
Sedikit kasar dia membaringkan tubuh Manda yang tak berdaya di bawah pengaruh obat perangsang itu, pria itu pun mulai melepaskan pakaiannya hingga tak menyisakan sedikit, pun, helaian benang di tubuhnya.
Dia naik merangkak ke atas ranjang, mengunci pergerakan Manda. Membuatnya berada di dalam kungkungannya.
"Jangan, emh..." sentuhan tangan pria itu di atas perutnya terasa begitu dingin, "Emh... panas, haus."
Bahkan dia hanya pasrah saja saat pria itu melepaskan semua pakaiannya, sama, tanpa helaian benang.
Pria itu menelan saat menatap tubuh polos Manda yang putih terutama saat ia meraba bagian sensitifnya yang terlihat indah.
"Emh..." air matanya, pun, meluncur begitu saja dengan tangannya yang meremas kuat seprai putih itu.
"Lepaskan, apa yang kau lakukan padaku, ku mohon hentikan!" Manda berusaha meraih kembali kesadarannya namun tak bisa, pria itu tak melepaskannya.
Tak membiarkannya bangun, kedua tangan Manda pun di ikat dasi kemudian di tekuk di atas kepalanya.
Kasar, dia memaksa Manda untuk menerima semua perlakukannya, meskipun gadis itu sudah menjerit kesakitan namun pria itu tak mau berhenti dalam melakukan aksinya.
Sekali lagi dia menghentak sekuat-kuatnya membuat suara pilu itu meluncur dari mulut Manda, dia memekik kesakitan membuat semua urat-uratnya menonjol.
Cengkeraman tangan pria itu semakin kuat menahan tangan Manda yang terikat, kini dia bisa lebih leluasa dalam memainkan perannya, darah segar baru saja menetes dan mengotori seprainya.
__ADS_1
Manda mengerjap berusaha melihat wajah yang terlihat buram di kedua maniknya itu.
"Kau pria brengsek, aku membencimu, lepaskan aku!"
"Menyiksamu hingga membuat harapan hidupmu lenyap, itu baru setimpal!" tandas Alister dengan wajah puasnya.
Kedua mata Manda seketika membulat saat mengenali suara itu, "Alister, lepaskan aku -"
Suaranya tercekat saat Alister tanpa mau menunggu dengan sabar, kembali memaksanya merasakan kesakitan itu.
"Kumohon lepaskan aku, jangan lakukan hal gila ini -"
"Ah, emh," kasar, Alister menciuminya hingga meninggalkan bekas merah di tempat-tempat yang ia inginkan.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, hingga keduanya merasakan lelah, keringat yang menetes membasahi tubuh, dan kepuasan Alister yang begitu membuncah.
Napas keduanya tersengal tak karuan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kegiatan panas mereka pun selesai, ditatapnya bagian dada Manda yang kembang kempis akibat kelelahan setelah melayaninya hingga puas, lalu menatap seluruh jejak kepemilikannya yang membekas di leher, dada dan di beberapa tempat bagian tubuh Manda.
__ADS_1
Usai bercinta Alister segera memakai kembali setelan pakaiannya, sementara Manda telah terlelap di dalam lelahnya.
Alister mengeluarkan seikat uang di atas ranjang dan segera pergi, "Jangan sampai aku melihatmu lagi di kota ini, menjauh lah atau aku akan kembali menodai mu untuk yang kedua kalinya.
Brak!
Pintu kamar tertutup rapat setelah Alister membanting pintu, lima menit kemudian Manda pun terbangun.
Dia memang tak tidur sejak percintaan panas mereka berkahir, dia hanya pura-pura saja.
Dia duduk meraih selimut untuk menutupi sekujur tubuhnya dan menangis, mengusap air matanya dalam kehinaan.
Berharap akan ada hari cerah menyambutnya.
Sekuat tenaga Manda berusaha untuk bangun dan segera membersihkan diri, membiarkan air dingin itu mengaliri sekujur tubuhnya.
Dingin menusuk relung hati, jiwanya serasa terkoyak dan tercabik-cabik.
"Ayah, ibu, apakah kalian melihatku dari syurga? Apakah kalian akan kecewa dengan diriku yang sekarang ini?"
Air matanya melebur bersama tetesan air dari shower, mengusapnya berulang kali hingga kedua matanya sembab.
__ADS_1