Pernikahan 99 Hari

Pernikahan 99 Hari
Part 83


__ADS_3

Aluna yang terkejut dengan tuduhan Alana sampai tak bisa berkata-kata. Mana mungkin ia merasa bahagia jika melihat hubungan pernikahan saudaranya itu berantakan. Bahkan jika Alana tahu, keberadaannya di apartemen ini untuk memperbaiki hubungan wanita itu dengan Sky.


"Kenapa kau diam? Dengar Aluna walaupun nantinya aku berpisah dengan Sky. Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau menjalin hubungan dengan Sky." Ucapnya menggebu dengan perasaan tak terima. Hormon kehamilannya yang sering berubah-ubah membuatnya mudah sekali terbakar oleh emosi.


"Al kau itu bicara apa?" Aluna tidak mengerti kenapa tiba-tiba saudara kembarnya itu semakin marah bahkan sampai menuduhnya yang tidak-tidak.


"Kau jangan berpura-pura bodoh, aku sudah melihat semuanya. Aku melihat apa yang kau lakukan pada Sky, mengusap pipi Sky dengan begitu bahagia. Hanya satu pertanyaan ku, sejak kapan hubungan kalian menjadi dekat?" Alana tanpa sadar terus meluapkan emosinya. Padahal ia sudah berniat untuk berpura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi di antara Sky dan Aluna.


"Al, jadi kau melihat aku dan Sky di taman?" Lagi-lagi Aluna terkejut, karena ia baru tahu tenyata Alana bukan hanya berada di tempat parkir, tapi melihatnya bersama Sky. Pantas saja Alana mengabaikannya saat ia menghampiri mobil saudara kembarnya itu, rupanya Alana sudah salah paham dengan apa yang dilihatnya.


"Kenapa? kau pasti tidak menyangka aku berada disana dan melihat kalian. Sekarang jawab pertanyaanku, sejak kapan kalian dekat?"


Aluna yang sempat terkejut kini tertawa sembari menggelengkan kepalanya. Sungguh ia tak menyangka saudara kembarnya itu bisa salah paham seperti itu, padahal ia dan Sky sama sekali tidak dekat.

__ADS_1


"Kenapa kau tertawa?" Alana semakin tersinggung karena merasa Aluna meremehkannya. Jika tidak mengingat orang yang menertawakannya saat ini adalah adiknya sendiri, sudah sejak tadi Alana menjambak dan mendorong Aluna keluar dari apartemennya.


"Oh my God, Alana." Aluna hendak memeluk kakaknya itu, namun tangannya sudah lebih dulu dihempas dengan kasar. "Kau benar-benar curiga padaku? Aku adikmu Al, jadi mana mungkin aku mengkhianatimu."


"Oh ya?"


Alana kini yang tertawa, namun tawa sinis yang membuat Aluna merasa tidak nyaman.


"Al...!" sentak Aluna. Ia tidak terima jika kesalahan yang sudah bertahun lamanya diungkit kembali, padahal tanpa diungkit pun Aluna masih merasa bersalah atas apa yang dilakukannya dulu.


"Kenapa kau marah? Apa yang aku katakan benar bukan. Kau itu tidak lebih dari seorang pengkhianat, yang sudah merusak hubungan ku dengan Abian. Dan sekarang kau ingin memiliki Sky?"


"Cukup Al! Jangan sampai kesabaranku habis."

__ADS_1


Tapi Alana tidak mempedulikan peringatan Aluna, ia terus memprovokasi adiknya itu hingga akhirnya mereka saling dorong dan perkelahian pun tak dapat terelakkan.


"Tunggu Aluna, hentikan!" Alana menahan tangan adiknya yang hendak mendorongnya lagi.


"Kenapa Al?"


"Ada yang aku lupakan." Alana terdiam sembari mengingat hal penting apa yang sudah ia lupakan, sementara Aluna yang sempat emosi kini mengkerut keningnya dengan bingung. "Oh ya ampun, aku lupa sedang hamil." teriak Alana dengan panik sembari mengusap perutnya dengan perasaan bersalah.


Sungguh ia merasa menjadi seorang ibu yang sangat bodoh, karena mementingkan amarah sampai melupakan keadaannya yang tengah mengandung.


"Hamil?" Aluna menatap saudara kembarnya itu dengan tak percaya, terlebih saat melihat Alana yang mengusap perutnya sambil menangis. "Al kau sedang hamil?"


Alana menganggukkan kepalanya masih dengan menangis.

__ADS_1


__ADS_2