
"Ayo kita segera kembali ke kediaman karena kita harus segera membawa Nana pergi dari hutan ini sebelum hari semakin gelap" ucap Maeli Su sembari naik ke atas punggung kudanya.
Mereka semua pun segera bersiap-siap dan naik ke kuda masing-masing, karena Nana tak sadarkan diri Leo memutuskan untuk membawa Nana bersamanya sedangkan kuda yang sempat ditunggangi Nana dibawa oleh Alan.
Tak berselang lama mereka pun telah sampai di kediaman Maeli Su dengan segera Leo mengangkat tubuh Nana ke tempat yang telah disiapkan oleh Lili.
Leo dan Alan pun izin kembali ke ruangan mereka setelah sempat berbincang-bincang lebih dahulu bersama Lili dan juga nonanya.
Kini tinggalah Maeli Su, Lili dan juga Nana di ruangan itu "Lili tidurlah tidak akan terjadi apa-apa pada Nana jangan sampai malah kau yang menjadi sakit" ucap Maeli Su.
Mendengar perkataan nonanya Lili pun memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu walaupun sebenarnya dia tak ingin melakukan itu karena dia sangat khawatir dengan keadaan Nana saat ini.
Setelah kepergian Lili, Maeli Su pun mengeluarkan pil level sembilan yang merupakan level tertinggi untuk membantu mempercepat tubuh Nana dalam menguraikan racun itu.
Maeli Su pun menghaluskan pil itu dan langsung mencampurnya dengan air agar memudahkannya masuk kedalaman mulut Nana.
Setelah selesai memberikan pil itu Maeli Su pun memutuskan untuk segera kembali ke kamarnya dan segera beristirahat karena tubuhnya terasa sangat lelah hari ini.
Tok... Tok... Tok...
Suara pintu yang di ketuk berulang-ulang kali hingga membuat Maeli Su pun terganggu dari tidurnya yang lelap.
"Siapa itu kenapa pagi-pagi begini mengganggu ketenangan ku saja" ucap Maeli Su sembari berjalan ke arah sumber suara.
__ADS_1
Maeli Su pun membuka pintu itu dan tampaklah Lira Su bersama selir Zia Le di hadapannya.
"Untuk apa pagi-pagi seperti ini kalian mengganggu tidur ku" ucap Maeli Su dengan wajah kesalnya.
Mereka berdua pun sedikit takut melihat raut wajah Maeli Su saat ini namun mereka sama sekali tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada saat ini.
"Eh sampah aku ingin membuat perhitungan dengan mu, sebelum aku melakukannya segeralah bersujud dan meminta maaf pada ku" ucap Lira Su dengan angkuhnya.
"Benar apa yang dikatakan anak ku, asal kau tau saat ini anakku bukanlah saingan mu" sambung selir Zia Le yang tak kalah angkuh dari putrinya Lira Su.
Maeli Su menjadi semakin jengkel setelah mendengar perkataan ibu dan anak itu "Aku tidak akan pernah meminta maaf padamu jika kau mau membuat perhitungan silahkan lakukan saja, oh iya selir Zia Le mana mungkin aku disaingkan dengan anak mu yang hanya seorang selir itu jelas kita beda tempat" ucap Maeli Su masih sambil berdiri di depan pintu rumahnya.
"Apa maksud mu mengatakan aku beda tempat dengan mu, oh atau jangan-jangan kau baru sadar ya jika sekarang tempat ku berada di kediaman pangeran keempat sedangkan kau hanya di kediaman keluarga Su saja" ucap Lira Su dengan bangganya.
"Aduh, kau benar-benar luar biasa karena pagi-pagi begini telah dapat membuat ku tertawa terbahak-bahak hingga sakit perut seperti ini" ucap Maeli Su sembari memegang perutnya yang tegang.
"Mungkin kalian tidak paham dengan perkataan ku, karena kalian telah berhasil membuat ku tertawa maka dengan sukarela aku akan menjelaskannya" sambung Maeli Su.
