
"Syukurlah jika begitu senior, setidaknya kita hanya perlu melindungi tubuh nona saja selama nona menyerap energi yang telah senior berikan" ucap Mumu dengan senang karena melihat keadaan nonanya telah semakin membaik.
"Senior bukankah seharusnya nona tidak mudah dikalahkan oleh ketiga orang itu" ucap Mimi yang sedari tadi terus menerus memikirkan apa yang baru saja menimpa nonanya itu.
Mendengar perkara Mimi itu, Momo pun menganggukkan kepalanya "Kau benar, seharusnya nona tidak akan kalah dari ketiga orang itu namun sayangnya mereka bertiga menggunakan formasi terlarang untuk membuat serangan yang mereka keluarkan menjadi sebanding dengan tingkat legend bintang tiga dan karena nona telah terlalu banyak bertarung dia pun menjadi kelelahan sehingga membuat nona bernasip seperti sekarang ini" ucap Momo sembari terus menatap ke arah Maeli Su.
"Selain itu aku merasakan jika kelompok penyerbu itu ada hubungannya dengan orang yang memberikan nona liontin giok, Burung bodoh segeralah pergi ke ruang dimensi dan bawakan liontin giok milik nona entah kenapa aku ingin melihatnya sekali lagi" ucap Momo yang tiba-tiba teringat akan giok yang pernah diberikan oleh seorang laki-laki kepada nonanya itu.
Mendengar apa yang dikatakan Momo dengan segera Mumu pun menghilang dari hadapan Momo dan masuk keruang dimensi untuk mencari benda yang dikatakan oleh seniornya itu "Senior benar-benar keterlaluan bagaimana bisa senior memanggil ku dengan sebutan burung bodoh padahal kan aku juga merupakan salah satu dari empat hewan dewa, ah aku benar-benar kesal pada senior" ucap Mumu sembari terus mencari liontin giok yang dimaksud Momo.
"Aku mendengar semua ocehan mu itu burung bodoh, apakah kau sudah tak ingin hidup lagi dan lebih memilih menjadi burung panggang makanya kau berani berkata seperti itu terhadap ku" ucap Momo dengan dinginnya.
Mumu pun sangat kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan seniornya itu, dia tak pernah menyangka jika seniornya itu dapat mendengar semua yang dikatakannya meskipun saat ini dia sedang berada di dalam ruang dimensi "Ah aku benar-benar sial" ucap Mumu di dalam hatinya, lalu kemudian dia pun dengan segera berkata "Maaf senior aku tidak akan mengulanginya lagi".
__ADS_1
Tak berselang lama Mumu pun telah menemukan liontin giok yang dikatakan Momo dengan segera dia pun membawa liontin giok itu keluar dari ruang dimensi "Senior, apakah ini liontin giok yang senior maksud" tanya Mumu sembari menyerahkan liontin giok itu pada Momo.
"Iya benar ini adalah liontin yang aku katakan tadi " ucap Momo sembari memperhatikan liontin itu dengan sesama.
"Prang" bunyi suara dari liontin yang dilempar Momo ke lantai dan menjadi beberapa bagian "Berani-beraninya laki-laki kurang ajar itu mencoba mengendalikan orang yang telah mengikat kontrak dengan ku, untung saja selama ini nona tidak memakai liontin itu jika tidak aku yakin saat ini nona sudah bersama dengan orang itu karena terkena sihir pencuci otak tingkat tinggi yang sengaja dimasukkan ke dalam liontin itu" ucap Momo dengan sangat kesal dan dia pun telah berencana akan segera memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada laki-laki itu hingga membuat laki-laki itu tidak akan pernah melupakannya.
"Senior benar aku pun juga merasa sangat kesal mendengar hal itu, tolong biarkan aku saja yang memberikan pelajaran kepada laki-laki busuk itu senior, aku yakin aku dapat melakukannya dan aku juga dapat menjamin jika senior tidak akan kecewa dengan ku kali ini, selain itu tubuh ku pun telah pulih sepenuhnya sudah saatnya aku harus merenggangkan badan untuk melihat kemajuan yang aku dapatkan selama berlatih bersama dengan senior" ucap Mimi dengan penuh harap.
