PERNIKAHAN HANGAT S2

PERNIKAHAN HANGAT S2
Kesepian


__ADS_3

masih melanjutkan kisah kencan sepasang suami istri yang berada di dalam Cafe, usai memilih makanan yang ada di dalam daftar menu Rendra pun melambaikan tangannya ke udara memanggil seorang pelayan pria.


"Tuan sudah menentukan pilihan?" tanya pelayan pria itu dengan begitu sopan.


"jika tidak untuk apa Aku memanggilmu, dasar pelayan bodoh!" ya seperti itulah Rendra, jawaban itu membuat embun membulatkan matanya dari bawah kolong meja embun mengayunkan kakinya dan mengenai kaki kiri Rendra.


pria itu mengernyit menahan sakit lalu menatap embun dengan tajam, akan tetapi embun hanya memasang wajah tidak bersalah sama sekali seolah-olah bukan dirinya yang melakukan hal itu. dia hanya memasang wajah cute sembari mengerucutkan bibirnya dengan begitu gemas, " hehehe," dia malah tertawa bukannya merasa takut saat diberikan tatapan seperti itu oleh suaminya, "Maaf ya Sayang tidak sengaja hehehe."

__ADS_1


Rendra hanya menghela nafas kesal lalu dia menatap wajah pelayan pria itu, "catat dengan benar," pelayan pria itu pun mengangguk, "bawakan hotdog dan beberapa cemilan ringan lainnya. Oh ya jangan lupa jus alpukat nya dua."


Setelah mencatat semua pesanan itu pelayan tersebut pun kembali mengangguk sembari tersenyum, "baik Tuan, segera saya siapkan harap untuk menunggu dengan sabar."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


pintu rumah pun terbuka lebar, "Selamat datang di rumah nyonya besar, selamat datang kembali," ucap Maya dengan sopan menyambut kedatangan dirinya.

__ADS_1


"Bagaimana pekerjaanmu selama aku tidak di rumah? apakah berjalan dengan baik?" tanya nyonya Renata, dia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa dia meletakkan tasnya di atas meja lalu kembali menatap Maya, " Maya, jika seandainya nya putriku Aku ada di rumah ini, maka aku tidak akan merasa kesepian seperti ini sepanjang hidupku. usiaku sudah tidak muda lagi dan aku pun sudah mulai menua, kulitku mulai keriput dan jika suatu hari nanti aku tiada lagi di dunia i-"


maya yang mendengarnya pun sontak saja menggeleng dan tidak ingin Nyonya besarnya melanjutkan kalimat tersebut, lalu Maya mendekat dia duduk di lantai dengan menyentuh kedua tangan Nyonya Renata yang berada di pangkuannya.


"nyonya besar, saya mohon agar Nyonya tidak mengatakan hal yang seperti itu lagi, saya yakin nona muda pasti masih hidup... kita juga tidak pernah tahu rahasia apa yang telah Tuhan sembunyikan untuk hidup kita tetapi saya yakin Tuhan pasti akan memberikan kado terbaiknya untuk nyonya besar."


Seolah kalimat itu telah menyihir, Nyonya Renata pun kembali menitikan air matanya, buliran air mata itu jatuh tepat di atas tangan Maya, lalu Nyonya Renata mengusap Puncak kepala pelayan setianya itu. "Terima kasih Maya selama ini kau telah mengabdikan hidupmu dan mendedikasikan dirimu untuk merawat ku, setelah putriku ditemukan aku mengizinkanmu untuk memulai kembali hidupmu dari awal."

__ADS_1


namun Maya menggeleng, dia sama sekali tidak berniat untuk keluar dari rumah ini karena baginya nyonya besar lah yang paling utama bagi hidupnya, "tidak Nyonya, Saya tidak akan pergi kemanapun... meskipun Nona muda telah ditemukan. karena bagi saya nyonya besar adalah segalanya, Jika saja nyonya dan tuan besar tidak datang untuk menolong saya saat di gelapnya malam di bawah guyuran hujan lebat, mana mungkin saya bisa hidup hingga detik ini."


__ADS_2