
Hati ... relakanlah ia. Aku melepaskan mas Bagus dengan hati yang lapang. Segera membangun benteng yang lebih tinggi agar ia tak bisa masuk ke dalam hati ini. Salah satu cara adalah dengan mulai menyibukkan diri dengan pekerjaan. Bahkan aku bisa menegaskan ketika mas Bagus menanyakan kembali.
Aku dan mas Bagus tak mungkin bersatu. Ia dari keluarga terhormat, ibu sudah berulang kali menyatakan hanya Ciya yang pantas sebab aku sudah punya noda. Meski pernikahanku dengan Andre Winata bisa dibatalkan namun tetap saja aku pernah menikah! Begitu kata ibu, padahal tak ku beritahu isi hatiku padanya.
"Kalau kamu mengizinkan, aku bisa bicara dengan ibumu, Ra. Agar mengizinkan kita menikah." kata mas Bagus untuk terakhir kalinya.
"Tak perlu mas, aku sudah sangat yakin. Sepertinya kita memang tak jodoh. Ada saja halangannya dan dalam hatiku sendiri juga masih menganggap mas sebatas kakak saja. Aku takut kalau tetap dipaksakan malah tak bagus jadinya nanti. Hubungan pertemanan kita malah memburuk" kataku.
"Baiklah, aku tak akan memaksakan. Seperti yang ku katakan Ra, aku tak akan pernah berubah. Akan selalu menjadi teman yang baik untukmu." kata mas Bagus. Ia memaksakan senyum meski senyum itu terlihat kaku. Wajar, saat perasaan kita tak berbalas, pasti akan ada rasa tidak enaknya.
"Lalu bagaimana dengan Ciya, mas?" ku beranikan untuk mempertanyakan nasib adikku. Ku harap ia tak salah paham dan menganggap lancang sebab aku hanya ingin kepastian untuk adikku.
"Maaf Ra, seperti yang kamu katakan, cinta itu tak bisa dipaksakan. Aku juga tak mencintai Ciya, bagiku ia hanya sebatas adikmu. Makanya aku bersikap baik padanya." jawab mas Bagus.
Meski jawaban itu mengecewakan, tapi setidaknya aku bisa punya jawaban untuk Ciya agar ia pun bisa bersikap untuk kedepannya. Aku tak mau ia berharap terlalu lama.
***
Jam makan siang, sebenarnya pak Saka mengajakku makan bersama, tapi aku menolak sebab sudah janjian dengan Ciya. Aku mengajaknya ketemuan untuk membicarakan masalah mas Bagus. Kami kembali bertemu di cafe sebelumnya yang tak jauh dari kantorku.
"Kakak sudah ketemu mas Bagus?" tanya Ciya, wajahnya berseri saat melihatku mengangguk. "Lalu apa katanya?"
"Maafkan kakak Ciy, tapi mas Bagus mengatakan tidak bisa menerima kamu karena ia menganggap kamu hanya sebagai adik." aku tak mau berbasa-basi, langsung ke topik utama sebab tak mau membuatnya menunggu dengan perasaan tak menentu.
"Oh, begitu." Ciya jelas sangat kecewa.
"Kamu anak yang baik Ciy, pasti suatu saat akan mendapatkan jodoh terbaik."
"Kenapa mas Bagus menolak?"
"Karena dia hanya menganggap kamu sebagai adik."
__ADS_1
"Bukan karena aib yang sudah kakak buat?" Ciya menatapku tajam.
"Maksudnya?"
"Kak, semua orang membicarakan kakak. Mereka masih dengan pikiran yang sama bahwa kakak adalah pelakor. Wanita kedua yang merusak rumah tangga orang lain."
"Oh," aku tak bisa berkata-kata.
"Sekarang aku harus merasakan dua kali patah hati karena kakak."
"Maaf, tapi mas Bagus tak begitu."
"Tidak begitu bagaimana?"
"Dia tak pernah peduli dengan kejadian yang sudah menimpaku."
"Itu kan menurut kakak. Lagian kalaupun mas Bagus tak peduli, bagaimana dengan keluarganya?"
"Itu hanya pembelaan diri kakak karena kenyataannya begitu!"
"Nggak."
"Dari mana kakak tahu?"
"Aku sudah bertemu Tante Sonia bahkan mereka yang memintaku menjadi istri mas Bagus." aku benar-benar kelepasan sebab terus disudutkan Ciya. Rasanya menyesal sebab sudah membuka ini sendiri.
