Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Masukan Dari Mas Bagus Dan Pak Saka


__ADS_3

"Kamu apa kabar, Tira? Setelah kejadian kemarin, pastinya melewati semua ini tidaklah mudah. Kamu jangan patah semangat ya. Harus kuat. Aku yakin kamu bisa. Kamu nggak salah di sini, jadi kamu harus berani menghadapinya, buktikan pada semuanya kalau kamu nggak salah." mas Bagus membuka pembicaraan. "Ketika tahu kamu akan menikah, sejujurnya aku kaget, Tira. Aku belum bisa menerima, hingga terus mengikuti perkembangannya. Tibalah hari itu, aku yang sudah membulatkan tekad untuk merelakan kamu tapi tiba-tiba mendapat kabar dari salah satu saudara kita yang hadir di pernikahan kamu , ia menceritakan semua. Aku tak percaya kalau kamu seperti itu, aku yakin ada yang salah dan ternyata dugaanku benar. Kamu tak mungkin serendah itu, meski kita tak pernah bicara sebelumnya, tapi aku sangat mengenal kamu, Ra, aku sudah mencari tahu tentang kamu dalam diam sejak kamu masih di bangku SMA, aku tahu kamu adalah perempuan yang istimewa. Tira, ayo buktikan pada semua orang. Aku akan membantu kamu, kita bungkam mulut-mulut mereka yang sudah berani merendahkan kamu."


Aku diam, hanya bisa menundukkan kepala. Tak menyangka kalau mas Bagus sejauh itu. Air mataku perlahan turun. Ada sesal, kenapa aku tak jatuh cinta saja padanya, kenapa harus pada seorang Andre Winata.


"Aku akan kenalkan kamu pada seorang pengacara, aku akan memintanya untuk mendampingi kamu menyelesaikan semua ini. Ya? Aku juga akan bicara pelan-pelan pada ibumu." katanya lagi.


"Terimakasih, terimakasih banyak," aku hanya bisa mengucap terimakasih tanpa bisa menatap wajahnya. Sungguh, setelah hati ini hancur berkeping-keping, sekarang Tuhan mengirim orang-orang baik yang akan membantu memulihkannya. Begitu baiknya Tuhan padaku.


"Aku tak bisa berlama-lama, kamu sabar ya " Ia menguatkan aku sebelum akhirnya pamit pergi.


Baru saja mobil mas Bagus meninggalkan halaman kosan, tiba-tiba mbak Dila keluar. "Ngapain kamu dengannya? Apa yang kalian bicarakan? Tira, kamu itu harusnya tahu diri, kamu sudah menikah jadi jangan dekat-dekat lagi dengannya. Mengerti!"


"Kenapa sih mbak? Yang mendekati itu mas Bagus, bukan aku. Lagipula tentang pernikahan itu, tadi mas Bagus juga sudah ngasih tahu, kan, kalau pernikahan itu bisa dibatalkan, aku tak akan berstatus janda!" aku menegaskan kembali apa yang dijelaskan tadi.


Tentu saja penjelasan ku tak bisa diterima oleh mbak Dila, justru ia semakin marah. Ia menyuruhku untuk tak lagi mendekati mas Bagus. "Mas Bagus itu milikku, Ra. Kamu sudah tentukan nasibmu sendiri. Jadi jangan coba-coba kembali menikung aku!" tegas mbak Dila, lalu ia pergi ke kamarnya.


Aku hanya bisa melongo, tak paham dengan manusia satu itu. Jelas-jelas mas Bagus yang menawarkan bantuan, bukan aku yang meminta.

__ADS_1


💐💐💐


Serangan-serangan dari netizen masih saja ganas. Apalagi dengan tulisan baru dari akun saudara mbak Lina yang mengatakan kalau aku datang menyerang ke rumahnya hingga ia syok sampai dilarikan ke rumah sakit, sementara anak-anaknya histeris dengan perkataanku yang mengatakan sudah mencuri ayah mereka. Aku hanya bisa membaca dengan hati kecewa, kenapa harus menggiring semua berita menyedihkan semua ini.


Ditambah Andre yang tak juga berhenti untuk mengganggu. Ia masih mengiba, memohon agar aku menerimanya. Setiap aku keluar dari kosan, ia selalu menghadang sehingga membuatku tak bisa kemana-mana.


