
Ya Tuhan, kenapa begini? Aku bingung harus melakukan apa. Amanda sudah menolongku. Aku tak akan mungkin bisa tenang jika tidak menolongnya juga.
Kenapa harus ada cinta yang seperti itu. Amanda begitu tulus namun ia salah jatuh cinta. Sama sepertiku. Kami sama-sama terjebak. Bedanya, aku berusaha melepas diri, sementara Amanda bertahan sebab ia merasa tak ada lagi harapan untuknya.
"Aku harus membuat pelajaran untuk dua orang itu agar Amanda bisa bebas." tekadku dalam hati. Sebelum pergi, aku menghubungi Bu Widi dan mas Bagus.
💐💐💐
Aku, mas Bagus dan Bu Widi sudah berada di kantor polisi. Kami disambut dengan sangat ramah oleh pihak kepolisian. Mereka mendengarkan semua laporan kami dan berjanji akan segera memprosesnya.
Aku merasa sangat bersyukur sekali. Semuanya bisa cepat terselesaikan sebab adanya bantuan mas Bagus dan pengacaranya.
"Aku benar-benar berhutang budi," kataku.
"Tidak usah membahas Budi sekarang Ra, nanti saja kalau semuanya sudah selesai." ujar mas Bagus. Mendengar jawabannya membuatku bergidik. Mas Bagus ternyata cepat menyadari perubahan raut wajahku, ia langsung tertawa. "Jangan salah sangka dulu Ra, aku nggak bermaksud yang bukan-bukan. Aku sangat menghormati kamu. Tak ada niat buruk, sungguh. Hanya berharap traktiran nantinya, boleh kan?"
Mendengar jawaban mas Bagus membuatku tersenyum lega sekaligus tidak enak hati, bagaimana mungkin bisa berprasangka buruk pada orang sebaik mas Bagus.
💐💐💐
Hari ini aku resmi menjadi pengangguran. Tanpa pesangon, tanpa simpanan uang hanya tersisa dua ratus ribu padahal awal bukan nanti harus membayar biasa kos dalam kondisi sudah tidak menerima gaji. Mana sudah janji akan transfer bulanan untuk ibu melalui Ciya. Meski selama ini punya penghasilan besar, tapi aku belum punya tabungan karena seluruh sisa gaji dikurangi biaya kos dan makan aku setorkan pada ibu.
"Aku harus segera mendapatkan pekerjaan agar punya uang." Kataku, sambil mencari lowongan pekerjaan yang cocok. Dua jam scrolling internet belum ada satupun yang cocok. Tidak ada yang membutuhkan lulusan IT sepertiku. Sedang melamun, tiba-tiba ingat dengan lowongan yang pernah ditawarkan pak Saka, bahkan ia sampai mengiming-imingi gaji dua kali lipat.
[Pak, besok saya boleh ke kantor bapak?] aku mengirim pesan. Tak mau berbasa-basi sebab dikejar waktu. Semakin cepat dapat pekerjaan semakin cepat juga dapat uang.
[Tentu saja Ra. Ada yang bisa saya bantu?] balasnya.
Sengaja tak ku jawab sebab tak nyaman menjelaskan lewat pesan. Biar besok saja ketika ketemu.
💐💐💐
__ADS_1
Turun dari bajaj, aku nyaris terbelalak melihat ruko sederhana yang berjejer. Salah satunya adalah kantor perusahaan pak Saka. Apa benar ini perusahaan? Aku jadi ingat, begitu banyak penipuan di Ibukota. Termasuk penipuan pencari kerja. Mereka terus membuka lowongan, mencari keuntungan dari jobseeker, kantornya di ruko kecil sederhana, setelah dirasa cukup mendapat korban maka mereka akan pindah ke ruko lainnya.
Apa pak Saka seperti itu? Ia merekrut aku untuk mencari korban-korban, setelah dapat maka ia akan kabur sementara aku disuruh menghadapi korbannya. Tapi kalau dilihat dari orangnya sepertinya pak Saka jauh dari kata itu. Ia terlihat baik, sopan dan lumayan bisa dipercaya.
"Ya Allah, mohon kali ini muluskan jalan hamba. Jangan sampai ia menipu hamba." aku berdoa dalam hati.
"Tira!' pak Saka keluar dari kantornya yang lebih mirip ruko. "Sini!" Ia memanggilku.
"Ini kantor bapak?" Tanyaku, setelah dekat. Aku mengintip dari pintu, tampak sebuah ruangan yang di desain seperti kantor dengan desain yang bagus. Sepertinya ia punya selera yang bagus.
