Permaisuri Jadi Rebutan

Permaisuri Jadi Rebutan
Enak Saja


__ADS_3

"Selamat datang dikediaman ku, dan bagaimana keadaan kalian? Sepertinya kita sudah lama tak bertemu" ucap Maeli Su yang baru saja datang keruangan dimana selir Zia Le dan Lira Su berada setelah satu jam lebih dia mengabaikan mereka.


"Dasar kau sampah berani sekali kau membuat ku dan ibunda ku menunggu mu selama ini" ucap Lira Su dengan penuh emosi.


Maeli Su pun tidak menghiraukan amarah Lira Su "Apakah kau datang kesini ada pemberitahuan terlebih dahulu? Atau kah kau kesini ada undangan dari ku? Jika tidak ada maka mau tak mau kau harus menunggu ku dan satu lagi aku tak memaksa kalian untuk menunggu ku, kalian bisa saja pergi dari ruangan ini ketika telah merasa lelah menunggu" ucap Maeli Su santai namun membuat Lira Su tak dapat berkutik lagi.


"Jadi apakah kalian ingin segera pergi" tanya Maeli Su dengan acuhnya.


Selir Zia Le pun dengan seketika meminta maaf atas kelakuan putrinya dan meminta putrinya untuk diam karena dia baru tau jika Maeli Su yang sekarang sangatlah berbeda dengan yang dulu bahkan dia tak dapat melihat kesamaan dari keduanya sama sekali.


"Begini kami datang kemari karena ingin meminta dekrit pembebasan pernikahan yang telah kaisar berikan kepada mu" ucap selir Zia Le tanpa berbasabasi.


"Kenapa kalian meminta sesuatu yang merupakan milikku" ucap Maeli Su sembari tersenyum mengejek ke arah mereka berdua.


Selir Zia Le pun sudah tak sabar harus bersikap sopan dengan orang yang selama ini hanya menjadi sampah bagi kediaman ini, memangnya kenapa jika wajahnya telah menjadi cantik sampah tetaplah sampah pikir selir Zia Le.


"Sudahlah berikan saja secepatnya jangan sampai aku bertindak kasar padamu seperti dulu" ucap Selir Zia Le dengan tatapan sinisnya dan hal itu membuat Lira Su merasa senang hingga tanpa segan dia pun ikut menatap sinis ke arah Maeli Su.


"Maaf aku tidak bisa memberikannya" ucap Maeli Su masih dengan nada yang ramah.


Selir Zia Le pun sangat marah mendengar hal itu "Kurang ajar, atas dasar apa sampah seperti mu dapat menolak permintaan ku, cepat berikan padaku sebelum ku robek habis wajah cantik mu itu" ucap selir Zia Le yang mulai berdiri dari tempat duduknya sembari menunjuk-nunjukkan tangannya ke arah Maeli Su.

__ADS_1


"Lakukan saja jika kau mampu, yang jelas aku tak akan pernah memberikannya kepada siapapun termasuk dirimu" ucap Maeli Su dengan suara yang mulai meninggi.


Dengan seketika selir Zia Le berdiri di hadapannya dan ingin menampar wajahnya, namun sayang tamparan itu tak mengenai wajah Maeli Su karena tangannya lebih dahulu di pegang oleh Maeli Su.


"Lepaskan, lepaskan tanganku dasar sampah" Teriak selir Zia Le.


Mendengar hal itu seketika Maeli Su pun mendorong kuat tangan selir Zia Le hingga membuatnya menabrak kursi yang sebelumnya dia duduki.


"Kalian yang datang ke kediaman ku malah kalian juga yang membuat ulah, jangan kira aku masih sama seperti dulu yang bisa kalian hina dan pukuli, dengar baik-baik aku akan membalas perbuatan yang kalian lakukan pada ku hari ini berkali-kali lipat" ucap Maeli Su dengan nada mengancam.


Mendengar perkataan itu seketika membuat Lira Su tertawa "Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh sampah seperti mu" ucap Lira Su dengan nada mencemooh.


