
Sky sendiri tidak mempedulikan perkataan Boy, karena fokusnya kini pada berkas yang ada ditangannya. Disana banyak sekali foto Rachel bersama para pria yang tidak ia kenal, dan pastinya bukan teman Rachel dari kalangan selebriti. Dan yang lebih membuat Sky terkejut adalah foto Rachel bersama Calvin di sebuah apartemen yang ada di Jakarta.
"Jadi yang dikatakan Alana benar, Rachel dan Calvin memiliki hubungan. Itu artinya kemungkinan besar janin yang ada di kandungan Rachel bukan milikku tapi milik Calvin?" Gumam Sky pada diri sendiri saat teringat perkataan Alana beberapa hari yang lalu.
"Kita akan mengetahuinya setelah hasil tes DNA keluar." Ucap Boy yang mendengar gumaman Sky.
"Hasil tes DNA?" Sky bingung. Bagaimana bisa ada hasilnya kalau ia merasa belum melakukan tes tersebut.
"Sudah kau jangan banyak berpikir." Ucap Boy sembari beranjak dari tempat duduknya.
Ya, Boy memang sudah mengerjakan semuanya saat Alana menghubungi lewat telepon. Ia langsung memerintahkan orang rumah sakit tempat dimana Rachel di rawat, untuk melakukan tes DNA pada kandungan wanita itu dengan rambut Sky yang dimilki Alana.
"Dari pada kau memikirkan hal tersebut, lebih baik kau memikirkan nasib perusahaan Dwight. Karena aku sedikit bermain dengan perusahaan keluargamu." Ucap Boy dengan tersenyum sinis, bertepatan dengan dering ponsel milik Sky.
Dengan cepat Sky mengambil ponselnya, menatap layar yang menampilkan nama Dad Dwight.
"Angkat saja! Siapa tahu penting." Ucap Boy sembari memberi kode pada para pengawalnya untuk mendekat.
__ADS_1
Sky pun segera mengangkat panggilan tersebut, karena merasa khawatir dengan apa yang dikatakan Boy Arbeto tentang perusahaan keluarga Dwight. Dan benar saja, Daddy nya mengabarkan kalau saham perusahaan Dwight turun drastis dalam waktu singkat. Jika terus seperti itu, bukan tidak mungkin perusahaan Dwight akan bangkrut.
Tentu saja hal tersebut membuat Sky marah, karena Boy dengan mudahnya membuat perusahaan Dwight goyang hanya karena permasalahan pribadinya bersama Alana.
"Boy, kau...!" belum sempat meneruskan perkataannya. Sky dibuat terkejut saat ke-dua tangannya ditahan oleh beberapa pria berjas hitam yang pastinya para pengawal pribadi keluarga Arbeto. "Lepaskan aku!"
"Melepasmu?" Boy tertawa mengejek. "Aku sudah memberikan hadiah untuk Nyonya Sandra karena sudah berani menampar Alana, dengan membuat perusahaan kalian sedikit goyang."
"Sedikit dari mana? Kau sudah membuat perusahaan kami hampir bangkrut." Sahut Sky dengan emosi.
"Tunggu dulu B! Ijinkan aku bertemu dengan Alana sebentar saja." Pinta Sky. Karena ia tahu tidak lama lagi dirinya akan berada di rumah sakit dengan luka lebam di seluruh tubuh, jadi Sky tidak akan tenang sebelum melihat kondisi wanitanya terlebih dahulu.
"Sayang sekali kau tidak bisa bertemu dengan Alana, karena sepuluh menit yang lalu dia sudah pergi."
"What? Tapi tidak mungkin, kau pasti—"
"A sekarang giliranmu!" Potong Boy dengan cepat, menyerahkan urusan menghajar Sky pada Agam Mateo.
__ADS_1
"Oke."
Agam yang sejak tadi diam langsung memberikan perintah pada para pengawal untuk membawa tawanan mereka ke tempat seperti biasa.
"A jangan lupa, kirim hasil fotonya pada Alana." Ucap Boy dengan tertawa puas, melihat bagaimana Sky diseret oleh anak buahnya dan Agam.
"Lepaskan! Aku ingin bertemu dengan Alana." Sky berusaha untuk melawan saat dibawa paksa, tapi karena posisinya tidak imbang karena satu lawan tiga, otomatis Sky kalah. "A lepaskan aku! Aku ingin meminta maaf pada Alana dulu, baru kau boleh —"
Bug.
Tanpa banyak kata Agam melepas bogem mentahnya tepat di wajah Sky, sampai membuat pria itu meringis kesakitan.
"Ya Tuhan, aku pasrahkan nyawaku ini. Tapi sebelum itu pertemukan aku dengan Alana terlebih dahulu." Pintanya dalam hati, yang kini pasrah menerima pukulan dari anak buah Boy Arbeto.
Sementara itu ditempat lainnya, Alana yang tengah tertidur siang langsung terbangun.
"Sky!" teriaknya dengan ketakutan.
__ADS_1