
Di tempat lain, tepatnya di sebuah apartemen mewah yang dimiliki oleh seorang wanita cantik yang merupakan keturunan dari keluarga Ricardo, Aluna tampak bersin-bersin sejak lima menit yang lalu. Dia tidak menyadari bahwa ada dua orang yang sedang membicarakannya hingga membuatnya bersin-bersin.
"Sepertinya aku kena flu," kata Aluna sambil menggosok hidungnya yang kemungkinan besar sudah memerah.
Baru saja dia beranjak dari tempat duduknya dan hendak masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian formal. Aluna harus menghadiri pertemuan dengan klien yang penting yang ingin bekerja sama dengan hotel yang dikelolanya. Namun, Aluna lebih dulu dikejutkan oleh dering ponselnya yang berbunyi.
"Sky? Mau apa lagi dia?" Tidak bersemangat, Aluna menjawab panggilan tersebut. Bagaimana tidak, kakak iparnya itu belum menepati kesepakatan mereka.
"Aluna, boleh aku minta tolong?" Sahut Sky yang masih berada di ruang tengah di dalam apartemennya.
"Tidak!" jawab Aluna singkat, padat, dan jelas.
"Oh, ayolah Aluna, bukankah kita satu tim?" rayu Sky dengan memohon.
"Satu tim? Kau pikir kita pemain sepakbola? Sudahlah, aku malas berbicara dengan seseorang yang ingkar janji. Aku tutup teleponnya..."
"Tunggu-tunggu! Kau tidak mau membantuku karena Erik?" Kata Sky.
"Ya, memangnya karena apa lagi? Kau lupa atau pura-pura lupa? Kau bilang ingin membantuku berkencan, tapi di mana?"
__ADS_1
Sky baru mengerti mengapa adik iparnya menolak permintaannya, jadi ia langsung menjelaskan bahwa dirinya sudah memerintahkan Erik untuk berkencan dengan Aluna. Hanya saja, waktunya belum ditentukan karena ia sibuk mengurus Alana.
"Kau pasti bohong?" tanya Aluna setelah mendengar penjelasan Sky.
"Untuk apa aku berbohong? Kalau kau tidak percaya aku, aku akan menyuruh Erik menghubungimu sekarang juga."
"Benarkah?" tanya Aluna dengan antusias.
"Ya, tapi dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Oke," jawab Aluna.
Sky yang terkejut karena begitu mudahnya meminta bantuan pada Aluna, sampai menatap ponselnya dengan bingung.
"Sekarang suruh Erik menghubungiku. Aku tunggu lima menit dari sekarang!" ucap Aluna sembari menutup sambungan ponselnya.
Aluna yang kini menunggu telepon dari Erik, segera masuk ke dalam kamar untuk memoles wajahnya, agar terlihat lebih segar.
__ADS_1
"Hmm, apa yang kau lakukan Aluna? Erik itu hanya menelepon, bukan melakukan video call." Rutuk nya dalam hati sambil menatap ponselnya sambil berhitung dalam hati, dan tepat di hitungan ke lima, ponselnya berdering dan menampilkan nama Erik.
Ya, Aluna menyimpan nomor Erik dan sebaliknya. Namun, mereka tidak pernah saling menghubungi, atau lebih tepatnya, Erik yang tidak pernah menghubungi ponselnya.
"Halo..." Aluna mengangkat ponselnya dengan perasaan malu dan jantung yang berdetak cepat, seolah-olah Erik berada di hadapannya.
"Nona Aluna, bisa kita bertemu?"
"Tentu saja, di mana?" tanyanya dengan menahan rasa ingin teriak hanya karena mendengar suara Erik.
"Di Cafe Happiness, sekarang!"
"Oh, aku kira kau akan mengajakku ke catatan sipil." Seloroh Aluna dengan tertawa.
Namun tawa itu langsung terhenti saat panggilan dari Erik dimatikan begitu saja.
"Ish, dia itu benar-benar keterlaluan! Untung aku mencintainya, kalau tidak..." Aluna tidak meneruskan ucapannya, karena ia harus pergi sekarang juga agar tidak membuat Erik menunggu terlalu lama.
Aluna juga membatalkan pertemuan penting dengan kliennya, karena pertemuan dengan Erik jauh lebih penting baginya. Ya, Aluna memang sangat mencintai Erik, asisten pribadi kakak iparnya yang tampan.
__ADS_1