
di sebuah bangunan yang tinggi, ruangan dingin yang luas alby sedang duduk memandangi jendela dengan pandangan kosong, dia memang banyak pekerjaan namun tidak harus di kerjakan saat weekend, tapi karena alby merasa canggung dan tidak tau harus berbuat apa jika terus berada di ruangan yang sama dengan kyra akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kantornya saja.
"sampai kapan seperti ini, aku gak mungkin terus menghindari dia" gumam alby kepada dirinya sendiri.
hari demi hari berlalu, alby masih tetap menghindari kyra, dia selalu berangkat kerja tepat sebelum kyra keluar dari kamarnya dan pulang setelah kyra sudah terlelap, padahal di jika kerjaannya sudah selesai alby hanya duduk atau bahkan tidur di ruangannya.
walaupun satu rumah mereka sama sekali tidak pernah bertemu, alby juga tidak tau apa yang di lakukan kyra dan juga dia tidak mau tau, asalkan kyra baik baik saja selebihnya itu bukan urusan dia begitulah pikirnya.
tok tok tok
seseorang datang setelah alby menyuruhnya untuk masuk, dia kira karyawan yang datang namun ternyata itu adalah sahabatnya.
"gue liat liat kayanya belakangan ini semangat kerja lo lebih gila dari biasanya" ucap devan, dia melihat bahwa belakangan ini alby sering sekali pulang larut malam.
devan adalah sahabat alby sejak mereka masih kuliah, devan adalah anak dari pemilik restoran terkenal yang mana salah satu cabangnya berada di dekat perusahaan alby, itulah mengapa devan bisa tau jika sahabatnya itu sering pulang larut malam.
"ko tau, lo stalking gue ya?" ucap alby bergidik ngeri.
"idih ngeri banget, mending gue stalking cewek cantik dari pada cowok ke lo ini" ejek devan.
__ADS_1
"terus ko lo bisa tau?" tanya alby kini alby duduk mendekat kepada devan.
"gue lagi ngurusin resto yang deket sini, terus karena jarak dari sini ke rumah itu jauh makannya gue beli apartemen disini, dan kebeneran pemandangannya pas banget mengarah ke ruangan lo ini" jawab devan apa adanya, devan selalu melihat ruangan alby masih terang walaupun larut malam padahal ruangan lain lampunya sudah mati yang menandakan orang orang telah pulang.
"gak kasian sama istri lo apa?, dia nungguin lo sampe malem terus kaya gini, mana masih pengantin baru, kalo gue jadi istri lo udah gue tinggal kabur suami ke lo ini" ucap devan kepada alby sambil sedikit tertawa.
"justru gue sengaja pergi pagi pulang larut malem biar gue gak ketemu istri gue, gue gak tau harus kaya gimana, kalo pagi gue harus sapa dia kaya gimana?, harus memperlakukan dia seperti apa?, kalo pulang gue harus nanya dia apa? bahkan untuk ngucapin dia sebagai istri aja masih canggung banget tau gak" keluh alby kepada sahabatnya itu, memang sudah biasa bagi mereka berdua untuk bertukar cerita.
"terus lo mau sampai kapan kaya gini?" tanya devan, kali ini dia serius dengan ucapannya.
"gue juga gak tau, selama ini gue menghindar dan mencoba untuk berpikir bagaimana gue akan mengambil tindakan tapi sampai saat ini gue masih bingung" jawab alby wajahnya terlihat sangat frustasi sekali.
"lo yakin lo direktur?, ko kayanya jabatan itu gak cocok deh buat lo" ucap devan membuat alby bertanya-tanya dan sedikit kesal.
"ya masa direktur pikirannya sempit, gak bisa ngambil tindakan, itu tu contoh orang yang tidak bijaksana, contoh orang yang egois karena hanya memikirkan diri sendiri" ucap devan yang juga kesal karena sikap alby yang seperti ini.