Selir Zia Le dan Lira Su pun menatap semakin lekat ke arah Maeli Su "Maksud ku kita beda tempat itu, kau hanya ditempatkan untuk menjadi seorang selir sedangkan aku kini tengah diperebutkan untuk menjadi seorang permaisuri lalu bagaimana mana bisa seorang selir disaingkan dengan seorang permaisuri bukankah keduanya itu memiliki tempat yang sangat jauh berbeda" jelas Maeli Su sembari menekankan kata selir dan juga permaisuri di kata-kata yang dikeluarkannya.
Seketika wajah Lira Su pun memerah karena sangat marah dia pun dengan segera melayangkan tangannya untuk menyentuh wajah Maeli Su.
Belum sempat tangan itu menyentuh wajah Maeli Su, Maeli Su sudah lebih dahulu menangkap tangannya dan mendaratkan sebuah tamparan di pipi Lira Su dengan sedikit kuat hingga meninggalkan bekas merah.
__ADS_1
"Anggaplah tamparan itu sebagai penjelas status mu yang hanya menjadi seorang selir" ucap Maeli Su yang kemudian mendorong tangan Lira Su hingga membuatnya mundur beberapa langkah kebelakang jika tak ada selir Zia Le yang menahan tubuhnya sudah di pastikan Lira Su akan terjatuh ke lantai.
"Dasar sampah yang tidak memiliki tata krama, seenaknya saja kau menampar dan mendorong putri ku" ucap selir Zia Le dengan penuh emosi.
"Apakah SE-LIR Zia Le tak memiliki mata hingga tak melihat jika putri mu lah yang lebih dahulu ingin menampar ku, dan berbicara mengenai tata krama bukankah Kalian yang tak memiliki tata krama sama sekali hingga pagi-pagi seperti ini membuat keributan di kediaman ku" ucap Maeli Su sembari menekankan kata selir.
Mendengar perkataan Maeli Su tersebut membuat selir Zia Le tak dapat mengeluarkan kata-kata apapun lagi begitu pula dengan Lira Su, melihat keduanya hanya diam Maeli Su pun kembali masuk ke kediamannya sembari menutup pintu dengan sangat keras hingga membuat selir Zia Le dan Lira Su terkejut.
Mereka berdua pun segera meninggalkan tempat itu sembari mengeluarkan sumpah serapah di sepanjang perjalanan.
Kejadian tersebut sangatlah berbeda dengan apa yang direncanakan selir Zia Le beserta anaknya itu, awalnya mereka ingin membuat Maeli Su takut lalu meminta maaf kepada mereka namun apa yang terjadi malah sebaliknya mereka yang ketakutan hingga mereka pun memutuskan segera pergi sebelum Maeli Su datang kembali dan membuat mereka semakin menderita.
"Benar-benar pagi yang mengesalkan" ucap Maeli Su yang kini tengah duduk di kursi yang berada di ruang tamunya.
"Hai kenapa wajah mu sekusut itu" ucap Momo yang kini telah duduk di samping Maeli Su.
Maeli Su pun menarik nafasnya dalam-dalam dan segera mengeluarkannya "Bagaimana wajah ku tak kusut seperti ini kau tau selir Zia Le dan anaknya yang juga telah menjadi selir itu datang pagi-pagi kesini untuk menganggu tidur lelap ku" ucap Maeli Su dengan kesal.
Mendengar perkataan Maeli Su seketika Momo pun tertawa "Hahahahahaha, kau benar-benar sial sekali, ah kenapa aku bisa melewatkan pertunjukan semenarik itu sih" ucap Momo.
"Hei Momo berhentilah mengejek ku sebelum ku cekik leher mu itu" ucap Maeli Su yang semakin bertambah kesal karena diejek Momo.
"Nah silahkan cekik saja, aku sama sekali tak takut dengan perkataan mu itu" ucap Momo dengan santai.
__ADS_1
Mumu yang melihat hal itu tak berani mengatakan apapun karena dia tak ingin membuat Maeli Su ataupun Momo marah sebab mereka berdua bukanlah tandingannya.