Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Bertemu Abah dan Ibu


__ADS_3

Sabtu pagi. Aku dan bang Andre berusaha berangkat ke Depok, ke rumah ibu. Kami ditemani mbak Dila yang dipesanin ibu untuk menemaniku. Ibu tidak mau kedatangan kami berdua jadi pembicaraan keluarga nantinya. Bagaimana pun Marwah keluarga harus selalu dijaga. Apalagi aku masih punya tiga adik perempuan. Begitu kata ibu.


Selain bertemu keluarga ibu, ada Abah juga dengan istrinya. Ini akan jadi celah untuk Abah menyalahkan ibu. Menganggap ibu tak becus menjaga anak-anaknya meski sebenarnya kami tak melakukan apapun.


"Mau belanja oleh-oleh dulu, nggak?" Tanya bang Andre, sambil melirik dari kaca sebab aku dan mbak Dila duduk di belakang.


"Enggak usah bang. Semalam sudah belanjanya." Kataku. Agak kagok sebab ada mbak Dila yang diam mematung seperti satpam.


"Tapi aku belum beli oleh-oleh apapun." Katanya lagi.


"Enggak apa-apa, bang. Nggak wajib kok." Kataku.


"Hem," mbak Dila berdehem, membuat kami sama-sama diam.


Perjalanan dari kosanku menuju rumah ibu selama empat puluh menitan hanya diisi dengan diam. Kami hanya bicara sesekali, itupun seadanya saja. Lagi-lagi karena tidak nyaman dengan kehadiran mbak Dila yang memilih diam seribu bahasa. Kakak sepupuku itu sepertinya tak bersedia beramah tamah dengan bang Andre. Waktu aku protes, katanya feeling-nya nggak baik tentang lelaki yang sudah menjadi kekasihku itu selama tiga bulan ini. Lagipula aku dan bang Andre belum menikah, jadi tak baik juga mbak Dila beramah-ramah dengan lelaki asing.


Sampai di rumah, ibu langsung menyambut. Rupanya sudah ada Abah, Tante Utami istrinya Abah dan Gisel, anak tiri Abah. Aku menyalami mereka meski disambut dengan dingin. Bahkan Abah yang bahkan sudah berapa tahun tak pernah bertemu, tak nampak rindunya. Dingin, seolah aku orang asing yang tak penting baginya.


"Lho, mana keluarga calon mertua kamu Ra? Kenapa hanya datang bertiga?" tanya abah.


"Orang tua saya masih di Singapura, pak. Kondisi kesehatannya belum membaik, makanya tidak bisa datang saat ini." Bang Andre menjelaskan. "Nanti rencananya setelah ayah saya keluar dari rumah sakit mereka akan langsung menemui bapak dan ibu." Kata bang Andre lagi.


"Oh begitu, tapi selanjutnya datang ke rumah saya saja." cetus Abah.


Tak ingin berbasa-basi lebih lama lagi sebab situasi yang memang tidak nyaman, Abah langsung mewawancarai bang Andre. Sikapnya yang awalnya dingin berubah hangat waktu tahu kalau bang Andre adalah pegawai BUMN dengan jabatan cukup tinggi. Abah juga sampai mempertanyakan gaji bang Andre, meski tidak nyaman akhirnya dijawab juga.


"Gaji saya totalnya enam puluh juta setiap bulannya, pak. Tanpa ada potongan karena saya sudah tidak punya cicilan." jawab bang Andre. Tentu saja membuat aku, ibu dan adik-adik tidak enak hati.

__ADS_1


"Bagus-bagus. Saya suka sama kamu karena tidak gampang punya hutang." Abah melanjutkan wawancaranya.


Selama itu kami banyak mengelus dada sebab secara gamblang Abah menunjukkan harapannya agar setelah menikah bang Andre ikut membantu perekonomian keluarga Abah sebab sekarang Abah sudah tidak bekerja, Sementara ia masih punya tanggungan yaitu adik tiriku, Alfi. "Jadi kapan kalian menikah?"


"Jika diizinkan secepatnya pak." Kata bang Andre.


"Baik kalau begitu, bagaimana kalau awal bulan nanti. Kamu jangan lupa bawa orang tua kamu. Bagaimana?" tanya abah.


