
Penolakan yang dilakukan Amanda tak menyurutkan langkahku untuk memberi hukuman pada dua orang Bandot tua itu. Setiap waktu aku berpikir keras, akibatnya, pekerjaanku ikut keteteran. Pak Saka sampai menegur karena beberapa kali aku salah memasukkan data.
"Kalau belum siap kerja, pulang saja Tira. Aku tak mau kamu terus mengulangnya sampai berkali-kali. Hanya buang-buang waktu." tegas pak Saka.
"Eh iya, maaf Pak." Aku beranjak kembali menuju meja kerja, berusaha konsentrasi namun gagal lagi. Akhirnya karena tak mau ikutan kesal, pak Saka mengajakku istirahat. Ia memesan dua porsi makan siang lengkap dengan kopi es.
"Aku tahu ini berat untukmu." Pak Saka membuka pembicaraan saat hidangan sudah ada di meja. "Tapi mau sampai kapan seperti itu, Ra? Kamu justru akan stage, gak akan pernah naik kelas kalau kamu tidak bisa ikhlas."
Ikhlas? Aku diam, mencerna satu kata yang berarti dalam untuk hidupku ke depannya. Benar jika aku terus memelihara dendam ini maka aku sendiri pun akan ikut rusak, tapi untuk rela itu tidaklah mudah.
"Jangan biarkan dirimu terbakar kebencian sendiri, Ra. Kalau kamu ikhlas, Tuhan pasti akan membalasnya. Aku yakin kamu tahu semua itu. Kamu pasti lebih paham dibandingkan aku." kata pak Saka lagi.
"A ... aku nggak tahu. Aku hanya ingin hidup tenang." kataku, dengan kepala tertunduk sebab semua yang dikatakan pak Saka benar.
"Kalau begitu ikhlaskan."
"Tapi,"
"Ikhlas itu ... tidak ada taoi-tapinya, Ra."
Kenapa masih merasa tak adil padahal semua yang terjadi atas kita atas izin Allah. Semuanya adil untuk semua makhluknya. Ikhlas, hanya itu jalan untuk mendapatkan ketenangan itu. Bukankah memang begitu hidup di dunia ini, tak semuanya yang kita inginkan bisa kita dapat, sebab di sini hanyalah tempat pengujian saja.
"Ya, saya akan mengikhlaskan, pak." Kataku.
Ia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Mungkin rasanya sudah, tapi akan nyaman di hati.
***
Ini adalah hari pertama setelah aku merelakan semuanya. Seperti yang dikatakan pak Saka, aku menjadi lebih tenang, bahkan dibandingkan sebelum kejadian itu. Bahkan tadi malam tak ada lagi mimpi buruk.
Hadapi semua dengan ikhlas, Tira! Aku memotivasi diri sendiri sembari menatap langit dari balik jendela kamar apartemen. Tiba-tiba Hp milikku berbunyi. Pesan dari mas Bagus.
[Tira, nanti sore, pulang kerja, bisa ngobrol sebentar?] pesan mas Bagus.
__ADS_1
[Ya mas.] balasku. Aku menebak ia akan membicarakan perkembangan kasusku karena kini semuanya sudah aku serahkan pada Bu Widi.
***
Jam makan siang aku dikejutkan dengan kedatangan Ciya. Ia mengajakku makan siang bersama, katanya ia ingin menceritakan sesuatu padaku. Sebenarnya aku sudah ada janji dengan pak Saka, tapi ku putuskan untuk makan siang dengan Ciya saja, apalagi aku juga penasaran bagaimana kabar ibu saat ini.
"Kamu mau ngomong apa?" Tanyaku, sambil menikmati kwetiau dan segelas es teh pesananku.
"Aku ... jatuh cinta, kak." kata Ciya
"Oh ya? Siapakah ia?" aku menatap Ciya, ikut senang sebab akhirnya ia bisa move on dari putra kyai yang pernah dibahas ibu.
"Tapi apa kakak akan merestui?"
"Tentu saja jika ia adalah lelaki yang baik dan bisa membahagiakan adik kakak."
"Aku yakin ia baik dan kakak juga pasti akan membenarkan Ciya."
"Mas Bagus."
Aku diam, beradu pandang dengan Ciya yang rupanya juga tak melepaskan aku dari pandangannya. Ia benar-benar menyebut mas Bagus. Lelaki yang disukai Ciya adalah mas Bagus. Sebenarnya tak masalah, tapi ada perasaan tak nyaman mengingat bagaimana kasus mas Bagus melamar dulu yang berakhir dengan pertengkaran dengan keluarga mbak Dila.
