PERNIKAHAN HANGAT S2

PERNIKAHAN HANGAT S2
Pintu Harapan


__ADS_3

Ada apa dengan semuanya ini? Mengapa semua ini begitu membingungkan? Embun sama sekali tidak mengerti.


Nyonya Renata meraih wajah putrinya, "Lihat mama sayang, ini mama... mama yang mengandung dan melahirkan mu sayang -" wajah nyonya Renata seketika berubah sedih saat Embun melepaskan tangan mamanya.


"Sungguh kah itu?" Embun menatap sendu dengan kedua maniknya yang mulai tergenangi cairan bening, "Mengapa mama membuang ku? Apakah kehadiranku di dunia ini memang tak pernah di harapkan?"


"Tidak sayang, tolong dengarkan penjelasan mama..."


Embun menggeleng, dia masih belum siap menerima kenyataan, karena yang ia tahu adalah dirinya yang menjadi seorang anak pungut. Menurut ibu, dia di temukan di semak-semak pada pagi hari.


Embun memundurkan langkahnya, dengan cairan bening yang mengaliri wajahnya, "Mengapa mama datang sekarang?"


Nyonya Renata terdiam dengan menutup mulutnya sendiri.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu," sela Rendra sembari mengusap pundak istrinya, lalu menatap mama mertuanya, "Istriku membutuhkan waktu untuk menerima semua ini, lebih baik nyonya Renata pulang saja."


Luapan emosi di dalam jiwanya hanya bisa di salurkan melalui lelehan air mata, tubuhnya terasa lemah.


Maya mendekat menghampiri nyonya Renata, "Nyonya besar, lebih baik kita pulang saja dulu... mungkin nona Tiara membutuhkan waktu untuk menerima semua ini."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Senja hari Embun duduk termenung di tepi balkon, termenung tak menyadari kedatangan Rendra di sisinya.


Embun terkejut saat Rendra berlutut di hadapannya, "Kenapa kau menangis?" seru Rendra sembari meriah tangan mungil itu lalu mencium punggung tangannya.


"Tidak apa-apa, hanya saja semua ini terasa begitu tiba-tiba..."

__ADS_1


Rendra pun terdiam dia mencoba memposisikan dirinya seperti Embun, namun dia juga tak menyangkal fakta istrinya itu adalah putri dari keluarga yang menjadi kolega perusahaannya.


" Aku akan mencoba berbicara kepada Nyonya Renata, Karena bagaimanapun juga aku membutuhkan penjelasan yang detail darinya. Aku ingin tahu apa alasannya membuang dirimu saat masih bayi, setelah beberapa tahun lamanya kini Nyonya Renata datang untuk mencari mu."


Embun hanya diam saja, dia tak menjawab apa yang barusan dikatakan oleh suaminya itu, "hari sudah mulai malam gelap, ayo masuk ke dalam ," ajak Rendra kepada istrinya.


Sementara itu di kediaman nyonya Renata, Nyonya Renata terlihat sedang duduk di tepi ranjang sebuah kamar dengan warna cat dinding berwarna tosca. Itu adalah sebuah kamar untuk Tiara, dulu saat masih berada dalam kandungan mama dan papa Tiara mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kelahirannya.


tak Seberapa lama kemudian HP di dalam tasnya pun berdering, Maya yang kebetulan Masih bersama dengan Nyonya besarnya itupun memberitahukannya, "nyonya besar seseorang menelpon ke HP Anda nyonya," namun Nyonya Renata hanya diam saja dia enggan untuk menjawab.


panggilan telepon itu sempat mati, lalu terdengar lagi bunyi dering panggilan telepon masuk untuknya. karena tak segera dijawab oleh nyonya Renata, akhirnya Maya pun berinisiatif untuk menjawab panggilan telepon itu, "nyonya besar telefon dari nomor baru, mungkin saja Ini dari tuan muda itu."


Nyonya Renata pun segera meraih hp-nya kemudian menjawab panggilan telepon itu, "halo?"

__ADS_1


" Selamat sore Nyonya Renata, Aku adalah suami dari Embun. Aku ingin kita bertemu untuk membahas sesuatu agar semuanya lebih jelas mengenai asal usul wanita yang anda sebut sebagai Tiara." suara Barito itu berasal dari Rendra, seperti membuka sebuah celah pintu harapan Nyonya Renata pun menganggukinya.


"baiklah silakan atur saja tempat pertemuan dan tentukan waktunya... saya pasti akan datang dengan membawa bukti jika wanita yang menjadi istrimu adalah Tiara yang tak lain Putri kandung saya."


__ADS_2