
Hari ketiga di rumah sakit, kondisiku semakin membaik meski kaki kanan masih terasa sakit kalau diajak berjalan sebab sempat diinjak berulang kali oleh Andre Winata. tapi setidaknya ada progres. Hari ini polisi mulai datang sebab aku dianggap sudah bisa memberikan keterangan atas laporan dari pak Saka. Mereka mengintrogasi, pak Saka dan mas Bagus selalu mendampingi. Mereka seperti tak mau beranjak dari sisiku, meski aku sudah menyuruh mereka untuk pulang tapi mereka tetap tidak mau. Padahal Ciya saja sudah pulang sejak kemarin.
"Aku sudah tidak apa-apa, pak Saka dan mas Bagus bisa pulang sekarang." Kataku, untuk kesekian kalinya menyuruh mereka pergi. Setelah tak berhasil mengusir dengan sindiran. Sepertinya mereka tak paham kiasan.
"Saya di sini saja, kalau dia mau pulang silakan. Saya kan yang membawa kamu ke sini, jadi saya harus berjaga untuk meyakinkan bahwa kamu baik-baik saja." Kata pak Saka.
"Mmm, sama. Saya juga di sini saja. Saya sudah ambil cuti untuk menjaga teman yang sedang sakit. Sayang kalau cutinya tidak dipakai. Iya, kan?" Jawab mas Bagus. Membuatku bingung.
"Tapi jujur aku yang tidak nyaman di temani dua laki-laki!" Kataku l. "Lagipula penjahat itu sudah ditahan di penjara, jadi tak perlu lagi khawatir."
"Jangan mudah mengentengkan kondisi, Ra. Kamu masih jadi musuh netizen, jadi jangan gegabah dulu. Bisa saja mereka juga ikut menyerang kamu. Ingat kan kejadian waktu kita makan siang, tiba-tiba kamu disiram?" kata pak Saka, membuat nyaliku ciut mengingat momen buruk yang ku hadapi
"Tapi aku nggak perlu dijaga dua orang juga kali." Kataku
"Kalau begitu anda pulang saja, mas. Saya saja yang di sini. Tira ini kan karyawan saya, jadi sebagai atasannya saya bertanggung jawab memastikan dia baik-baik saja." Kata pak Saka. "Kami sudah terlanjur ada kontrak kerja, saya juga mau memberinya proyek besar yang nilainya tak terhingga."
"Aku sudah membaik." Kataku
"Kalau begitu kita bisa diskusi pekerjaan di sini. Iya, kan?" pak Saka tersenyum penuh kemenangan.
"Tidak, setelah apa yang menimpa kamu Ra, aku nggak bisa membiarkan kamu sendiri!" mas Bagus juga menegaskan. Aku kembali dibuat bingung namun hanya bisa pasrah menghadapi dua orang ini.
***
Sepekan di rawat di rumah sakit, dua orang ini benar-benar bertahan. Tak beranjak sama sekali kecuali untuk ke kamar mandi dan urusan salat. Bahkan makan saja mereka pesan sampai pintu kamar, sedangkan pakaian ganti diantar entah oleh siapa.
Siang ini, saat ada Ciya. Adikku meminta mereka untuk keluar sebentar sebab ada hal penting yang ingin dibicarakan. Meski berat, akhirnya mereka menurut juga.
"Huffff, akhirnya mereka pergi juga. Benar-benar tidak nyaman ditungguin sama laki-laki asing, mana dua lagi!" Aku mengoceh sambil membuka kerudung yang selama sepekan ini selalu terpakai.
Asik dengan diri sendiri, tanpa sadar aku malah nyuekin Ciya. Padahal tadi katanya ia mau bicara.
"Ada apa Ciy? Apa ibu baik-baik saja? Elis dan Kiki juga, kan? Kamu sudah jadi wisuda?" Aku bertanya.
"Kak," panggil Ciya.
__ADS_1
"Ya?"
"Kakak,"
"Kenapa? Apa ada masalah?"
"Di antara dua laki-laki itu, siapa yang kakak suka?"
"Hah?"
"Pasti ada, kan?"
"Kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja jawabannya tidak ada. Kamu kan tahu, kakak begini karena apa? Karena cinta. Kakakasih trauma, mungkin tak akan pernah lagi jatuh cinta."
