
Tante Heni dan mbak Andin masih melihatku, mereka seolah mengintimidasi.
"Ya, saya tinggal di apartemen mas Saka. Tapi kami tidak tinggal bersama. Mbak Andin lihat kan waktu itu? Hanya saya sendiri yang tinggal di sana, sedangkan mas Saka di ruko." aku menjelaskan.
"Lagipula kalaupun kami tinggal bersama, ada masalah?" tanya Saka yang entah kapan sudah berada di sampingku. Tak hanya aku yang kaget, tapi juga ibu tirinya dan kakak iparnya. "Bukankah Anda dulu juga tinggal di apartemen ayahku saat ibuku masih hidup? Entah tinggal bersama atau tidak, siapa yang tahu? Mbak Andin juga, kan? pernah tinggal satu rumah dengan mas Aryo?" balas Mas Saka, membuat dua perempuan itu tak bisa berkata-kata.
"Hemmm," Tante Heni berdehem. "Ngomong-ngomong bagaimana dengan masalah kamu? Sudah selesai, kan? kamu benar-benar hanya fokus pada Saka, kan?"
"Maksud anda apa?" tanya mas Saka.
"Tidak apa-apa, hanya memastikan agar kedepannya tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan. Kamu sudah dewasa Saka, harusnya tahu mana yang benar-benar tulus atau hanya ingin mencari kekayaan secara cepat saja." katanya lagi.
"Perjelas maksud pembicaraan anda!" Saka menegaskan.
"Sayang, sudah. Ayo kita makan pudingnya, ini rasanya sangat enak." aku mencoba mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Saka memakan desert yang masih ada di atas meja, tapi Saka mengabaikan.
"Perjelas!" kata Saka dengan suara tinggi, kami semua kaget, bahkan ayah dan abangnya sampai datang.
"Saka. Bicara yang sopan!" tegas pak Prasetyo.
"Perempuan ini yang harus bicara sopan. Apa maksudmu bicara seperti itu pada istri saya?" tanya Saka.
__ADS_1
"Saka, jangan salah paham. Semua orang tahu siapa Tira dan bagaimana kasusnya yang sempat heboh itu. Tante hanya tidak mau kamu salah pilih. Kamu adalah salah satu pewaris keluarga kita, jadi harus berhati-hati ketika memilih teman apalagi teman hidup. Jujur saja, pernikahan kamu yang tiba -tiba ditambah berita tentang Tira membuat kami khawatir. Pastikan bahwa Tira sudah tak punya sangkut paut dengan masa lalunya. Apa dia benar-benar perempuan baik-baik dengan kesuciannya? Atau ia ada modus lain, sudah pernah dipakai orang atau punya rahasia besar yang masih disimpannya yang kami khawatirkan kelak akan menjadi bumerang untuk keluarga kita. Hanya itu. Hanya kamu yang tahu bagaimana ia, apakah masih gadis atau ...." Tante Hani sengaja menggantung ucapannya.
"Bagaimanapun istri saya itu bukan urusan saya. Sudah saya katakan bahwa saya bukan lagi bagian dari keluarga ini. Saya ingin hidup tenang tanpa banyak aturan yang dibuat-buat. Saya ingin hidup apa adanya. Mulai sekarang abaikan saja kami!" mas Saka mengajakku segera meninggalkan tempat ini.
Tanganku masih ditarik oleh mas Saka. ia baru melepas saat aku sudah berada di dalam mobil.
"Mas ini kenapa sih? tak perlu berlebihan seperti itu. Apalagi bicara seperti itu, sama saja menabuh genderang perang!" kataku
"Aku begitu untuk membela kamu!" kata mas Saka, sambil memajukan mobilnya.
"Ya, aku mengerti. Tapi tak perlu berlebihan begitu!"
"Apa maksudmu?" mas Saka menghentikan mobilnya. "Kamu tidak suka aku membelamu? Kamu mau aku membiarkan perempuan itu menghina kamu? hei, orang seperti apa kamu? Atau jangan-jangan apa yang dikatakannya benar. Kamu punya maksud tertentu?"
