Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Masalah Demi Masalah


__ADS_3

Selanjutnya aku harus bagaimana? Aku masih saja meracau, tak memberikan kesempatan pada pak Saka untuk menyela sedikitpun. Untungnya lelaki itu sangat sabar. Ia mendengarkan semua celotehku.


"Terus sekarang aku harus bagaimana?" tanyaku, dengan raut frustasi. Pak Saka tak menjawab, ia hanya mendengarkan saja. Kalau saja aku tak ingat ia adalah atasanku mungkin ia sudah kena omelanku karena kesal sebab dalam keadaan bimbang seperti ini akupun berharap ia mau memberi masukan tak hanya sekedar menjadi pendengar saja. "Bapak bisa jawab saya nggak sih?" Aku kehabisan kesabaran karena benar-benar mentok. Tak tahu harus melakukan apa sebab merasa terlalu rumit.


"Apa yang kamu inginkan Ra?" pak Saka akhirnya buka suara.


"Saya bingung, kenapa hidup saya begini. belum selesai satu masalah, sekarang sudah datang masalah baru. Baru saja ditipu, dituduh jadi perempuan kedua, sekarang adik saya mengatakan kalau saya bukan anak kandung ibu saya. lalu siapa saya? Apakah saya seburuk itu hingga harus menanggung semua ini? Allah pasti sedang menghukum saya." aku nyaris putus asa. "Pantas saja ibu sangat marah dan tak ada maaf untuk saya, ternyata saya hanyalah anak angkat."


"Ra,"


"Sekarang untuk apa lagi semua ini. Kemarin -kemarin saya bertahan demi ibu dan adik-adik saya, ternyata mereka bukan keluarga saya dan tak ingin menjadi bagian hidup saya lagi."


"Kalau begitu berjuanglah untuk diri kamu sendiri. Kamu itu berharga, Ra."


"Hah? Bapak jangan asal bicara. Untuk siapa? Diri saya tak diharapkan oleh siapapun."


"Ada Tira."


"Tidak ada, pak."


"Saya. Saya orang yang mengharapkan kamu."


aku dan pak Saka sama-sama diam. Lalu aku tertawa lebar. Lebih tepatnya menertawakan diri sendiri. Begitu mengenaskan kisah hidupku hingga atasanku saja harus menawarkan dirinya sendiri karena kasihan padaku.


"Baiklah pak, terimakasih sudah menghibur saya." kataku.

__ADS_1


"Tira, saya tak sedang menghibur kamu. Saya sungguh -sungguh!" ia menegaskan.


Hari yang sangat melelahkan. Terlalu banyak hal-hal mustahil yang harus aku jalani. Aku memutuskan keluar dari mobil pak Saka. Aku tak ingin kembali ke apartemen dulu, ada yang ingin ku lakukan sebelumnya.


"Terimakasih untuk tumpangan dan segala support nya pak. satu-satunya keberuntungan yang saya miliki adalah menjadi bawahan bapak. Semoga hari bapak bahagia selalu." kataku, saat hendak beranjak pergi.


"Tira ... Saya serius!" Ia kembali mengulang kata-katanya.


Apa aku semenyedihkan itu hingga seorang pak Saka harus mengatakan seperti itu. Aku mengerti, kami tengah memburu sebuah proyek besar yang tidak main-main. Ia pasti membutuhkan aku yang waras sebagai asistennya untuk menaklukkan proyek tersebut. Aku hanya bisa melempar senyum padanya.


"Ya, terimakasih banyak pak!" aku melambaikan tangan. Lalu mengejar taksi yang kebetulan lewat.


***


Jalan Taman Wisata, gang Angrek. Aku turun di depan gang rumah. Lalu berjalan masuk ke rumah sederhana yang tiga bulan lalu baru selesai di renovasi sehingga tampak lebih asri dan bagus. Di rumah ini aku tumbuh besar, menjalani hari-hariku dengan penuh perjuangan hingga akhirnya aku bisa jadi seperti sekarang ini. Aku datang bukan untuk mengganggu siapapun sebab aku tahu diri, kalau tidak dibesarkan ibu mungkin aku tak akan bisa jadi seperti sekarang.


"Bu," aku hendak menyalam ibu, tapi ia mengelak.


