
"Tuan -" Manda memejamkan matanya dengan erat saat pria itu mau memukulnya, tubuhnya hampir gemetar ketakutan.
Lama tak ada sentuhan yang membuatnya membuka mata, Manda begitu terkesiap saat melihat satu tangan yang mencengkeram kuat tangan pria itu.
Manda menoleh orang yang telah menolongnya, siapa dia? Membuatnya penasaran.
Dia terkejut saat mengetahui orang yang melindunginya ternyata adalah Alister, sontak saja membuatnya menjauh. Ingin mengunci diri di dalam rumah, namun dengan cepat Alister menggenggam tangannya.
"Rio?"
"Ya, Tuan?"
Alister menendang kuat perut pria itu hingga tersungkur, bruk!
"Aaaargggghh!" pekiknya kesakitan.
"Urus dia, jangan sampai aku melihatnya ada di kota ini lagi," ucap Alister penuh penekanan, yang di akhiri dengan menggendong Manda ala bridal style.
Alister membawanya masuk ke dalam kamar, "Susah sekali mencari keberadaan mu."
"Lepaskan aku, untuk apa kau kemari? Aku musuh mu, aku bisa saja melukaimu."
"Hmph, benarkah?" Alister dengan pekan membaringkan tubuh Manda di atas ranjang.
Lalu mulai memasukkan tangannya ke dalam pakaian Manda, namun wanita itu bereaksi dengan keras.
__ADS_1
"Hentikan, jangan menyentuhku-"
Dengan cepat Alister membungkam bibir Manda, lembut, dan dalam. Ciuman panas itu pun berakhir, telunjuknya bergerak mengusap kedua sudut Manda yang basah.
"Kenapa kau menangis, aku datang kemari untuk menjemputmu."
"Hentikan," Manda berusaha menjauhkan tubuh Alister dari atas tubuhnya, namun dia kalah tenaga.
"Kenapa? Apakah semenjak kau mengandung darah daging ku, dan itu membuatmu sulit untuk bergerak cepat?"
Sontak saja hal itu membuat Manda terbelalak, "Apa yang kau katakan, siapa yang mengandung? Jangan bicara sembarangan. Aku tidak sedang hamil-"
Tapi faktanya berbeda, Manda mendadak merasa mual kembali dan ingin muntah. Sama seperti tadi pagi.
"Minggir," Manda bangun dan keluar kamar, dia berlari masuk ke bathroom.
Alister berdiri di ambang pintu, bersandar, "Sekarang kau percaya dengan semua kata-kataku? Bukankah aku ini pria perkasa? Hanya sekali, dan itu berhasil membuatmu hamil."
Cih! Ini semua tidak mungkin, karena kami hanya melakukannya satu kali.
Ekor mata Alister melirik gerakan tangan Manda yang mengusap pelan perutnya, dan itu membuatnya tersenyum.
"Eh? Apa yang kau lakukan, cepat turunkan aku!" berontak Manda yang berada di dalam gendongannya.
Alister pun kembali membawanya masuk ke dalam kamar, kali ini dia mengunci pintunya dengan rapat setelah membaringkan Manda di atas ranjang.
__ADS_1
"Jangan mendekat, atau aku akan berteriak!"
"Itu lebih bagus agar semua orang tahu siapa pemilik mu."
Alister memang pemaksa, dia melakukan cara apapun agar bisa menggagahi Manda untuk yang kedua kalinya.
"Hentikan, ku mohon jangan lakukan ini padaku..."
"Kenapa tidak? Lagi pula kau adalah ibu dari anakku... di dalam rahim mu sedang tumbuh janin yang akan mengikat kita berdua."
Baju mereka terserak di atas lantai, jemari mereka saling meremas, untuk yang kedua kalinya juga Manda merasakan perih di bagian kewanitaannya.
"Sakit..."
"Ini tidak akan sesakit malam pertama kita, sayang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di luar ruko, Rio sudah selesai melakukan tugas yang diberikan Alister padanya.
Dari jarak sebelas meter dia melihat anak lelaki yang melangkah masuk ke dalam ruko, "Hei anak kecil, kau siapa?"
"Aku?" menunjuk wajahnya sendiri, yang kemudian di angguki Rio, "Namaku El."
"Oh, itu artinya kau adalah adik nona Manda?"
__ADS_1
El terkejut, "Siapa kau? Kenapa bisa tahu nama kakakku?" El baru sadar jika di depan ruko mereka ada satu unit mobil yang terparkir, "Kakak?" teriak El yang hampir berhasil masuk ke dalam rumah jika saja Rio tak menghalanginya.
"Hei anak kecil, kita di sini saja. Jangan mengganggu orang dewasa yang sedang rapat," tukas Rio sembari menguatkan genggaman tangannya.