
An kalang kabut takut ketahuan dan bersandiwara seolah ia adalah korban dari M.
"Tuan Al, sa -"
Dengan kuat Alister mencekik leher An, amarahnya tak terbendung, dia memanas sampai tak kenal ampun.
"Aaaaaaarrggghhh!!"
An begitu kesakitan, kedua kakinya sampai terangkat dari atas lantai, "Le- lepaskan... Sa- sakit, uhk."
Namun Alister tak mau menggubrisnya, saat M mau menyentuh kaki Alister di waktu yang bersamaan dia menembak kepala M dan membuatnya terkapar setelah kehilangan nyawa.
"Aaaaaaa!!!!" Alister tak kuasa menahan diri hingga membuatnya gelap mata, nyawa pelayan itu hilang di tangannya.
Sekarang, satu-satunya orang yang bisa menjelaskan situasi ini adalah Embun, dia melenggang pergi setelah menghempaskan tubuh tak bernyawa itu ke lantai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rendra yang sedang duduk di atas ranjang tiada hentinya memandangi sang istri, hal itu membuat Embun mendadak risih.
"Apa lihat-lihat?"
"Kenapa? Aku punya mata jadi suka-suka akulah mau lihat siapa."
__ADS_1
"Bilang saja jika ada hanya ada aku di dalam dirimu, kau bahkan tak bisa melupakan ku meski sedetik, pun, kan?"
"Sembarangan saja, kau menuduh ku dan itu adalah fitnah," protes Rendra dengan menarik kaki istrinya.
"Sayang apa yang kau lakukan?"
"Menghukum mu, karena kau sudah berani memfitnahku."
"Aaaaaa, tidak, tidak, ampun... tolong maafkan aku sayang."
Klek!
Mereka terkejut saat Alister membuka pintu kamar dengan memegang pistol.
Luapan emosi membuatnya tak mampu mengendalikan diri, dadanya masih kembang kempis.
"Nona harus menjelaskannya dari awal -"
"Al!"
Rendra beranjak turun dari ranjang, dia melayangkan tinjunya di sudut bibir pria yang sudah lama menjadi sekretarisnya.
Sudut bibirnya memar dan berdarah namun Al hanya mengusapnya dengan tatapan memanas.
__ADS_1
Melihat pertikaian mereka membuat Embun tergerak hatinya untuk menceritakan hal yang sebenarnya.
"Sayang hentikan ku mohon jangan berkelahi, bukankah kalian sudah lama hidup saling melengkapi?" Embun mengusap kedua sudut matanya secara bergantian, "Aku yang salah... aku yang terlalu pengecut karena tak berani mengatakan hal yang sebenarnya."
"Apa yang kau bicarakan? Tutup mulutmu!" pinta Rendra dengan menyungut emosi.
"Tidak sayang, aku harus mengatakan hal yang sebenarnya."
Mulailah Embun menceritakan kejadian di malam itu setelah mereka pulang dari Central Park.
"Sebenarnya pada malam itu Manda telah menukar cairan obat pelumpuh otak dengan obat bius, dia tak bisa melukai ku... tetapi juga dia tak bisa mengabaikan keselamatan adik lelakinya, dia memintaku untuk tidak membencinya... dia masih sanggup menerima kebencian kalian berdua, tetapi tidak denganku."
Titian air mata Embun tak berhenti menetes, dia menyedekapkan kedua tangannya mengeratkan bahu, gemetar dia takut membayangkan keburukan apa yang telah terjadi pada gadis malang itu.
"Dia hanya korban dari kejahatan seseorang, Alister... hanya kau yang bisa membawanya kembali, kumohon bawa kembali ke rumah ini."
Embun menangis tersedu-sedu, apa lagi Alister yang mendudukkan tubuhnya di lantai dengan lemah.
Angin malam menusuk dingin tapi tak sedingin relung hatinya yang kosong nan hampa.
Dia masih ingat bagaimana sakitnya Manda saat di paksa menerima keperkasaannya, mungkin saja benih yang ia tinggalkan di dalam rahimnya akan tumbuh menjadi segenggam daging yang hidup menjadi janin.
Alister mengusap wajahnya dengan kasar, "Aaaaaaa!!!" dia berteriak tak bisa menerima kebodohannya yang luar biasa, dia mencengkeram kuat rambutnya dengan napasnya yang menderu kasar.
__ADS_1