Penyesalan Wanita Kedua

Penyesalan Wanita Kedua
Hari Pertama Setelah Cuti


__ADS_3

Besok adalah hari pertama kembali kerja setelah cuti sepekan. Aku sudah mempersiapkan semuanya; pakaian kerja, sepatu, tas dan berkas-berkas yang sempat tertunda. Aku berharap dengan bekerja bisa mengalihkan perhatianku. Sejak kejadian itu aku merasa psikologis ku tidak baik-baik saja. Belakangan aku suka merasa cemas, Tremor jika ada pesan nakal dari netizen dan juga cemas tak menentu jika bertemu orang asing, seolah mereka akan menyerangku.


Setelah semua selesai, sekarang waktunya mengecek email kantor, barangkali ada tugas yang terlewat atau ada pesan baru yang harus aku penuhi. Hanya ada satu kesan di kotak masuk, pesan dari general manager. Isinya membuatku langsung down. Surat pemberhentian secara tidak hormat karena aku dianggap melakukan perbuatan tidak pantas atau perbuatan asusila. Air mataku kembali mengalir, bagaimana bisa kantor mengetahui semuanya?


Surat itu rupanya sudah dikirim sejak dua hari lalu. Aku diminta untuk ke kantor mengembalikan semua perlengkapan kerja sekaligus kunci loker yang masih terbawa. Membacanya membuat tubuhku langsung lemas. Aku dipecat, aku kehilangan pekerjaan. Masih belum cukupkah semua hukuman yang diberikan, apakah harus kehilangan mata pencarian juga? Begitu besar efeknya, padahal aku benar-benar tidak tahu statusnya Andre sebelumnya. Aku mengira ia benar-benar single.


Rasanya ingin menangis, namun air mata seolah kering sehingga yang keluar adalah tawa. Tawa penyesalan, tawa kesedihan, sakit hati, merasa bodoh. Kini, tawa itu bercampur dengan tangisan. Air mata itu akhirnya bisa tumpah juga. Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Kehilangan pekerjaan, padahal ibu dan adik-adik bergantung padaku.


💐💐💐


Memasuki ruang kantor, semua mata tertuju padaku. Sebelum menemui GM, aku menuju ruangan terlebih dahulu untuk mengambil barang-barang. Di sana aku juga bertemu pak Robin dan beberapa teman sedivisi.


"Eh Tira, akhirnya kamu datang juga." Pak Robin memanggilku. "Sini, ke ruang aku dulu." ia membuka pintu ruangannya, aku hanya menurut. "Bagaimana? Kamu sudah baca email, kan?"


"Ya, sudah pak." kataku.


"Lalu?"


"Saya tidak tahu, pak. Yang jelas semua itu tidak benar, saya ...."


"Apa? Kamu terima dipecat?"


"Enggak pak, saya nggak mau kehilangan pekerjaan, lagi pula saya tidak menikah dengan laki-laki itu, saya ...."

__ADS_1


"O begitu ya. Mmmmm, mau saya bantu?"


"Bantu bagaimana pak?"


"Saya bisa saja bicara sama GM kita. Kebetulan saya sama pak Hito itu kan dekat. Ya seperti inilah." Ia menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya. "Bagaimana?"


Seperti mendapat angin segar, aku yang semula sudah kehilangan semangat hidup langsung bangkit lagi. "Mau pak, mau banget."


"Tapi ya ... ada imbalannya." ia tersenyum.


"Baik pak, saya tidak masalah. Saya siap memberikan setengah gaji saya untuk bapak bulan depan. Tapi tolong bantu bicara, pak. Saya akan sangat berterima kasih. Saya benar-benar berhutang budi pada bapak."


"Hehehe, saya tidak butuh uang kamu Tira. Untuk saya, uang bukanlah segala-galanya."


"Kamu." pak Robin tersenyum, senyumnya seperti ingin menerkam. Aku yang melihatnya sampai bergidik.


"Ma ... maaf, saya tidak paham, maksud bapak apa?"


"Tira ... tidak perlu pura-pura polos. Kita bicara blak-blakan saja. Kamu tidak perlu takut, di sini kita aman. Semuanya akan jadi rahasia. Saya dan pak Hito sama-sama menginginkan kamu. Kami sepakat akan membantu kamu kembali bekerja di sini asal kamu mau menemani kami."