"Kamu tahu kan, mbak Dila senang sama mas Bagus?" kataku. "Maksud kakak, MMM ..."
"Ya, aku tahu kak. Dan menurutku tidak ada masalah. Itu hak mbak Dila, yang terpenting kan siapa yang disukai mas Bagusnya. Asalkan tidak bersiqng dengan kakak, aku sih enggak masalah." kata Ciya dengan percaya dirinya.
"Terus mas Bagusnya, juga suka?"
"Itu dia masalahnya. Qku enggak tahu bagaimana perasaan mas Bagus. Yang aku harapkan ia juga membalas perasaan aku, kak. Sekalian aku mau minta tolong sama kakak."
"Apa Ciy?"
"Tolong tanyakan pada mas Bagus, bantu juga jadi jembatan menyatukan kami."
__ADS_1
"Menyatukan? Tapi ...."
"Tolonglah kak, siapa tahu dengan membantu menjodohkan aku dan mas Bagus, bisa meluluhkan hati ibu karena saat ku ceritakan, ibu benar-benar senang dan sangat berharap mas Bagus bisa jadi menantunya. Kata ibu, mas Bagus akan menjadi obat pelipur laranya."
"Benarkah?"
"Ya kak."
Jika itu memang bisa membuka pintu hati ibu, aku pasti akan melakukannya. Mungkin juga ini pertanda padaku senja tadi pagi mas Bagus mengajak ketemu sore ini. Semoga saja aku berhasil melaksanakan misi ini agar aku bisa ikut mengobati kekecewaan ibu secara tidak langsung.
***
Ku pikir pertemuan ini hanya aku, mas Bagus dan Bu Widi, tapi ternyata aku salah. Tak ada Bu Widi di sini, melainkan mas Bagus dan ibunya. Aku agak sungkan, tapi melihat ibunya yang begitu hangat menyambutku, membuatku jadi nyaman.
"Bagaimana kabar Tira? Tante sudah dengar semuanya dari Bagus. Kamu pasti sangat menderita sekali, harus menjalani ujian hidup yang berat dan tak habis-habisnya." ucap Tante Sonia, ibunya mas Bagus.
"Alhamdulillah baik Tante, berkat bantuan mas Bagus juga makanya saya bisa melewati semua dengan aman." Kataku.
Kami bertiga makan malam, sesekali bercerita tentang masa kecil. Tante Sonia sepertinya punya memori masa kecilku, ia banyak menceritakan tentang aku.
"Tante itu dari kecil gemas sekali sama Tira. Sudah cantik, sopan, santun, pintar lagi. Sampai Tante pernah mencandai ibu kamu mau ngambil kamu mantu." kata Tante Sonia.
Punya ibu mertua seperti Tante Sonia yang sangat humble pasti sangat menyenangkan. Apalagi ia yang tak punya anak perempuan sepertinya sangat menyayangi anak perempuan. Makanya aku agak tenang membayangkan nanti Ciya akan menjadi bagian dari keluarga ini. Keluarga yang hangat, akan menggantikan ruang kosong yang pernah ada di hati adikku. Semoga saja aku berhasil menjalankan misi ini.
"Oh iya Tira, sebelumnya, Tante ingin minta maaf kalau nanti apa yang Tante sampai kan membuat kamu tidak nyaman. Tapi apapun itu, kamu tak boleh segan.l dengan Tante, apalagi hanya karena kabar buruk yang sudah nyata tidak benar itu. Tante ingin menyampaikan sesuatu. Boleh, kan?"
"Oh, tentu boleh Tante. Apa itu?"
"Kamu dan bagus itu kan sudah dewasa. Dulu Tante pernah melamar kamu pada kakek dan nenekmu walau pada akhirnya di tolak. Tante menyadari kala itu mungkin kamu belum mengenal Bagus, tapi sekarang kan kalian sudah saling tahu. Bagus juga sudah menunjukkan kepeduliannya pada kamu. Semua itu karena ia menyukai kamu, Ra."
Uhuk. Uhuk. Uhuk. Aku terbatuk, kaget dengan pernyataan Tante Sonia tadi. Suka? Mas Bagus menyukai aku? Tapi kan .... lalu bagaimana dengan Ciya? Aku tak bisa berkata-kata, hanya bisa diam sambil menahan sesak.
Ujian apa lagi ini Tuhan?
__ADS_1