"Untuk apa ke sini lagi? Sudah saya katakan untuk pergi dari keluarga kami." kata ibu.


"Bu, aku ke sini hanya sebentar. Aku butuh kepastian, apakah yang dikatakan Ciya benar kalau aku bukan anak kandung ibu?"


Perempuan itu agak kaget, melihatku sebentar lalu membuang wajahnya. "Apa yang dikatakan Ciya?" tanya ibu.


"Ibu mengatakan kepadanya bahwa aku bukan anak kandung ibu?"

__ADS_1


"Lalu apa yang kamu harapkan?"


"Jadi benar? Tidak, tidak ada yang ingin aku tahu Bu. Itu saja sudah cukup. Aku hanya penasaran."


Bagiku, ibu tak langsung membantah saja sudah cukup. Sebenarnya masih banyak tanya, namun aku memilih berlalu. Ibu mau merawatku saja rasanya sudah cukup, aku sudah berhutang budi padanya meski di akhir aku merasa diperlakukan tidak adil.


"Aku pergi, Bu." kataku.


"Tira!" panggil ibu, sebelum aku pergi jauh. "Masuklah dulu." panggil ibu.


Aku yang sudah terlalu lelah dengan semua ini hanya bisa mengikuti, masuk ke dalam. Rasanya, melewati pintu itu seperti orang asing. Aku tak merasakan lagi kehangatan di rumah ini.


"Kamu sudah tahu semuanya. Jadi sekarang silahkan menentukan sikap." kata ibu. "Kamu memang bukan putri kandungku, kamu gak lahir dari rahimku. Saat aku melahirkan anak pertamaku, ia pergi beberapa jam setelah menghirup udara bumi. Abahmu datang membawa kamu yang akhirnya ku ketahui kamu adalah putri dari salah satu selingkuhannya. Entah siapa, aku tak tahu. Awalnya aku berat menerima kamu, aku amat marah, tapi wajahmu yang polos membuatku iba. Kamu tak salah apa-apa, orang tuamu yang mengkhianati aku, mereka yang patut menerima hukumannya. Sejak itu kamu menjadi putriku. Aku sangat menyayangimu meski kadang ada juga perasaan benci yang muncul namun selalu bisa aku tepiskan. Tira, semuanya sudah ku ceritakan, tak ada lagi rahasia yang ku simpan darimu. Sekarang terserah kamu. Aku sudah memutuskan hubungan kita sejak kamu mengecewakan aku kemarin. Kamu mau bersikap seperti apapun, aku tak lagi peduli." kata ibu.


"Sudah?" tanyaku.


"Ya." jawab ibu.


Langsung aku bersujud di kaki ibu, meminta pengampunan darinya. Meski ibu bukan ibu kandungku, tapi ia tak beda dari ibu kandung sendiri. Ibu sudah membesarkan aku, bahkan air susunya mengalir di tubuhku. Bagaimana mungkin aku bisa mengabaikan hal tersebut.


"Sampai kapanpun, Tira ingin menjadi anak ibu. Meski dalam tubuh Tira tak mengalir darah ibu, tapi air susu ibu memberikan kehidupan kedua untuk Tira. Maafkan Tira, Bu, sudah menyusahkan ibu. Tira tahu ibu adalah ibu terbaik dan akan selalu menjadi ibu Tira. Saat ini, Tira akan menanti dengan sabar hingga ibu membuka kembali pintu rumah ini untuk Tira. Sampai waktu itu datang, Tira akan selalu bersabar. Tira akan menantinya Bu, menanti kesempatan kedua untuk kembali menjadi anak ibu, kembali berbakti pada ibu." kataku.


"Pergilah." ibu memintaku pergi.


Aku mengangguk. Meski sedih kembali meninggalkan ibu, tapi setidaknya aku lega, sudah menyatakan isi hatiku bahwa aku sangat menyayangi ibu dan aku ingin selu menjadi anak ibu.

__ADS_1


Aku kembali pergi meninggalkan rumah ini dengan hati yang lebih tenang. Aku berharap, cepat atau lambat ibu akan mengizinkan aku kembali menjadi anaknya. Kapanpun waktunya, aku tak akan pernah lelah menanti, seperti ibu yang tak pernah habis sabarnya memandang wajahku sewaktu kecil atas luka yang ditoreh ibuku.


__ADS_2