"Bapak bicara apa?" aku langsung bangkit dari tempat duduk, merasa terhina oleh ucapannya.


"Eeee, pstttt, jangan bicara keras-keras, bisa-bisa karyawan lain dengar. Kamu nggak usah jual mahal, tidak perlu berpura-pura lagi Tira. Katakan saja, berapa yang kamu mau? Saya dan pak Hito pasti akan berikan. Kami nggak minta cuma-cuma kok. Kami tahukah, perempuan seperti kamu pasti menginginkan uang, kan? Kami akan memberinya."

__ADS_1


Apa lagi ini? Aku ditawar seperti perempuan murahan oleh atasanku sendiri hanya karena berita simpang siur yang jelas-jelas kebenarannya itu tidak benar.


Cukup, ini semua tak bisa dibiarkan. Aku benar-benar meradang. Tapi aku harus berpikir keras untuk membalas mereka.


"Saya tidak bisa menjawabnya tanpa pak Hito," kataku, masih dengan tangan buh gemetaran karena kembali Tremor. Entahlah, hanya itu jawaban yang bisa aku berikan saat ini.


"O, jadi kamu tidak percaya nih sama saya? Meski saya baru setaraf manager, saya juga punya banyak uang kok." pak Robin terkekeh. Menjijikkan. Ingin sekali ku ludahu wajahnya yang mesum itu. "Baiklah, saya panggilkan dulu pak Hoti. Tapi kamu jangan kemana-mana ya." ketika ia beranjak hendak pergi, ia ingin menggapai ku, tapi aku mengelak. Tak Sudi disentuh olehnya. "Baiklah, kalau kamu belum mau ku sentuh. Tunggu sebentar ya sayang. Kalau sudah deal kamu adalah milikku!"


💐💐💐


Kenapa, kenapa semuanya jadi begini? Aku yang kini berada sendirian di ruangan pak Robin hanya bisa menguatkan diri agar tak menangis. Aku harus menyelesaikan semua ini dengan sangat baik. Betul kata mas Bagus, kalau aku harus memperjuangkan keadilan untukku sendiri karena tak akan ada yang mau membela jika bukan diriku sendiri sebab sekarang aku benar-benar di jurang paling bawah seorang yang dianggap pendosa berat.


Sebelum pak Robin kembali, cepat-cepat aku menyelesaikan semua. Menyiapkan apa saja yang aku butuhkan untuk membuktikan keburukan mereka, agar aku bisa mendapatkan keadilan.


"Jadi bagaimana Tita Pratiwi?" Tanya pak Hito, yang tak kalah menjijikkan dari pak Robin. Dua orang itu benar-benar tidak tahu malu, aku benar-benar tak menyangka punya atasan sekotor itu. Apalagi mereka sama-sama sudah punya pasangan. Pak Hito sudah punya anak dan istri, sedangkan pak Robin kabarnya sudah bertunangan akan naik ke jenjang pernikahan. "Kamu mau kan melayani saya, kalau kamu bersedia maka kamu akan mendapatkan apapun yang kamu mau.?"


"Saya nggak butuh itu semua, pak. Saya hanya ingin pekerjaan saya kembali. " Kataku.


"Hahaha, untuk apa lagi sih bekerja di sini Tira? Kalau kamu mau menjadi simpanan aku maka aku akan memberi kamu lebih. Dua kali lipat dari gaji kamu ditambah apartemen di bilangan Jakarta Selatan untuk tempat tinggal kamu. Kalau kamu membutuhkan yang lain saja juga pasti akan memberikannya Bagaimana?" tawar Pak Hito.


"Saya butuh pekerjaan, pak." kataku. "Asal bapak-bapak berdua tahu, saya tidak seperti yang kalian duga. Saya bukan perempuan murahan seperti itu yang mau menjadi simpanan bandot tua seperti kalian berdua. Saya punya harga diri tinggi. Meski saya hanya karyawan biasa, tapi pantang bagi saya menjual diri!" aku menegaskan.


"Halah, sombong sekali kamu. Pela--- ya tetap pela---. Sudahlah, tak perlu bersandiwara lagi. Buka saja topeng kamu, Tira. Kami berdua sudah tahu siapa kamu." pak Hito tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2