Mendengar perkataan Mimi itu Momo pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda jika dia setuju dengan apa yang baru saja dikatakan Mimi "Baiklah, aku akan menyerahkannya padamu namun jika apa yang kau lakukan nantinya kepada orang itu hanya membuat aku kecewa maka kau harus menggantikan orang itu untuk menerima amarah ku" ucap Mumu dengan acuh tak acuh.
Setelah beberapa saat pembicaraan mereka selesai, Mimi pun dengan segera meminta izin pada Momo untuk dapat segera pergi ke tempat laki-laki busuk itu berada, setelah mendapatkan izin dari Momo, Mimi pun tak lupa berpamitan dengan Mumu yang kini telah menjadi rekannya.
"Aku harap dia benar-benar memberikan pelajaran yang tak terlupakan untuk laki-laki itu, jika dia tidak melakukannya sesuai dengan standar ku maka akan kupastikan sayapnya itu hilang untuk selama-lamanya" ucap Momo dengan acuh tak acuh sedangkan Mumu yang mendengar perkataan itu pun bergidik ngeri sembari membayangkannya.
__ADS_1
Di tempat lain kini Nana tengah berusaha mencari jalan keluar karena dia tersesat di bagian hutan terdalam, namun hal itu pun tak berlangsung lama karena pada saat yang sama ditempat itu ada seorang tabib tua bersama para muridnya sedang mencari tanaman obat, karena mengetahui Nana tersesat mereka pun membawa Nana keluar dari hutan itu bersama mereka.
"Apakah benar jika saat ini aku berada di perbatasan kekaisaran barat" ucap Nana yang kaget setelah mengetahui dimana saat ini dia berada, karena dia tak menyangka jika dia akan terpisah begitu jauh dengan nonanya juga teman-temannya yang lain.
Setelah berbicara beberapa saat akhirnya Nana pun menerima tawaran dari tabib tua itu untuk ikut dengannya kembali kekediamannya, sesampainya di kediaman tabah tua itu Nana pun dikejutkan dengan identitas dari tabib tua yang menolongnya saat dihutan tadi.
"Apakah semua ini benar? Aku tak percaya jika aku bertemu dengan seorang tetua agung dari akademi matahari yang terkenal karena keahliannya dalam hal racun" ucap Nana di dalam hatinya sembari beberapa kali mengusap-usap matanya untuk memastikan jika apa yang dilihatnya itu nyata.
"Nak, silahkan masuk para murid ku akan mengantarkan kau ke kamar yang akan kau tempati selama kau berada disini" ucap tetua agung dari akademi matahari tersebut dengan ramah.
Nana yang mendengar perkataan dari tetua itu pun menundukkan kepalanya "Terima kasih banyak tetua agung karena telah menolong ku dan juga telah sudi memberikan tempat tinggal sementara untukku, aku juga ingin meminta maaf pada tetua agung karena telah merepotkan tetua agung" ucap Nana dengan sangat tulus.
"Aku yakin jika kau berada diposisi ku, kau juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan ku" ucap tetua agung tersebut.
__ADS_1
Nana yang mendengar tetua agung berkata seperti itu dengan segera manganggukkan kepalanya "Tentu saja aku akan melakukan hal yang, sebab setiap kebaikan yang kita lakukan akan menjadi hal baik untuk diri kita sendiri" ucap Nana sembari tersenyum dengan penuh ketulusan dan dia pun kemudian meminta izin untuk pergi menuju kamar yang telah disediakan untuknya selama tinggal di akademi matahari.
"Entah kenapa melihat anak itu membuat aku teringat dengan cucu perempuan ku yang telah meninggal belasan tahun lalu andai saja cucu perempuan ku itu masih hidup aku sangat yakin pasti dia akan seumuran dengan gadis itu" batin tetua agung akademi matahari sembari mengingat cucu perempuannya yang mati dengan kedua orang tuanya karena diserang oleh para pembunuh bayaran ketika sedang dalam perjalanan menuju akademi matahari untuk mengunjunginya.