"Yap. Masuklah. Ada yang bisa ku bantu?"
"Sebenarnya saya mau mengajukan lamaran tapi ...."
"Oh ya? Kalau begitu kamu diterima!"
"Tapi kayaknya nggak jadi deh,"
"Lho kenapa?"
"Hah? Kamu bercanda? Oh saya ngerti. Kamu jangan lihat dari covernya dong. Saya membiaya semuanya sendiri, jadi semua benar-benar dari nol. Saat ini saya baru mampu membeli ruko dua lantai seperti ini, tapi dalam satu tahun ini saya yakin perusahaan kita akan berkembang, apalagi setelah kamu bergabung, kita berdua akan mengerjakan banyak proyek bernilai tinggi bersama-sama."
"Berdua? Jadi maksud bapak di perusahaan ini belum ada pegawai lain selain saya. Begitu?"
"Iya."
"Oke fix, kalau begitu saya tidak jadi melamar."
"Lho kenapa?"
"Bagaimana kalau bapak hanya seorang penipu seperti yang sering saya baca di berita tentang orang yang suka merekrut pegawai lalu dimintai uang terus bosnya kabur, bawahan yang nggak tahu apa-apa yaitu saya yang akan jadi bulan-bulanan."
__ADS_1
"Hahaha, Tira Tira, saya tidak sekriminal itu. Saya memang belum mampu merekrut banyak pegawai, tapi sebentar lagi saya pasti bisa."
"Dengan bantuan saya?"
"Yap. Benar sekali!"
"Bagaimana saya yakin bapak tidak akan menipu saya?"
"Kamu mau jaminan apa? Ijazah saya, KTP, SKCK, SIM, atau apa?"
"Gaji. Saya mau gaji di depan. Bagaimana?"
"Hmmm, baiklah. Tidak masalah. Delapan juta. Bagaimana?"
"Lho, tidak mau. Bapak kan janji memberi saya gaji dua kali lipat dari perusahaan sebelumnya. Gaji saya di kantor lama 10 juta, jadi di sini saya dapat dua puluh juta. Deal?"
"Hah?"
"Janji harus ditepati."
"Oke, baiklah. Tapi gaji kamu sebulan lebih besar dari gaji saya lho."
"Saya tidak peduli. Saya akan bekerja mulai hari ini, jadi bapak bisa transfer sekarang ke nomor rekening saya. Noreknya segera saya kirimkan. Ngomong-ngomong, di sana boleh jadi meja kerja saya?" aku menunjuk meja kerja yang berada di dekat jendela, meski pemandangan tidak terlalu bagus sebab langsung ke jalan rasa, tapi jauh lebih baik dibandingkan sisi yang lain ruko ini.
💐💐💐
Luka hati ini masih sama, belum ada yang bisa mengobatinya. Aku masih menanti polisi bekerja agar aku bisa mendapatkan keadilan. Ini bukan hanya tentang rasa sakit, tapi juga opini yang terus digiring sehingga banyak yang menganggap aku sbegaia perempuan tidak benar.
Selama itu, gangguan dari Andre masih saja datang, ia masih kekeh mengatakan kalau kami suami istri dan aku wajib taat oadanya. Tapi tidak ku gubris sebab aku masih menjalani proses pelaporan. juga dari dua bandot tua yang terus menyebutku perempuan murahan. Aku sengaja merahasiakan kalau mereka telah ku laporkan ke polisi agar nanti mereka terkejut. Seperti aku yang kaget dengan sifat asli mereka. Pada polisi aku juga meminta agar nanti ada pemberitahuan pada perusahaan.
Sementara ibu masih kekeh tak menerimaku. Ketiga adikku juga masih berusaha melunakkan hati ibu. Mereka juga tak pernah absen untuk menguatkan aku.
__ADS_1
Aku sendiri saat ini sudah gak tinggal di kosan lama. Rasanya di sana terlalu toksik. Satu atap di dekat mbak Dila hanya membuat mentalku makin buruk, apalagi sekarang mas Bagus sering menemuiku untuk mengkoordinasikan masalah hukum yang tengah aku tempuh. Ia selalu menuduhku yang bukan-bukan, bahkan ia juga menjadi salah satu yang mengirim cerita di media sosial tentangku. Menggiring opini kalau aku senakal itu.
Sebenarnya ingin marah, tapi aku tahu kalau itu hanya akan membuang energi. Aku sudah memperingatinya hingga tiga kali dengan ancaman akan ku polisikan, tapi ia tak peduli, makanya ia akhirnya ku masukkan dalam daftar orang yang ku laporkan.