
Masih tak terima dengan kebenaran yang di sembunyikan rapat oleh Alister, Rendra tak henti-hentinya memaki bahkan sampai menendang kursi tunggu.
Brak!
Napasnya naik turun dengan dadanya yang kembang kempis, "Jika hal buruk terjadi kepada anak dan istriku, sampai matipun aku tidak akan pernah memaafkan mu!"
Alister segera berlutut di hadapan tuan mudanya, dia menunduk pasrah, "Maafkan saya tuan, saat itu saya tidak punya pilihan sama sekali."
Plak!
Sekali lagi Rendra menamparnya, hal itu membuat Manda menangis. Jika saja Rendra tak melihat perut Manda yang mulai terlihat, di dalam perut itu ada benih Alister yang juga akan lahir ke dunia ini, maka sudah pasti Rendra akan menghabisinya.
"Pergi, jangan muncul di hadapanku untuk saat ini. Kau membuat kepalaku hampir pecah."
"Sudah cukup, mengapa kalian berkelahi? Ini bukan waktu yang tepat!" seru mama Renata mengusap air matanya.
"Yang lalu biarlah berlalu, saat ini kondisi Tiara yang lebih penting," seru papa Hamish menengahi dua pria itu.
Dengan kesal Rendra meninggalkan Alister dan mendatangi perawat tadi, "Ambil saja darahku!"
"Maaf tuan, tidak bisa-"
Perawat itu membelalak saat Rendra mencekiknya, "Kau ingin mati di sini?" tandas Rendra dengan sorot matanya yang menajam sempurna, auranya begitu dingin membuat mereka semua takut.
__ADS_1
"Tu - tuan tolong dengarkan dulu penjelasan saya, tuan marah-marah seperti tadi membuat tekanan darah Anda naik- Akh!" akhirnya Rendra melepaskan cekikan nya, membuat perawat itu bisa bernapas lega, "Hal itu bisa menghambat pen-transfusian darah, Tuan."
"Saya saja sus," seru papa Hamish, "Saya papanya."
"Atau saya juga bisa sus," imbuh mama Renata, "Saya mamanya, kami orang tuanya."
"Baiklah, mari ikut saya untuk menjalani pemeriksaan terlebih dahulu."
Sementara itu Rendra terduduk lemah di lantai, dia menekuk kedua kakinya mendekat wajah. Dia meremas-remas rambutnya dengan kasar, "Aaaaaaaaa!!!!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah menjalani pemeriksaan lengkap, akhirnya Tiara pun mendapatkan donor darah dari sang papa, karena mama Renata memiliki golongan darah O Negatif, jadi dia tak bisa mendonorkan darahnya.
"Suster Ani, cepat hubungi bagian Obgyn, melihat dari kondisi nona, kita harus segera mengambil tindakan."
"Tindakan?" tanya suster Ani yang kemudian di angguki oleh dr.naina, "Seperti apa itu dok?"
"Operasi sesar, membuat bayinya lahir."
"Apa? Tapi dok, bayinya bisa lahir prematur yang memiliki dua kemungkinan, cerdas dan -"
"Tidak ada waktu untuk berdebat, cepat hubungi dokter Obgyn... mereka yang akan menentukan langkah ke depannya, lagi pula itu hanya sebatas asumsi ku saja."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ketegangan masih belum berakhir, di luar ruangan Rendra dan yang lainnya terkejut mengapa Dave begitu tergesa-gesa.
"Dave?" seru Rendra dan segera beranjak dari duduknya.
"Kak Rendra? Jadi pasien di dalam ruangan ini adalah istri kakak?"
"Kenapa kau ada disini?"
"Aku mendapatkan laporan jika pasien mengalami pendarahan dan masih belum berhenti, karena itu aku harus segera memeriksanya. Jika itu benar, maka -"
"Apa?" tanya Rendra dengan wajah khawatir.
"Bayinya akan dilahirkan secara prematur."
Bruk!
Mama Renata pun jatuh pingsan saat mendengarnya, apakah sudah tak ada harapan lagi?
"Mama, sadarlah..." papa Hamish memangku nya sambil menepuk-nepuk pipi sang istri.
"Maaf Kak, aku masuk dulu."
__ADS_1