
Saat pintu berhasil didobrak, jendela kamar sudah terbuka lebar. Rendra menatap nyalang dengan luapan emosi.
Terutama saat ia mendapati Embun yang sudah tergeletak tak sadarkan diri di atas lantai, kedua tangannya terkepal sangat erat. Dan orang pertama yang merasakan amarahnya adalah Alister.
Bugh!
Tinjunya melayang tepat mengenai wajah di bagian sudut bibirnya hingga memar dan berdarah.
"Brengsek! Kenapa kau membawa wanita sialan itu ke sisi istriku, hah?" tangannya mencengkeram dan menarik kuat kerah kemeja Alister.
Dia mengguncangnya, "Kau memang aning yang tak berguna, pergi dan temukan dia dalam waktu dua puluh empat jam, jika kau gagal, maka kau akan melihat mayat ku dengan mata kepalamu sendiri!"
Sontak Alister, pun, langsung berlutut di bawah kaki jenjang Rendra. Dia bisa mendengar napasnya yang beradu dengan udara malam dingin.
"Saya akan menemukannya tuan, saya mohon agar tuan tidak mengatakan hal yang seperti itu lagi."
"Lalu kenapa kau masih berada di sini, hah?" teriakannya sangat melengking membuat telinga Alister sakit.
Dia beranjak dari posisinya dan segera memberikannya bow, lalu pergi untuk mencari Manda dengan segudang kebencian.
Tak ada lagi kehangatan yang terpancar dari manik hitamnya, hanya rasa dingin penuh kebencian yang ingin melenyapkan gadis itu.
Alister melangkah keluar dari rumah, masuk ke dalam mobil, kemudian melajukannya dengan kecepatan penuh.
__ADS_1
Tak lupa ia meminta bantuan kepada jaringan yang ia miliki untuk segera menyelidiki dimana lokasi Manda sekarang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di depan sebuah gedung red man hall, Manda berdiri tepat di depan pintu kaca. Dia merasa bodoh dengan apa yang baru saja ia lakukan.
"Hm, pecundang!"
Dia bahkan menggigit bibir bawahnya dengan erat sembari mengepalkan kedua tangannya.
Flashback...
Usia menata makan malam di atas meja, pelayan segera kembali ke belakang. Dan saat itu hanya ada An serta Manda saja.
"Dan kau akan mendapatkan bagian mu, jangan khawatirkan tentang adikmu... Jack sudah menyiapkan tiket untuk mu pulang ke rumah," lanjut An dengan senang.
"Kau memang brengsek An, tak kusangka jika kau adalah dalang di balik semua ini!" matanya menatap tajam pada An, namun hanya di balas kekehan mengejek.
Flashback End...
Manda meyakinkan dirinya dan segera masuk ke dalam gedung, langkahnya terhenti karena mencoba mengedarkan pandangan mata untuk mencari pria yang bernama Jack.
Di tambah lagi lantai pertama yang ia pijaki cukup ramai, dari lorong ia melihat seorang pria yang cukup tampan dengan sedikit brewok yang tumbuh di bagian rahangnya.
__ADS_1
Dialah Jack, orang yang mengabadikan momen mesra dirinya saat berada di Central Park.
Pria itu berdiri sambil menyandarkan punggungnya di tembok, dengan satu kaki yang ia tekuk ke belakang.
Asap rokok mengebul mengelilinginya, membuat Manda menghela napas.
Manda mendekat dan berdiri tepat di hadapannya.
Menutup mata saat pria itu meniupkan asap rokok ke wajahnya, "Cantik juga kau, bagaimana jika kita tidur bersama?".
"Jaga bicaramu, tuan Jack!" jawabnya dengan penuh penekanan.
"Haha..." lagi, Jack meniupkan asap rokok di wajah Manda, "Ayo."
Mereka berdua melangkah bersama masuk ke dalam sebuah ruangan, di dalam ada seorang wanita sexy berambut pendek seleher, "Sayang?"
Wanita bernama Aurel itu beranjak dari duduknya dan memeluk Jack, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu sembari mengelus-ngelus dada Jack.
"Pergilah dulu, nanti kita lanjutkan lagi."
Aurel sedikit memiringkan kepalanya menatap Manda dari pucuk kepala hingga ke ujung kaki.
Memakai jaket navy putih dan celana kain hitam, sendal jepit, lalu terkekeh, "Ku harap kau tidak menurunkan standar mu."
__ADS_1