
Mendengar ucapan Sandra tentu saja Rachel bahagia.
"Terima kasih Nyonya Sandra, terima kasih sudah mau mempercayaiku." Rachel tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membodohi wanita tua itu lagi, hingga kembali percaya padanya. "Aku sudah tidak sabar pulang ke mansion Dwight."Ucapnya sembari membayangkan akan tinggal kembali di mansion mewah tersebut dengan segala fasilitas didalamnya.
""Siapa bilang kita akan tinggal di mansion Dwight?"
Rachel mengerutkan keningnya. "Kalau tidak tinggal disana kita akan tinggal dimana?" tanyanya dengan bingung. Namun sedetik kemudian ia tersenyum saat membayangkan akan tinggal di mansion mewah milik keluarga Dwight lainnya. Atau bisa jadi Nyonya Sandra sudah membelikannya sebuah apartemen mewah khusus ia tinggali tentunya bersama Sky, meskipun pria itu tidak pernah menampakkan batang hidungnya sama sekali semenjak ia dirawat.
"Kita akan tinggal di rumah petak yang sangat kecil. Karena mansion Dwight sebentar lagi akan di lelang untuk menutup kerugian perusahaan suamiku yang bangkrut. Dan bukan hanya mansion Dwight, tapi seluruh aset yang kami miliki termasuk apartemen Sky." Jelas Sandra dengan berbohong tentunya.
"What? Anda pasti bercanda? Mana mungkin perusahaan Dwight bangkrut?" Rachel tertawa sembari menggelengkan kepalanya. Mana mungkin ia percaya begitu saja pada kabar tersebut, apalagi kabar bangkrut itu bertepatan dengan terbongkarnya hasil tes DNA pada kandungannya.
__ADS_1
"Untuk apa aku bercanda." Sandra mengeluarkan ponselnya, mencari berita tentang perusahaan suaminya yang hampir bangkrut lalu ditunjukkannya pada Rachel.
Rachel menatap ponsel milik Sandra, dimana didalamnya ada sebuah artikel yang memberitakan tentang bangkrutnya perusahaan Dwight.
"Sial! Bagaimana ini? Perusahaan keluarga Sky bangkrut." Gumamnya dalam hati dengan terkejut dan juga bingung. Tidak mungkin bukan Rachel mengorbankan kehidupan dan masa depannya hanya untuk memiliki Sky yang sudah jatuh miskin, sedangkan ia sendiri ingin memiliki Sky karena ingin hidup enak selain karena cinta tentunya. Terlebih membayangkan akan tinggal di sebuah rumah petak kecil, itu tidak akan pernah terjadi didalam kamus seorang Rachel Wijaya.
"Bagaimana, kau sudah percaya? Sekarang ikut aku pulang ke rumah baru kita." Sandra hendak melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat Rachel dengan tersenyum penuh kemenangan.
"Tunggu!" Rachel menahan langkah Sandra. "Ini serius kita akan tinggal di rumah petak?" tanya Rachel ingin memastikan.
"What? Jadi kalian belum membayar tagihan rumah sakitnya?" pekik Rachel dengan tak percaya.
__ADS_1
"Tentu saja belum, kami tidak memiliki uang untuk membayarnya." Sungguh sejak tadi Sandra ingin sekali tertawa melihat wajah Rachel yang terkejut dan pucat saat mengetahui kabar kebangkrutan keluarga Dwight, dan ditambah dengan belum dibayarnya tagihan rumah sakit.
"Sial! Ini sungguh sial! Aku tidak mau hidup miskin bersama mereka, bahkan untuk membayar tagihan rumah sakit saja mereka tidak punya," umpat Rachel dalam hati.
"Ayo Rachel, kita harus secepatnya pulang! Aku takut penagih hutang dari rekan bisnis suamiku datang kemari."' Sandra menarik tangan Rachel.
"A-apa?" Rachel menghempaskan tangan Sandra. Ia tidak mau ikut hidup susah apa lagi terlibat hutang keluarga Dwight. "Maaf Nyonya Sandra, aku tidak bisa tinggal bersama kalian. Aku akan pulang ke apartemen ku sendiri."
"Tidak bisa begitu Rachel, kau tidak boleh tinggal terpisah dengan kami karena ada keturunan Dwight di dalam kandunganmu." Sandra mengusap perut Rachel dengan berpura-pura menyayangi.
"Karena ada keturunan Dwight, aku tidak bisa tinggal di rumah yang kecil. Kasihan anak ini." Rachel ikut mengusap perutnya dengan berpura-pura mengkhawatirkan kandungannya.
__ADS_1
"Kau benar, kalau begitu kami yang akan tinggal di apartemen milikmu."
"Apa?" Pekik Rachel dengan kedua mata yang terbelalak. Mana mungkin ia sudi menampung ke-dua orang tua Sky untuk tinggal di apartemennya.