya cinta lagi, pak. lagian kenapa juga harus membahas cinta. Maaf pak, sebaiknya bapak kembali ke Jakarta saja sebab saya sudah tidak tertarik membahas tentang cinta-cintaan. Lagipula kita sudah tidak ada urusan, saya sudah meletakkan surat pengunduran diri di meja bapak."
"Tira ... tak mengapa sekarang kamu belum mencintai saya. Saya menerimanya. Tapi itu tak akan mengubah keputusan saya untuk tetap mencintai kamu. Sampai kapanpun!"
"Kenapa harus melakukan hal yang sia-sia begitu?"
"Karena saya sangat yakin akan Tuhan yang membolak-balikkan hati manusia. Hari ini mungkin Dia belum membuat saya ada di hati kamu, tapi nanti ... Siapa yang tahu " lagi-lagi ia melempar senyum.
__ADS_1
"Saya sudah terlalu lelah dengan semua ini."
"Saya akan menjadi sandaran kamu, kita hadapi semuanya berdua. Ya?"
Aku menggeleng, membuang pandangan keluar jendela. Entah kenapa, hati ini enggan bicara tentang cinta lagi. Sudah terlalu sakit. Pertama kali jatuh cinta namun harus merasakan dampak yang luar biasa. Rasanya aku tak akan sanggup.
"Kalau begitu kita mulai perlahan saja. Saya tak akan pernah memaksa kamu untuk mencintai saya, tapi izinkan saya untuk berada di samping kamu. Setidaknya, ada seseorang yang bisa membersamai kamu." kata pak Saka.
"Pak, setelah ini saja saya tidak tahu bagaimana hidup saya. Akan melakukan apa? Harus berbuat apa? Sungguh, saya benar-benar tak punya rencana apapun. Saya sudah tak bersemangat menjalani semuanya karena rasanya semuanya hanya sia-sia saja. Jadi jangan meletakkan harapan apapun pada saya karena saya saja sudah sangat putus asa!" kataku, dengan dada yang terasa sesak, serta mata berkaca-kaca.
Bagaimana tidak, usai melewati semua masalah ini, dimana puncaknya lagi-lagi aku tetap tidak diterima keluarga. Bahkan aku dicurigai akan merebut mas Bagus dari Ciya.
Andai mereka tahu, hidupku saja sudah ku pertaruhkan untuk mereka.
Lagipula jika benar aku akan merebut mas Bagus, harusnya sejak awal aku menerima lamarannya. Tapi demi Ciya aku merelakan. Sayangnya mereka malah beranggapan begitu.
"Pasti sakit sekali. Tapi percayalah, Ra. Nanti kamu akan memetik buah kesabaranmu." ucap pak Saka. "Menikahlah dengan saya, agar kamu bisa kembali ke keluargamu. Saya sangat yakin kamu tak rela melepaskan mereka."
"Saya tak mau mereka menjauhi saya sebab saya menyayangi ibu. Saya tak pernah membenci ibu, saya juga tak pernah berpikiran buruk apalagi akan menikung Ciya. Mereka adalah hidup saya." kataku, lagi-lagi aku tak mampu membendung air mata.
Pak Saka memberikan sapu tangannya padaku, tak bisa aku tolak sebab air mata yang sudah terlanjur banjir.
__ADS_1
"Saya takut ... Memberi bapak kesempatan. Saya takut, ketika saya sudah terlanjur berharap, bapak juga akan meninggalkan saya. Karena itu, biarkan kita tetap begini. Biarkan kita menjadi dua orang yang asing saja. Sebab saya tak mau bapak pergi!" kataku, dengan suara parau.
"Saya nggak akan meninggalkan kamu Tira. Itu janji saya!" ia menatapku dengan penuh cinta, namun semuanya membuatku begitu takut. Apakah ia benar untukku, atau hanya akan sementara, dan meninggalkan luka?