"Kalau begitu kenapa kamu tak mau disentuh sampai saat ini? Apa benar kamu dan laki-laki terdahulu sudah pernah ...."
"Apa?" aku kesal melihatnya berbicara seperti itu.
"Kalau tidak kenapa mengelak? Kekasih kamu sebelumnya adalah suami orang yang sudah pernah melakukan hal tersebut, bisa saja kan kalian juga melakukannya?"
Plak. Sebuah tamparan melayang di pipinya. Tamparan yang refleks lepas begitu saja sebab tak terima dengan tuduhannya.
__ADS_1
"Kamu tidak berhak menuduhku seperti itu!" kataku
"Kalau begitu buktikan!" ia tak kalah keras.
"kalau kamu tak punya kepercayaan padaku, seharunya tidak mengajakku menikah. Harusnya kamu mengenali dulu aku orang yang seperti apa. Aku memang bukan anak yang orang tuanya kaya raya seperti kamu, tapi aku juga tidak gila harta. Sejak lama banyak laki-laki yang mendekatiku, menawarkan banyak kemewahan, tapi aku menolak sebab memang bukan itu yang aku inginkan. Aku mencintai orang yang aku cintai dengan tulus, bukan karena embel-embel apapun. Aku tak mau membuktikan apapun padamu karena memang tak ingin membuktikan apapun. Kamu yang mengajak aku masuk dalam kisah ini, tapi kenapa sekarang kamu menuduh aku seperti itu? seolah aku begitu hina! Jika orang lain yang melakukannya aku masih bisa sabar tapi ketika ucapan itu keluar dari mulut suamiku sendiri rasanya aku sangat sakit sebab banyak harapan yang terlanjur aku gantungkan padamu. Aku ingin bahagia selamanya bersama kamu. Tapi kalau kamu ragu untuk lanjut tidak mengapa, aku siap mundur. Mumpung kita belum terlalu jauh." kataku. "Sekarang sebaiknya kita sendiri -sendiri dulu. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri." kataku. Lalu turun dari mobilnya.
Mas Saka membiarkan aku pergi, ia bahkan mengabaikan aku yang kini naik ke taksi yang kebetulan lewat.
"Apa kamu benar-benar ragu, mas? kamu benar-benar tak percaya aku?" perlahan, aku menghapus air mata yang turun.
Ku pikir, setelah kemarin kita menikah hanya akan ada kisah bahagia. Tapi ternyata ujiannya belum selesai. Aku benar-benar sedih, mas.
***
Taksi berhenti di depan lobi apartemen baru Amanda. Tadi aku memang menghubungibya sebab ia satu-satunya teman yang aku punya. Entah kenapa aku begitu yakin ia akan jadi tempat mengadu yang bisa membuat hatiku tenang. Lagipula mau kemana lagi, tak ada keluarga apalagi teman yang aku punya.
"Maaf Ra kamu menunggu lama?" kata Amanda yang baru turun menjemputku ke lobi. Setelah itu kami naik ke kamarnya. Hanya sebuah kamar apartemen kecil dengan kamar, kamar mandi dan dapur yang cukup kecil tapi cukup untuk satu orang. "Sekarang aku tinggal di sini setelah putus dari Hito." kata Amanda.
"Aku ingin di sini dulu beberapa waktu. Boleh?" tanyaku.
"Tentu saja. Kamu istirahatlah dahulu, aku buatkan makanan ya. Kalau mau ganti baju ambil di lemari saja."
__ADS_1
Tanpa perlu bicara panjang lebar, aku berbaring di tenang tidur Amanda, menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan sesak di dada ini. Kenapa semua harus semenyakitkan ini? kenapa? Kenapa kamu memberi harapan palsu, kenapa harus membersamai aku di Jogja, kenapa harus mengajak menikah cepat. Kenapa?