"Kamu harus bergerak cepat, Tira. Kasihan kamunya yang terus menerus dipojokkan, mereka setiap hari terus bergerak sementara kamu hanya diam saja. Jangan berharap kamu akan mendapatkan keadilan kalau kamu nggak mencari keadilan itu sendiri sebab sekarang kamu sudah berada di posisi yang paling bersalah. Image buruk sudah mereka lekatkan pada kamu." kata mas Bagus, saat datang untuk kedua kalinya ke kosan.


"Tapi aku belum tahu harus mengambil tindakan apa.. Sejujurnya aku buntu, mas. Kejadian ini benar-benar tiba-tiba sehingga membuatku tak siap." Kataku.


"Kalau begitu serahkan semuanya padaku, Ra. Besok aku akan mengenalkan kamu pada Bu Widi, ia adalah pengacara yang cukup hebat. Ia adalah rekan kerjaku, kami sudah saling mengenal dan aku sangat yakin ia bisa membantu kamu. Padanya juga sudah ku ceritakan tentang garis besar cerita kamu." Tambah mas Bagus.


💐💐💐


Tak hanya Mas Bagus yang menawarkan bantuan, tapi juga pak Saka. Sama seperti mas Bagus, ia juga menyarankan agar aku memakai jasa pengacara untuk mengurus semuanya. Rupanya ia pun sudah mencari tahu tentangku lewat media sosial dan ia terkaget-kaget sebab apa yang ditulis oleh orang-orang sangatlah keterlaluan, mereka menyudutkan aku bahkan sampai melecehkan aku lewat kata-kata. Ada juga fotoku yang dijadikan meme, dibuat dengan kata-kata yang sangat tidak pantas. Membaca SS dari Pak Saka membuat dadaku berdebar kencang, mataku memanas, langsung keluar air mata. aku benar-benar sedih, bahkan disamakan dengan pela***.


[Aku tak serendah itu,] kataku pada pak Saka lewat panggilan telepon.

__ADS_1


[Ya, aku tahu itu Tira. kamu sabar ya. Aku akan melacak siapa saja pelakunya dan kita akan mempolisikan mereka. sekarang kamu tenang dulu, kita bekerja dalam diam, agar mereka heran!] jawab pak Saka.


Usai berbincang lewat telepon, aku menangis di kamar. Tanganku gemetar. Tremor karena membacanya. Sayangnya aku sangat penasaran hingga kembali membuka media sosial. Apa yang mereka tuliskan itu benar-benar menghancurkan mentalku.


💐💐💐


Cantik banget. Tapi sayangnya salah jalan. Coba jual mahal, pasti bakal dapat suami kaya, tapi jiwa murahannya lebih tinggi sehingga milihnya jalan instan, makanya jadi pela**


Heran dengan perempuan seperti ini. Cantik-cantik tapi bodoh. Padahal katanya kerja di perusahaan benefit, lulusan terbaik pula. Tapi malah begini*.


Masih banyak tulisan yang menusuk hati yang aku sendiri tak mampu menyelesaikan membacanya. Netizen juga sangat lihat, mereka mengupas tuntas semua tentangku, tapi yang dikemukakan yang buruk semua. Yang bahkan sebenarnya tak ada tapi di ada-ada kan oleh mereka.


💐💐💐


"Pokoknya kak Tira harus membuat mereka jera." kata Ciya, yang datang mengunjungi sekaligus menemani aku saat bertemu dengan mas Bagus, Bu Widi dan pak Saka. "Penjarakan mereka, kak. Jangan kasih ampun. Ciya nggak rela kakak terbaik kami dikatakan seperti itu!" ia berapi -api.


"Ya, tenang saja Ciy, kita akan usahakan semuanya. aku dan Bu Widi sudah mengumpulkan semua bukti-bukti. nanti sepulang dari sini kami akan daftarkan laporannya. Kapan perlu semuanya akan kami perkarakan." Kata mas Bagus.

__ADS_1


Sekarang aku bisa agak tenang sedikit meski masih banyak beban yang ku rasakan di dada. Tapi setidaknya aku masih memiliki orang-orang yang peduli padaku.


__ADS_2