PERNIKAHAN HANGAT S2

PERNIKAHAN HANGAT S2
Menutup Mata


__ADS_3

"Engh," perlahan Embun mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, menyesuaikan bias cahaya yang begitu terang.


"Aku di mana?" lirih Embun seraya memijit keningnya, semuanya terasa berputar-putar.


Embun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, kamar inap VVIP, "Bukankah ini rumah sakit?" duduk bersandar bantal, dan mencoba mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.


Flashback ...


"Manda, apa yang kau lakukan? Tenangkan dirimu."


Manik cokelat Manda menatap nanar pada wajah ayu nan manis itu, "Maafkan saya, Nona," tangannya bergetar saat membuka plastik segel suntikan itu.


"Apa yang terjadi padamu? Ku mohon jangan lakukan ini kepadaku."


"Hanya nona yang bisa menyelamatkan adik saya, maafkan saya nona, maafkan."


Manda mendekat mengunci pergerakan Embun dan saat itu juga dia menyuntikan cairan tersebut ke dalam tubuhnya.


Pandangan Embun mulai samar tetapi dia masih bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Manda dengan jelas, kakinya lemas gemetar, terduduk dan terbaring di atas lantai.


"Bertahanlah nona, ini hanya obat bius saja. Sampai tiba waktunya aku akan mengungkapkan siapa dalang dibalik semua konspirasi hitam ini. Tolong jangan membenci saya."


Manda pun segera melangkah membuka jendela, "Apakah seseorang mengancam mu?" pertanyaan lirih itu membuat langkah Manda terhenti, "Kenapa kau menanggung semua ini sendirian?" air matanya jatuh, Embun merasa dirinya sangat tak berguna.

__ADS_1


"Maaf, tolong jangan membenci saya. Andaikata kita bertemu di suatu tempat, saya harap nona bisa menganggap kita tak pernah saling mengenal."


Flashback end ...


Embun menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah Rendra yang baru saja masuk ke dalam ruangan kamar.


"Sayang?" senang tak karuan membuat Rendra melangkah cepat menghampirinya, dia duduk di tepi bed lalu meraih tangan istrinya.


Mengusap punggung tangannya dengan senyuman, lalu mencium keningnya.


"Katakan padaku dengan jujur, apa yang telah di lakukan perempuan brengsek itu?"


sorot matanya menyiratkan kebencian yang teramat.


"Apanya yang hanya salah paham, apa?" Rendra mulai kehilangan kendali diri, dia beranjak dari duduknya dan meninju tembok di sekat bed, rasa sakit hingga memar pun tak ia rasakan.


Napasnya kembali menderu, "Kenapa kau membelanya? Kau tahu aku hampir gila saat melihatmu dalam kondisi seperti itu." emosi menguasainya membuat Rendra mendekat dengan mencengkeram kuat bahu Embun, "Tatap mataku dan katakan dengan penuh kejujuran, apa yang telah dilakukannya padamu? Cepat katakan!"


Manik cokelat itu berkaca-kaca saat mengetahui sampai di tingkat mana kekhawatiran suaminya ini, Embun menggigit kecil bibir bawahnya hingga bergetar.


Klek!


Pintu ruangan terbuka, Alister tengah berdiri di ambang pintu, lalu memberikan bow kepada tuan dan nona mudanya.

__ADS_1


"Selamat malam nona, tuan muda."


"Kau sudah menemukannya?"


Alister mengangguk lalu melangkah masuk, "Sudah, tuan."


"Kau membawanya kemari?"


Alister diam sejenak, "Tidak."


Bugh!


"Sayang?!" seru Embun panik saat Rendra secara ringan tangan meninju sudut bibirnya.


"Kau bodoh, tuli, hah?!" mencengkeram kerah kemeja Alister dengan kuat, "Bukankah aku menyuruhmu untuk mencarinya? Lalu apa gunanya kau mencari jika tak membawa perempuan brengsek itu kehadapan ku!"


"Emh!" Alister sampai terhuyung beberapa langkah ke belakang saat Rendra mendorongnya dengan kuat. "Maaf, saya tidak bisa melakukannya."


"Kau bisa, Kau Alister sang sekretaris berdarah dingin. Apapun kau bisa melakukannya untukku."


"Tidak tuan, karena saya telah menghancurkan perempuan itu sampai kehilangan harapan untuk hidup."


Rendra menyeringai, "Benar, itu bagus!" lalu dia pun tertawa senang.

__ADS_1


Dua wajah pria yang begitu bahagia karena amarahnya telah terlampiaskan, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi, bahkan Embun sampai meneteskan air mata.


__ADS_2