
Ambulans pun segera melaju dengan kecepatan tinggi dari lokasi tersebut, di dalam ambulans itu sudah ada Rendra dan seorang pria yang menolongnya tadi.
"sayang, bertahanlah karena aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu dan anak kita."
mendengar Rendra mengatakan hal tersebut membuat pria itu teringat akan masa lalunya. dimana pada saat itu ia melindungi anak dan istrinya dari sebuah insiden yang hampir melenyapkan nyawanya.
"percayakan semuanya kepada Tuhan, tim medis pasti akan menyelamatkannya, Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan manusia itu sendiri."
Rendra pun mengusap wajahnya dengan gusar lalu diraihnya punggung tangan Tiara, dia mengusap-ngusap nya agar tetap hangat. sesampainya di rumah sakit tim medis segera memindahkan Tiara ke brangkar medis, suasana rumah sakit yang lengang membuat paramedis bergerak kesana kemari dengan lincah.
beberapa pasang kaki ikut berlarian menyeimbangkan kecepatan lari mereka dengan brangkar tersebut, hingga akhirnya sebuah ruangan yang tak jauh dari depan mata dengan pintunya yang terbuka, seorang petugas medis langsung menahan Rendra agar tidak ikut masuk ke dalam.
Sementara tenaga medis yang membawa Tiara tadi dengan cepat segera masuk kedalam ruangan itu, "Tuan tetap menunggu di sini, tidak boleh ikut masuk. percayakan semuanya kepada kami dan tetaplah berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa."
__ADS_1
lalu petugas medis itu masuk ke dalam ruangan dan menutup pintunya dengan rapat. kedua pria itu pun saling bersitatap hingga akhirnya Rendra mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi tunggu sembari memijat keningnya.
keadaan darurat itu membuatnya lupa akan sopir truk yang telah menabrakkan kendaraannya. Rendra menghela nafas kasar, diraihnya HP yang ada di dalam saku celananya, dengan gemetar dia menelepon sang sekretaris. sudah waktunya bagi pria itu untuk kembali bekerja di sisinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
waktu malam dini hari di kota Z, kedua orang itu masih tak ingin melepaskan diri satu sama lain, hingga akhirnya pergumulan mah panas Mereka pun selesai. tepat setelah Alister menarik diri dari kepemilikan Amanda, HP Alister yang berada diatas nakas pun berdering.
Allister pun beranjak dari atas ranjang dan memakai pakaian dalam dan celana nya, lalu meraih HP untuk menjawab panggilan masuk.
"Tuan muda, sayang. Tidurlah aku mau menjawab telepon terlebih dahulu."
Alister melangkah keluar dari kamar, Dia menuju ruang tengah dan duduk di atas sofa dengan peluh keringat yang menetes di tubuhnya.
__ADS_1
"Halo tuan," Alister terlihat mengusap peluh yang tumbuh di keningnya dan juga di dada bidangnya.
"besok pagi jam 9 aku ingin kau sudah berada di sini!"
Alister mengerutkan keningnya, "apa yang terjadi? suara Anda terdengar begitu berat."
"seseorang mencoba mencelakai kami," sekali lagi Rendra menghela nafasnya dengan kasar, "Aku ingin kau membawanya ke hadapanku!"
"Di mana lokasi kejadiannya?" tanya Alister dengan sorot matanya mulai menajam, wajahnya kembali dingin dan menjadi lebih serius saat dirinya bersama dengan tuan muda.
"jalur kanan menuju rumah sakit."
"Baiklah, sebelum saya sampai di hadapan tuan muda, Saya akan berusaha untuk menemukan sesuatu yang menarik atas insiden itu."
__ADS_1
"baiklah aku akan menunggu, siapa pun yang mencoba untuk mengusik ketenangan hidupku, maka aku akan mencincangnya hidup-hidup lalu menggantungkan kepalanya di atas tower, memaksa keluarganya untuk menjadi buruh, menyiksa mereka hingga mati! siapapun yang berhubungan dengan orang itu maka semua harus menerima akibatnya!"