"gue mungkin gak bisa ngerasain tapi setidaknya mungkin gue paham sedikit sama apa yang lo rasain, ini berat buat lo gue tau itu, tapi bukan cuma lo doang, ada istri lo yang mungkin merasakan hal yang sama kaya apa yang lo rasain, sama kebingungan nya kaya lo beberapa hari ini" ucap devan menggebu sedangkan alby hanya menunduk mencoba mencerna semua ucapan devan.
"masalah itu di hadapi bukan di hindari, masalah lo gak bakalan kelar kalo di hindari terus, kalo lo terus terusan menghindar selamanya lo gak akan pernah menemukan jalan keluar, yang ada lo terjebak dengan apa yang lo buat sendiri, ayo lah lo udah tua udah dewasa harusnya lo lebih berani dan mengambil langkah untuk menghadapi semuanya" ucap devan berharap jika sahabatnya mau mendengarkan ucapannya, karena dia juga tidak tega jika melihat alby yang terus terusan seperti ini, istirahatnya menjadi kurang beban pikirannya menjadi bertambah mungkin tidak lama lagi pertahanan tubuh alby akan tumbang jika dibiarkan terus seperti ini.
__ADS_1
"lo bener harusnya gue berani melangkah menghadapi ini bukan malah lari tak tentu arah" ucap alby setelah lama diam berpikir.
"nah gitu dong, ini baru namanya sahabatnya gue, direktur muda incaran cewek kantor tapi tidak tertarik untuk menjalani sebuah hubungan karena terlalu gila kerja" ucap devan meledek alby, bukan rahasia lagi jika di kantor banyak yang menyukai alby, namun tidak satupun dari mereka dapat menarik perhatian alby, karena bagi alby pekerjaan lebih penting dari pada menjalin hubungan.
"thanks ya, kalo gak ada lo mungkin gue bakalan terus seperti ini" ucap alby berterima kasih kepada sahabatnya itu.
"santai aja kali, dah lo balik sekarang gak liat tuh udah mau jam 11 malem" ucap devan sambil menunjuk jam menggunakan kepalanya yang sedikit mendongak ke atas.
"oh iya, ya udah ayo keluar" ucap alby lalu berdiri dan bergegas mengambil barang barangnya untuk dibawa pulang.
...****************...
alby memasuki apartemen miliknya, seperti biasa sudah sangat sepi, sepertinya kyra sudah tertidur, alby berjalan menuju kamarnya namun saat ingin membuka pintu kamarnya dia mendengar suara musik yang berasal dari kamar kyra.
"belum tidur ya?" gumam alby pelan, lalu berjalan menuju kamar kyra, tidak biasanya pintu kamarnya terbuka sedikit, pantas saja alby bisa mendengar suara musik karena pintunya tidak tertutup rapat, padahal biasanya ketika alby pulang pintu kamarnya selalu tertutup rapat.
"hiks hiks papa hiks hiks kyra kangen papa hiks, kyra sendirian disini hiks, papa hiks" ucap kyra di dalam kamar sembari menangis dan memeluk foto sang ayah.
aku sampai lupa kalo dia pasti masih merasa sedih dan kesepian karena kepergian ayahnya, devan bener, aku egois karena cuma memikirkan tentang diriku tanpa memikirkan bahwa posisi kamu mungkin lebih berat. ucap alby dalam hatinya, sekarang dia merasa bersalah karena telah menghindari kyra dan membuatnya kesepian, seharusnya dia bisa menjaga kyra bukan malah menghindari nya.
__ADS_1
"maaf" lirih alby dengan suara yang sangat pelan agar tidak di dengar oleh kyra.
alby memutuskan untuk pergi dan membiarkan kyra menggunakan waktunya untuk melampiaskan semua perasaannya, alby pergi menuju kamarnya untuk segera beristirahat dan berjanji kepada dirinya sendiri untuk menghadapi semuanya mulai besok.