PERNIKAHAN HANGAT S2

PERNIKAHAN HANGAT S2
Putriku


__ADS_3

"Rendra!" teriak Embun yang mengejutkan Rendra dari lamunannya.


Semua itu hanya khayalan serta bayangan Rendra.


"Tuan, anda tidak apa-apa?" tutur Nyonya Renata yang melihat menantunya itu berkeringat dingin.


"Ya aku tidak apa-apa," Rendra melipat dan memasukkan kembali surat itu ke dalam amplop.


Lalu dia diam sejenak sembari mengusap peluh yang memenuhi pelipisnya.


"Aku sudah lama mengetahui hal ini."


Maya dan Nyonya Renata pun terkesiap saat mendengar pernyataannya, namun mereka masih memilih diam. Mungkin saja ada alasan di balik itu semua.


"Sama sekali tidak menyangka jika hal ini akan terungkap dengan begitu cepat, kini, dia adalah istriku, tak seorangpun yang bisa merebutnya dariku. Dan, aku tak akan memberikannya kepada siapapun."


Bibir Nyonya Renata begetar menahan tangis apakah itu artinya kehadirannya di rumah ini, di tolak oleh Rendra?


"Bisakah saya bertemu dengan Tiara?"


Rendra diam, lalu dia berdiri, "Beri aku satu alasan mengapa kalian membuangnya saat bayi? Jika tidak menikah denganku, aku tak yakin hidupnya akan bahagia."


Buliran bening mulai menetesi pipi Nyonya Renata.

__ADS_1


"Apakah anda tahu? Aku menikahinya dari seorang wanita tua yang menjualnya kepadaku, dengan harga yang fantastis."


Nyonya Renata pun tak bisa lagi menahan air matanya, dia menangis.


"Menangis tidak akan menyelesaikan masalah, aku sama sekali tak masalah jika istriku mengetahui siapa ibu kandungnya, tetapi disini akan ada hati yang merasa kecewa karenanya."


Nyonya Renata menangis sesegukan.


"Mudah saja bagiku untuk mengatakannya, tetapi aku tidak yakin istriku bisa menerima semua ini dengan mudah. Mempertemukan dua hati yang terpisah puluhan tahun, ada rindu yang terbentang jarak."


semua yang di katakan Rendra itu memang benar, faktanya Embun di temukan oleh orang tua angkatnya di semak-semak, hidup tanpa mengenal siapa orang tua kandungnya, lalu menikah dengan tuan muda setelah ibu angkatnya menerima cek dengan nilai yang fantastis.


"Izinkan saya melihatnya wajahnya," suara yang terdengar itu bergetar, Nyonya Renata mengusap kedua matanya masih dengan sesegukan.


"Anda harus menjelaskannya kepadaku, setelah bertemu dengannya."


Rendra meninggalkan ruang tamu sebelum mendengarkan jawaban dari mama mertuanya itu.


Embun yang masih duduk di tepi ranjang, mengobrol dengan bibi Rita, pun, langsung menoleh ke arah pintu di mana Rendra yang baru saja membukanya.


Dia berdiri di ambang pintu, "Sayang, kemarilah."


"Ada apa sayang?"

__ADS_1


Rendra tak mengulangi kata-katanya, hanya melakukan eye kontak memintanya untuk bergegas.


"Em, iya baiklah."


"Bibi Rita, tolong buatkan dua gelas jus."


Bibi Rita mengangguk, "Baik tuan muda."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Embun menatap heran saat sampai di ruang tamu, dia belum mendaratkan tubuhnya di sofa.


Mengapa bibi ini menangis tersedu-sedu?


"Sayang?" panggil Embun lirih pada Rendra yang juga masih berdiri di sampingnya, "Sebenarnya ada apa?"


"Tiara," Embun terkesiap saat mendengar nyonya Renata memanggilnya dengan nama yang asing, "Tiara, putriku."


Nyonya Renata beranjak dari duduknya lalu memeluk Embun, rasa rindu yang menghukumnya selama ini telah terbayarkan, dia menciumi kening, pipi kanan dan kiri putrinya yang telah lama hilang.


"Bi- bibi? Maaf, sebenarnya ada apa ini?"


"Tiara sayang... ini mama, nak... tolong jangan memanggil dengan sebutan bibi, kau adalah putri kandungku. Lihatlah ini, lihat," nyonya Renata mengambil amplop dan memperlihatkan isinya dengan tangan yang gemetar senang.

__ADS_1


__ADS_2