"Kakak ... Jangan begitu."
"Tak mudah Ciy, kamu tahu, terlalu melelahkan menjalani semuanya. Lagipula dengan image jelek yang sudah dicoretkan oleh laki-laki itu, apa masih ada yang mau dengan kakak? Kalaupun ada, rasanya kakak belum siap. Kakak masih takut, Ciy."
"Begitu ya. Berarti mereka berdua tidak?"
Aku menggeleng. Ciya tersenyum. "Kenapa Ciy? Kamu suka?"
Kami melanjutkan perbincangan tentang keluarga..Tentang ibu yang hatinya masih sekeras batu, membeku, tak mau memaafkan aku.
Tak mengapa, kataku. Meski sebenarnya aku terluka.
Setelah berbincang -bincang, Ciya pamit pulang sebab Ibu sudah mempertanyakan keberadaannya. Ia memang dilarang menemuiku karena ibu takut adikku terkena imbas jika masih dekat denganku.
***
Dua pekan dirawat di Rumah Sakit, akhirnya boleh pulang juga. Setelah berebut membayar biaya rumah sakitku, kini mereka berdua juga berebut mengantarkan aku pulang.
"Aku pulang dengan taksi saja." Kataku.
"Jangan, bahaya!" Kata mas Bagus.
__ADS_1
"Sudah tahu bahaya, makanya jangan membuat Tira tidak enak hati sehingga ia bingung harus memilih diantar siapa. Sekarang menyingkirlah, Tira pulang dengan saya!" Pak Saka menarik ujung bajuku, seperti anak kecil, ia menyeretku menuju mobilnya
"Enggak perlu diseret-seret juga kali, pak!" aku mengeluh. "Seperti anak kecil saja. Saya bisa kok jalan baik-baik!" aku mengomel.
"Terus kamu mau kita bertiga terlibat perdebatan sampai malam, sampai kamu capek sendiri? Kamu baru keluar dari rumah sakit, harus cepat pulang dan istirahat!"
"Ya enggak."
"Kalau begitu jangan protes!" Ia menghidupkan mobil, melanjutkannya menuju apartemen. "Kalau ada apa-apa cepat hubungi saya saja, jangan yang lain!"
"Kenapa?"
"Supaya saya bisa melindungi kamu."
"Tapi kemarin bapak gagal melindungi saya."
pak Saka melirik.
"Eh maksudku ...."
Belum sempat aku lanjut bicara, pak Saka sudah tancap gas sehingga membuatku ketakutan. Begitu sampai di apartemen, ia mengantarkan aku sampai atas meski aku sudah menolak, alasannya untuk jaga-jaga
Sampai di depan pintu kamar apartemen, sebelum aku masuk ia memanggilku.
"Tira ... Maaf kalau saya gagal melindungi kamu sehingga kamu jadi seperti ini. Lain kali saya pastikan saya gak akan kalah!" ia berbalik, meninggalkan aku sendiri di depan pintu.
***
Malam semakin larut. Langit sudah berwarna gelap. Aku masih duduk di depan jendela..Dengan seribu angan. Berharap agar semua ini hanyalah mimpi buruk dan aku kenali ke masa satu tahun silam.
Sebenarnya, masa-masa yang aku lalui selama ini tak ada yang namanya bahagia. Apa yang bisa diharapkan dari keluarga broken home. Tapi setidaknya ada keluarga; ibu dan ketiga adikku di sisi. Jadi apapun yang aku lakukan, ada orang-orang yang menguatkan, tapi sekarang mereka tak lagi disisi, entah kapan atau mungkin tak akan pernah kembali lagi.
Aku akan sendiri untuk selamanya.
Bulir-bulir bening itu pun akhirnya turun. Aku menangis sendirian. Di bawah langit malam. Apakah aku bisa melalui semua ini? Cap sebagai perempuan tak baik sudah melekat kuat. Padahal aku tak begitu.
__ADS_1
[Tira,] pesan dari pak Saka. [Maafkan saya, lain kali saya akan menjaga kamu dengan lebih baik. Oh ya, besok akan ada yang mengantarkan sarapan, makan siang dan makan malam. Juga akan membersihkan kamar.]
Aku membiarkan saja pesan itu tanpa ada niat untuk membalasnya.