
hari yang dinantikan pun akhirnya tiba juga, pagi ini dirinya mendapatkan pesan singkat dari dokter Hendra. setelah membaca pesan itu nyonya Renata pun bergegas menuju rumah sakit.
dia tak sendirian, tentunya juga ada Maya yang dengan setia menemaninya. sebuah mobil merah di pelataran rumah sudah menantinya. Pak sopir yang melihat Renata dan Maya keluar dari rumah pun segera memberikan bow lalu tangannya bergerak untuk membukakan pintu mobil bagian samping belakang.
"Selamat pagi nyonya besar," Pak Sopir itu tersenyum seperti biasanya.
"Selamat pagi Pak, ayo segera antarkan saya ke rumah sakit."
"baiknya nyonya silakan masuk." tak lama setelahnya mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan pelataran rumah dan pintu gerbang utama yang begitu besar.
harapannya semoga saja yang ia dapatkan hari ini tidak akan mengecewakannya.
sepanjang perjalanan nyonya Renata meremas kedua tangannya jujur saja dia merasa gugup, senang, dan khawatir semuanya bercampur aduk menjadi satu.
Maya yang melihatnya gelisah pun segera mengelus pundak Renata.
"Nyonya? Nyonya Kenapa, semua pasti akan baik-baik saja Nyonya."
Nyonya Renata pun menatap Maya dengan sebuah senyum, dia mengulurkan tangannya meraih tangan maya dan mengusapnya, "Aku hanya merasa senang saja Maya, akhirnya penantian ku selama ini akan terjawab."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cahaya mentari membias masuk melalui celah ventilasi kamar utama tuan muda, pagi sekali Rendra terbangun.
__ADS_1
Dia menatap wajah Embun, mulai dari mata, hidung, hingga bibirnya, dan hal itu malah membuatnya menelan.
Tangannya mulai mengusap perut buncit sang istri, dia merasakan sebuah tendangan dari dalam perut itu.
Rendra pun terkejut, sebahagia inikah rasanya bisa melakukan kontak dengan sang buah hati?
Lagi, dia mengusap perut Embun untuk yang kedua kalinya dan untuk yang kedua kalinya juga dia merasakan hal yang sama.
Kedua matanya pun berkaca-kaca, bagaimana tidak? Di benaknya masih teringat dengan sangat jelas seperti apa kisah pertama pernikahan mereka.
Mengingat hari menyedihkan, cup!
Rendra mendaratkan ciuman lembut di kening istrinya dan hal itu membuat Embun terbangun.
Keduanya matanya mengerjap pelan, manik cokelatnya menatap manik hitam tegas sang suami, "Sayang? Ada apa, mengapa menatapku dengan tatapan yang seperti itu?"
"Aku menginginkanmu."
Apa yang dia bicarakan? "Sayang, aku sudah menjadi milikmu -"
"Lebih dari itu," Embun membulatkan kedua matanya saat Rendra menarik dan membuang selimut dari tubuhnya.
Akhirnya, yang ia dapatkan pun lebih dari sekedar ciuman di kening dan di bibir saja.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya nyonya Renata di rumah sakit tepatnya di ruangan dokter Hendra, "Bagaimana hasilnya, dok?"
"Saya mohon kepada nyonya Renata agar bisa mengendalikan emosi diri."
Dr. Hendra bisa melihat luapan emosi hanya dengan menatap manik cokelatnya.
"Maafkan saya dok, saya benar-benar ingin mengetahui hasilnya."
"Tidak apa-apa," lalu dokter Hendra menarik laci dan mengambil sebuah amplop putih dan menaruhnya di atas meja. Tepat di hadapan nyonya Renata, "Ingin saya yang membacakan hasilnya, atau?"
"Saya yang akan membacanya, dok."
dokter Hendra mengangguk, lalu menggerakkan tangannya mempersilakan, "Silakan."
Nyonya Renata menatap amplop yang sudah ada di tangannya dengan mata berkaca-kaca, dia menghela napas pelan berharap kebahagiaan akan menjemput dirinya yang sudah renta.
Tangannya bergetar saat menarik selembar kertas dari dalam amplop itu, Maya yang berdiri di samping nyonya besarnya pun, sontak mencengkeram tangan nyonya.
"Ada apa nyonya? Jangan ragu, Tuhan tidak akan membuat kita kecewa untuk yang ke sekian kalinya."
Sempat ragu, tetapi rasa penasarannya lebih besar.
__ADS_1
"Ya, Maya... terimakasih, kau telah menguatkan ku," Maya mengangguk, "Apapun hasilnya nanti, aku tidak akan lemah."