"Oh, jadi benar. Ternyata mas Bagus jatuh cinta sama kakak?" ia tersenyum sinis. "Kenapa semua ini tak adil."
"Ciy, jangan salah paham dulu. Kakak ...."
"Sudahlah. Dari dulu aku memang akan selalu kalah dari kakak. Kakak yang paling cantik, kakak yang selalu disuka semua orang. Kakak yang terbaik, kakak yang paling pintar. Pokoknya semuanya kakak kakak dan kakak!" Ciya berteriak histeris hingga mengundang perhatian pengunjung cafe.
__ADS_1
"Ciy, pelan kan suara kamu atau semua orang akan melihat ke sini. "
"Biarkan saja, biarkan mereka melihat kita. Biar semuanya tahu, bahkan meski kakak sudah punya aib yang memalukan kakak tetap saja masih menang dibandingkan aku!" ia masih sangat emosi. "Benar-benar tidak adil!"
"Ciy, kendalikan diri kamu sendiri. Jangan sampai menyesal belakangan!" aku masih berusaha mengingatkan. Tapi ia tetap keras kepala, terbawa emosi.
"Aku nggak akan menyesal. Sama seperti tidak menyesali saat tahu bang Andre sudah menikah jauh sebelum kakak menikah dengannya!" ucap Ciya dengan lantang.
"Apa maksudmu?" aku tak mengerti.
"Ya, aku sudah tahu bang Andre sudah menikah sebelum kakak tahu. Sebelum istrinya melabrak rumah kita. Aku sudah pernah melihatnya bersama istri dan anak-anaknya di mall. Kala itu ia juga sudah mengaku padaku dan aku janji tak akan memberi tahu kakak."
"Astagfirullah Ciy. Kamu boleh marah sama kakak tapi jangan mengarang cerita seperti itu." kataku.
"Nggak, aku nggak ngarang. Ini semua benar. Aku tahu semuanya, kalau kakak nggak percaya silahkan konfirmasi ke bang Andre. Kami sama-sama sepakat tak akan memberi tahu kakak sampai kalian menikah."
"Kenapa begitu Ciya? Kenapa kamu tega melakukan itu semua pada kakak?" aku benar-benar kecewa padanya, kenapa ia begitu. Selama ini aku selalu berusaha berkorban untuk keluargaku tapi ia tega membiarkan aku terjerumus dalam masalah yang sangat pelik.
"Karena aku iri sama kakak. Aku selalu kalah dibandingkan kakak. Dari dulu sampai sekarang, setiap laki-laki yang aku sukai selalu saja jatuh cintanya pada kakak. Mereka mendekati aku juga hanya karena bisa dekat dengan kakak. Aku berharap kakak menikah dengan bang Andre agar tak ada lagi yang menjadi penghalang aku mendapat cintaku. Tapi sialnya, kakak tetap saja menjadi bayanganku!"
"Ciy, apa hidup ini hanya sebatas cinta saja untuk kamu? Kita ini saudara, kamu adikku dan aku kakakmu. Dalam tubuh kita mengalir darah yang sama. Kenapa kamu berpikir sempit seperti itu. Lagipula demi kamu aku sudah berkorban banyak. Bahkan aku mengabaikan lamaran mas Bagus sebab aku tak mau melukai hati kamu."
"Jadi kamu juga suka sama mas Bagus? Benar, kak?"
"Suka atau tidak bukan urusan kamu. Yang penting bagiku kamu adalah adikku. Aku selalu menomor satukan kalian bahkan mengorbankan diriku sendiri."
"Jadi kamu mau hitung-hitungan denganku? Merasa lebih menderita lagi dengan kehadiran kami. Lihat apa yang sudah kamu lakukan, ibu dan kami bertiga adikmu harus ikut menanggung malu."
"Itu semua tak akan terjadi kalau kamu memberitahu aku di awal. Tapi dasar kamu saja yang hatinya busuk. Hanya karena cinta yang remeh remeh kamu membenciku hingga membiarkan aku terjatuh seperti itu. Jahat kamu Ciy!"
"Kamu yang lebih jahat, kak!"
__ADS_1
Pertengkaran antara Kami tak terelakkan. Kami saling adu mulut hingga menjadi pusat perhatian. Hatiku benar-benar kecewa, bahkan lebih kecewa ketimbang dibohongi Andre Winata.