"Jika kau penasaran apa yang bisa aku lakukan maka lihatlah" ucap Maeli Su yang langsung memukul meja yang berada dihadapan mereka dan seketika meja itu terbelah menjadi empat.


"Lihat lah baik-baik meja ini, jika kalian membuat ku kesal bisa jadi kalian akan bernasip sama seperti meja ini" ucap Maeli Su dengan santai namun dipenuhi dengan tatapan yang mematikan.


Seketika mereka pun berlari dengan sangat kuat dari ruangan itu bahkan tanpa mengucapkan satu kata pun, semua itu dapat mereka lakukan karena rasa takut yang sedang mereka alami lebih besar dari pada logika mereka sendiri.


Lili dan Nana yang melihat hal itu pun tertawa dengan sangat keras, hingga panggilan dari nonanya membuat mereka dengan serta merta diam.


"Lili, Nana tolong kalian bersihkan ke kacauan ini dan juga beli kembali meja dengan kualitas di atasnya dan meja tersebut sudah harus ada hari ini juga" ucap Maeli Su yang kemudian pergi ke kamar tidurnya.

__ADS_1


"Baik nona" ucap mereka secara bersamaan.


Mereka pun membersihkan pecahan meja itu dan sekali-kali tertawa kecil mengingat kejadian yang mereka lihat tadi.


Sedangkan di luar kediaman, Leo dan Alan merasa aneh sekaligus lucu melihat selir Zia Le dan nona kedua beserta para dayangnya lari terbirit-birit dari dalam ruangan nona mereka hingga tanpa sadar mereka pun ikut menertawakannya.


Rombongan selir Zia Le berlari sangat jauh hingga tanpa sadar mereka telah melewati kediaman nyonya rumah dan juga kediaman utama, hingga membuat mereka semua menjadi bahan tontonan sekaligus bahan tertawaan disepanjang jalan. .


Mereka pun segera kembali ke kediaman mereka, sebab mereka tak mungkin melakukan apapun terhadap orang yang sebanyak itu, akhirnya mereka pun kembali dengan membawa rasa malu.


Di kediaman Maeli Su kini Lili dan Nana telah selesai membersihkan pecahan meja, mereka pun segera bergegas kepasar untuk membeli meja baru sesuai dengan yang diminta oleh nonanya.


"Tunggu sebentar, apa yang terjadi hingga selir Zia Le dan nona kedua beserta para dayangnya berlari secepat itu" tanya Alan yang penasaran.


Lili pun dengan seketika menceritakan semua kejadian yang terjadi di dalam kediaman tadi, dan sontak membuat Alan tertawa sangat keras sedangkan Leo hanya menyunggingkan senyumnya.


Setelah berbincang-bincang sejenak, Lili dan Nana pun dengan segera melanjutkan perjalanan mereka, karena mereka tak mau membuat nona mereka kecewa terhadap pekerjaan mereka.


Di tempat lain di kediaman nyonya rumah, nyonya rumah kini telah memanggil salah satu pelayan kepercayaannya "Ada kejadian apa di luar sana sehingga membuat suara tawa terdengar dimana-mana" tanya nyonya rumah yang penasaran.


"Ampun nyonya, suara tawa itu disebabkan karena para pelayan dan juga para pengawal melihat selir Zia Le beserta nona kedua dan juga para dayangnya lari terbirit-birit dan sepertinya mereka baru saja dari kediaman nona pertama" jawab pelayan itu dengan sangat hormat.

__ADS_1


Nyonya rumah pun seketika membayangkan hal tersebut dan tanpa sadar dia pun tertawa kecil, dan pelayan yang melihat hal itu hanya terdiam dan kembali ke tempatnya semula.


"Benar-benar pertunjukan yang sangat menarik sayang sekali aku tak dapat menyaksikannya secara langsung" batin nyonya rumah yang kembali mengerjakan pekerjaannya.


__ADS_2