PERNIKAHAN HANGAT S2

PERNIKAHAN HANGAT S2
Kebenaran


__ADS_3

Sebuah mobil Jeep berhenti tepat di dekat sebuah gedung, mereka adalah orang-orang yang berasal jaringan Alister.


Mereka sedang mengikuti tuan Hamish, pria tua itu tengah memulung botol-botol bekas, sampah yang dapat di daur ulang agar bisa ia jual dan mendapatkan uang untuk menyambung hidup.


Dia sama sekali tak ingat jati dirinya siapa akibat insiden waktu itu, sesuatu yang keras menghantam kepalanya.


Satu-satunya momen yang ia ingat hanyalah wajah seorang wanita sedang menggendong bayi, Dia menyelamatkan mereka, tetapi wajah wanita itu tak bisa ia ingat dengan jelas.


"Kau yakin dia orangnya?" tanya Arka sembari mencocokan foto Hamish dengan manusia aslinya kepada Antony.


"Kau kira tuan Alister akan menyuruh kita melakukan pekerjaan ini, jika dia orang yang tak penting?" celetuk Antony sembari melepas sabuk pengamannya dan segera turun, yang juga di ikuti oleh Arka.


"Haha, aku kan hanya bertanya saja... ya baiklah, ayo kita bawa dia ke hadapan tuan Alister."


Tuan Hamish masih sibuk memilah sampah hingga ia menyadari dua orang pria yang berjalan mendekatinya.


"Maaf, siapa kalian? Aku -"


"Ikutlah dengan tenang dan tanpa perlawanan, tuan kami ingin bertemu denganmu."


"Tu- tuan kalian? Siapa?"

__ADS_1


"Tidak perlu banyak bertanya, anda juga akan mengetahuinya nanti," seru Arka yang memberi kode mata kepada Antony untuk segera membawanya pergi.


Tuan Hamish pun sontak ingin melarikan diri karena merasa khawatir, dia tak merasa melakukan kesalahan lalu mengapa dia harus ikut kedua pria itu?


Sudah ingin kabur namun tangan Antony secepat mungkin mencengkeram pergelangan kirinya.


"Lepaskan aku, kenapa kalian ingin menangkap ku?"


"Maaf sekali untuk hal itu kami tidak tahu, lebih baik tanyakan saja sendiri saat sudah bertemu dengan tuan kami."


Tarik menarik, memberontak, dan penolakan pun terjadi di antara mereka hingga akhirnya anak buah Alister berhasil membawa paksa tuan Hamish masuk ke dalam mobil.


Brak!


Pintu kamar tuan muda terbuka secara paksa oleh tendangan dua orang anak buah Alister, sementara Alister sendiri sudah berdiri di ambang pintu.


Mata tajamnya menatap nyalang kepada bibi Rita yang tengah membongkar laci, banyak berkas dan dokumen berharga berceceran di lantai.


"Pengkhianat!"


Sontak saja bibi Rita terkejut, "Kau hanya seorang asisten, tidak punya hak untuk memasuki rumah ini!"

__ADS_1


"Kalian, tangkap dan penjarakan dia!" perintah Alister, sembari dia melangkah masuk dan melayangkan tamparannya di wajah yang tak punya malu itu.


Memar membiru, menapak bekas terlihat jelas lima hari tangannya di wajah bibi Rita.


"Tak ku sangka, kau yang sudah lama mengabdi di rumah ini mengapa kau melakukannya? Kau mengkhianati keluarga ini, bagaimana bisa kau melakukan hal sekeji itu?!" Alister mengguncang pelan kedua bahu bibi Rita.


Lalu mendorongnya hingga jatuh tersungkur tepat di bawah kaki kedua anak buahnya, mereka pun segera menangkap bibi Rita.


"Cih!" bibi Rita mendecih, "Kau tak berhak memenjarakan ku! Aku adalah nyonya besar tertua di rumah ini!"


"Aku dan tuan besar pernah hidup bahagia sebelum ibu dari Rendra dan Thalia datang, kehamilannya membuat ku tersingkir dari hidup tuan besar... sekarang, aku hanya membalaskan dendam ku saja kepada keluarga ini!"


"Diam! Apapun alasanmu, tak akan pernah bisa di benarkan, hanya seorang gundik tuan besar dan kau berani melukai keluarga inti? Lalu apa hubungan masalahmu dengan nona, dia tak bersalah!" pekik Alister tak terima.


"Aku sama sekali tak peduli dengannya, aku hanya akan memenuhi janjiku untuk membalaskan dendam ku, siapapun yang memiliki hubungan dengan tuan besar, maka mereka juga harus menelan pil pahitnya -"


Plak!


Alister sudah tak bisa lagi mendengarkan sebuah lelucon gila ini, "Dan kau bersekongkol dengan pak Li, An?"


"Mereka hanya sebuah batu loncatan saja untukku, hanya kebetulan kami memiliki misi yang sama!" rahang bibi Rita mengeras dengan mata yang menatap penuh kepuasan karena berhasil merusak keluarga inti.

__ADS_1


__ADS_2