
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit akhirnya Sky sampai di mansion utama, dan beruntungnya dia karena sang pemilik mansion yang bernama Boy Arbeto itu mengijinkannya masuk seolah tahu akan kedatangannya. Bahkan pria yang berstatus sebagai sepupu Alana itu langsung menyambutnya masuk.
"Sesuai perkiraanku, duduklah!" Boy mempersilahkan Sky untuk duduk, karena memang sudah menunggu pria itu sejak Alana menghubunginya sambil menangis.
"Aku datang kemari ingin menjemput istriku." Jelas Sky tanpa berniat sedikitpun untuk duduk. Karena ia tahu dibalik keramahan tamahan seorang Boy Arbeto mengandung sesuatu yang mematikan. Jika diibaratkan tangan kanan pria itu bisa membuatnya masuk rumah sakit, sedangkan tangan kirinya bisa membuat Sky langsung bertemu dengan sang pencipta.
"Aku tahu, duduklah!" Ucap Boy dengan tersenyum namun dengan tatapan mengintimidasi, hingga membuat setiap lawannya tak bisa berkutik.
Begitu pun dengan Sky, mau tidak mau pria itu duduk dari pada membuat seorang Boy Arbeto marah. Karena tujuannya datang ke mansion utama untuk bertemu Alana, bukan untuk bertemu malaikat pencabut nyawa.
"Jadi kita akan mulai dari mana?" Tanya Boy sembari menggulung lengan kemeja yang dikenakannya, tanpa mengalihkan tatapan pada Sky. Pada pria yang telah berani membuat Alana menangis.
__ADS_1
"Semua hanya kesalahpahaman." Jelas Sky dengan cepat, karena ia tahu Alana pasti sudah menceritakan apa yang terjadi di mansion Dwight sampai membuat wanita itu pergi.
"Kesalahpahaman?" Boy menarik satu sudut bibirnya dengan sinis.
"Ya, akhir-akhir ini emosi Alana tidak stabil dan sangat cemburuan, itu sebabnya aku menjaga jarak agar hubungan kami tidak semakin memanas. Tapi tadi..." Sky menghela napasnya terlebih dahulu. "Alana menghempas tangan Rachel hingga membuat wanita itu jatuh dari tangga. Aku lebih mengutamakan menyelamatkan Rachel, karena tidak ingin Alana terkena masalah apalagi sampai terjerat kasus hukum." Jelas Sky panjang kali lebar meskipun Boy tidak memintanya untuk menjelaskan.
"Begitu?" Ucap Boy dengan singkat.
Sky menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lega, karena Boy terlihat menerima penjelasannya. Namun senyum itu berganti dengan helaan napas panjang saat melihat kedatangan Agam Mateo.
Bruk.
__ADS_1
Agam melempar dengan kasar berkas yang diminta Boy ke atas meja tepat dihadapan Sky, membuat Sky terkejut dan tanpa sadar mengambil ancang-ancang dengan mengarahkan tinju pada Boy dan Agam.
"Punya nyali rupanya dia mengajak kita bertarung." Ucap Agam sembari berdiri di samping tempat duduk Boy.
Sky yang tersadar langsung menurunkan tangannya. "Tidak, aku hanya..."
"Jangan membuatnya takut A..." Sahut Boy dengan tersenyum tipis, dan didetik selanjutnya senyum itu lenyap berganti dengan aura dingin yang mencengkam. "Ambil berkas itu dan lihat dengan teliti!"
Sky mengambil berkas yang ada di atas meja dengan segera tanpa disuruh dua kali, karena tidak ingin membuat Boy Arbeto semakin marah.
"Dengar Sky Dwight! Aku tidak peduli ada kesalahpahaman apa diantara kalian." Boy merasa ucapan Sky memang jujur tentang emosi Alana yang tidak stabil, karena tadi pun Boy dibuat bingung dengan sikap Alana.
__ADS_1
Karena sebelum sampai di mansion utama, sepupunya itu menangis minta tolong untuk memberikan pelajaran pada keluarga Dwight terutama Sky. Tapi setelah sampai di mansion, Alana justru marah dan tak terima saat ia memberitahu akan menyuruh para bodyguard nya untuk menghajar Sky. Alana bilang cukup dengan memberikan bukti-bukti pada Sky, kalau selama ini Rachel menjadi simpanan para pengusaha. Juga memintanya untuk memastikan janin milik siapa yang ada di kandungan Rachel.
"Tapi aku tidak terima Alana ditampar oleh Nyonya Sandra!" Ucap Boy dengan tegas dan tak terbantahkan.