
Alister menggangguk, "Baik tuan," lalu dia pun segera melangkah keluar menuju ruangan CCTV, harapan terakhirnya adalah seorang saksi yang baru saja dikatakan oleh Tuan muda.
Rendra berusaha melepaskan selang infus yang ada di tangannya, sakit, terlihat jelas dari raut wajahnya yang meringis menahan sakitnya. Tetapi Rendra tak ingin berlama-lama di ruangan ini, dia ingin segera menemui istrinya.
"Tuan, apa yang anda lakukan? Mengapa -"
Manda terdiam saat Rendra mengangkat tangannya setengah dada, memintanya untuk diam saja.
"Tetap di sini bersama dengan mama, cukup aku saja yang menemui istriku di bangsal," tutur Rendra sembari menarik tisu untuk menyumbat darah yang keluar akibat selang infus yang baru saja ia tarik keluar.
"Mama ikut, biarkan mama bertemu dengannya."
"Tidak perlu, itu hanya akan memperburuk ke adaan mama..." Rendra turun dari ranjang, berjalan ke arah mama, lalu tanpa di sangka pria yang terkenal kejam, dingin, dan egois itu duduk berlutut di hadapan mama mertuanya.
Dia menyentuh kedua tangan mama Renata, "Percayakan saja kepadaku, Ma... lebih baik mama tenangkan diri dulu, sebelum aku yakin jika mama dapat mengontrol emosi, maka aku tak akan mengizinkan mama untuk bertemu dengan Tiara."
Hiks, Mama Renata kembali meluncurkan air matanya. Apa yang di katakan Rendra memang benar, hingga detik ini bahkan dirinya pun masih belum bisa mengontrol diri.
__ADS_1
"Baiklah Nak," ucap mama Renata seraya menangkup wajah Rendra dengan kedua tangannya, "Mama percayakan semuanya kepadamu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya Alister di ruangan CCTV, dia mengambil alih monitor, "Minggir!"
Pria yang tadinya sedang duduk di depan monitor itu pun, mau tak mau harus menyingkir, "Ba- baik Tuan, silahkan."
Huh, menegangkan sekali pagi ini, begitulah yang ada di dalam pikirannya.
"Apa-apaan ini, mengapa tak ada satupun yang -" ekor mata Alister menangkap pria tadi yang mau kabur, dengan cepat Alister meraih kursi kayu itu dan melemparkannya tepat mengenai punggungnya.
"Aaaaarrrgggghhh!!!" dia tersungkur dengan wajahnya yang mencium lantai, keras, membuatnya memekik kesakitan.
Lalu Alister menerjangnya hingga babak belur, wajahnya saja sudah sulit di kenali.
"Ampun tuan, tolong ampuni saya," bibirnya Jontor dengan luka lebam di seluruh wajah.
__ADS_1
"Siapa kau?" tandas Alister dengan menghempaskan nya, hingga punggungnya membentur tembok dengan kuat.
Lagi-lagi dia memekik kesakitan, "Aaaaarrrgggghhh!!" dia mengatupkan tangannya memohon ampun, "To- tolong maafkan saya, tuan... Sa- saya hanya orang suruhan, sungguh."
"Siapa, siapa yang menyuruhmu!" bentak Alister dengan kuat, lalu tangannya mencoba untuk merogoh pakaian pria itu.
Dia menemukan sebuah mini flashdisk, "Flashdisk?" Alister mencekik lehernya membuat orang itu gelagapan, "Sebelum menghapusnya, kau menyalin videonya terlebih dahulu? Kenapa, cepat katakan brengsek sebelum aku melenyapkan mu seperti debu!"
"Aaaakkkhh!" kedua matanya sudah berkedip-kedip, hampir kehabisan oksigen. Dia memukul-mukul tangan Alister, "Pas, pas... kan..." suaranya terdengar tidak jelas dan terbata-bata.
"Apa hubunganmu dengan semua ini? Kau mengenal saksi itu? Siapa!" teriak Alister.
Bruk!
Orang itu jatuh pingsan, "Cih! Membuatku repot, dasar anjing tak berguna! Mati saja kau!" tandas Alister dengan penuh penekanan seraya menendang kepalanya.
Dadanya sudah kembang kempis akibat emosi yang meluap, Alister segera mengunci pintu ruangan dan kembali duduk di depan monitor untuk mengecek video yang ada di dalam flashdisk.
__ADS_1