"Tapi sebelumnya saya minta izin, pak. Mungkin kami akan menikah secara siri dulu sebab saya masih ada kontrak dengan kantor. Baru selesai enam bulan lagi. Setelah itu saya siap menikah secara hukum." Kata bang Andre.


"Hmmm begitu ya. Tidak masalah sih, asal sesuai saja dengan maharnya " Kata Abah.


"Maaf, tapi saya keberatan." Kata ibu. "Lebih baik diundur saja sampai bisa menikah secara agama dan hukum."


"Lho, kenapa harus diundur-undur. Apa bedanya nikah agama atau hukum. Yang penting kan sah dulu secara agama. Toh nanti juga akan dinikahin secara hukum jadi nggak usah diundur. Kalau nak Andre bersedia nikah siri, pekan depan juga bapak bersedia menikahkan kalian." kata abah.


"Nah itu bagus. Lagian kenapa juga harus ditunda-tunda. Saya khawatir kalau kalian sering bersama padahal belum halal. Namanya setan kan, kapan saja bisa menggoda." Sambung Abah


"Baik pak, saya siap!" Tegas bang Andre.


Sanggahan ibu diabaikan oleh Abah dan bang andre. Aku sebenarnya tak enak hati pada perempuan yang sudah melahirkan aku, tapi tak bisa berkata apa-apa. Membantah Abah sama saja menggali kubur sendiri. Bisa-bisa Abah tak mau lagi menikahkan aku.


"Baiklah, pekan depan kalian menikah. Tapi jangan lupa ya nak Andre, calon menantu bapak, kalau kalian sudah halal maka kamu harus transfer bantuan untuk bapak. Berapa kamu akan membantu bapak?" tanya abah.


"Kalau lima juta bagaimana, pak?" Tanya bang Andre.


"Tujuh bagaimana? Sekarang apa-apa mahal." Tante Utami menimpali.

__ADS_1


"Nah itu, tujuh bagaimana Nak Andre?" Abah balik bertanya.


"Baik pak, InshaAllah tak ada masalah " Kata bang Andre.


"Lalu maharnya bagaimana?" tanya abah lagi.


"InshaAllah emas lima puluh gram dan apartemen pak." jawab mas Andre.


"Nah bagus itu. Nanti apartemennya bisa kalian tempati, emasnya serahkan ke Abah ya Ra." Ini pertama kalinya Abah bicara dengan suara lembut padaku.


Jujur, mendengar tawar menawar ini rasanya harga diriku hancur. Abah benar-benar memperlakukan kami seperti properti. Hanya karena Abah ayah kandung kami maka ia bisa berbuat seenaknya. Padahal dari dulu Abah tak pernah bertanggung jawab kepada kamu. Aku yang ingin protes langsung dihentikan ibu agar tak terjadi keributan.


💐💐💐


"Harusnya Abang nggak perlu melakukan semua itu." kataku, sebelum bang Andre pulang.


"Enggak apa-apa Ra. Toh Abah kamu juga akan jadi orang tuaku juga. Yang penting kita menikah." Kata bang Andre.


"Tapi bang, jujur aku malu. Apa sebaiknya batalkan saja."


"Ra, kok ngomongnya begitu?".


"Habisnya aku ngerasa nggak enak, Bang."


"Jangan gampang membatalkan rencana baik, Ra. Kamu nggak tahu bagaimana hancurnya aku kalau pernikahan kita gagal. Aku sudah berharap bisa menjadi suami kamu sejak awal kita menjalin hubungan Ra. Jadi, apapun tantangannya nggak akan membuat aku mundur. Apalagi hanya perkara yang."


"Tapi aku takut Abah menjadi-jadi, Bang. Abang nggak tahu saja karakter Abah. Kalau sudah pernah dapat satu kali biasanya suka keterusan dan nggak tahu diri."

__ADS_1


"Ra ... enggak apa-apa. Yang penting kita tetap bersama." Bang Andre meyakinkan bahwa kalau berdua kami bisa melewati semuanya. Apapun rintangannya nggak boleh menggoyahkan keyakinan kami untuk menikah.


__ADS_2