Pernikahan 99 Hari

Pernikahan 99 Hari
Part 69


__ADS_3

Alana menatap pria yang duduk disampingnya dengan wajah yang kesal, karena sudah berulangkali ia mengusir pria itu untuk pergi, namun bukannya menjauh pria itu justru mengikutinya dan memaksa ikut masuk ke dalam mobil, dengan alasan Alana masih sakit jadi dilarang menyetir kendaraannya sendiri. Padahal keadaan pria itu sendiri lebih mengenaskan dengan luka lebam yang pastinya terasa perih.


"Jangan menatap seperti itu, nanti kau semakin jatuh cinta padaku." Goda Sky, tanpa mengalihkan tatapannya pada jalanan. Karena saat ini ia sedang mengendarai kendaraan milik Alana.


"Ck..." Alana hanya membalas dengan decakan kesal. Mengalihkan tatapannya pada jendela mobil. "Aku harap saat persidangan nanti kau tidak mempersulit urusan perceraian kita."


"Tidak akan ada sidang Al, sudah aku katakan aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku juga ingin minta maaf, karena tidak percaya dengan yang kau katakan kalau kemungkinan janin yang ada dikandungan Rachel milik Calvin."


"Itu baru kemungkinan, kita tinggal tunggu hasilnya setelah tes DNA itu keluar." Sahut Alana dengan ketus. Bagaimana tidak ketus, melihat Sky berubah setelah diberi tahu siapa Rachel sesungguhnya. Kalau saja pria itu tidak diberitahu kenyataannya, apakah dia mau mempercayainya? Sama seperti dirinya yang selalu berusaha percaya, dengan tetap berada di samping pria itu saat mendengar kabar kehamilan Rachel.


"Aku yakin, janin itu bukan milikku." Ucap Sky dengan tegas.


Alana hanya diam tidak menggubris perkataan Sky, karena fokusnya kini pada apa yang disampaikan dokter Adrian tadi. Kalau memang dirinya hamil, apakah keputusan untuk berpisah dengan Sky adalah keputusan yang tepat? Tapi mengingat bagaimana perlakuan Mom Sandra selama ini, rasanya ia tidak sudih jika harus kembali dalam keluarga Dwight.


"Al kita sudah sampai." Sky menatap Alana yang terlihat melamun. "Al...!"

__ADS_1


"Ya." Alana yang tersadar dari lamunannya menatap Sky.


"Kita sudah sampai."


"Sampai? Kenapa cepat sekali." Alana pun menatap sekitarnya dengan kening berkerut. "Kenapa kemari?"


"Memangnya mau kemana? Bukankah tempat tinggal kita disini."


"Sky, bukankah sudah aku katakan. Aku ingin pulang ke apartemenku sendiri."


"Tidak Al, kau harus kembali ke tempat kita."


Sky pun menghela napas dengan panjang dan melepasnya dengan perlahan. Ia harus bersabar menghadapi Alana, menghadapi sifat keras kepala wanita yang sangat dicintainya itu.


"Baiklah kita ke apartemen mu." Sky mengendari kembali kendaraan Alana menuju apartemen wanita itu.

__ADS_1


Selama diperjalanan baik Alana maupun Sky saling diam tak ada yang bersuara. Hingga akhirnya mereka sampai ditempat yang dituju.


"Terima kasih." Ucap Alana setelah keluar dari dalam mobil, meminta kunci yang ada ditangan Sky.


"Tidak perlu berterima kasih." Sky memberikan kunci mobil tersebut pada Alana.


"Baiklah, aku masuk dulu." Alana sudah tidak sabar untuk mengetahui apa benar dia hamil, karena kebetulan di apartemennya ia menyimpan beberapa test pack untuk keperluan pasiennya. Namun langkahnya terhenti saat ia merasa diikuti dari belakang. "Kenapa mengikutiku?" Ia menatap tajam pada Sky.


"Siapa yang mengikutimu? Bukankah tempat tinggal kita sama."


Alana mengerutkan keningnya dengan bingung.


"Dimana pun kau tinggal, aku akan ikut. Begitu pun sebaliknya."


"Apa?"

__ADS_1


"Ayo kita masuk! Hari sudah malam." Sky menarik tangan Alana, tanpa mempedulikan wanitanya yang memberontak.


Ya, Sky sudah memutuskan untuk tinggal dimana pun Alana berada. Dia tidak akan membiarkan Alana sendirian mulai saat ini, karena tidak mau kejadian yang pernah menimpa Abian menimpanya. Mana tahan dirinya harus berpisah bertahun-tahun lamanya, bisa gila jika hal itu sampai terjadi.


__ADS_2