
"Engh!" pria itu mulai sadar dari pingsannya, namun Alister sama sekali tak menoleh.
Pria itu berusaha meraih kesadarannya, hingga akhirnya ia membelalak terkejut, "Tidak, apa-apaan ini? Tolong selamatkan saya, saya tidak bersalah... saya hanya di suruh untuk menghapus video itu saja."
Gerakannya sudah seperti ulat saja, bergerak kesana kemari, meminta pertolongan. Bagaimana rasanya di gantung terbalik? Tidak enak, kan?
"Berisik! Lebih baik kau diam saja sampai aku berhasil menemukan kembali bagian video yang hilang."
"Tuan muda tolong lepaskan saya -"
Alister mengerutkan keningnya karena kesal, "Aku bilang diam, ya diam!" Brak! Alister melempar wajahnya dengan sebuah buku tebal.
"Aaaakkkhh!! Sakit!"
Setelah menemukan video yang ia cari, Alister pun bersiap untuk keluar dari ruangan cctv itu.
"Tuan, tuan," serunya memanggil menghentikan langkah Alister yang sudah berada di dekat pintu, mau memutar handle.
__ADS_1
"Orang-orangku akan datang untuk membebaskan mu," dia sudah senang namun saat mendapati wajah licik Alister, dia tak terima.
"Tunggu, kau pembohong! Kau pasti akan menjebloskan ku ke penjara. Hei! Hei!" dia terus berteriak bersamaan dengan pintu ruangan yang tertutup.
Alister memasuki lift kemudian dia mengeluarkan HP untuk menelepon orang-orangnya, "Segera selidiki video yang baru saja aku kirim ke email mu... buka saja link-nya. Kau akan menemukannya, perintahkan anak buahmu untuk berjaga di sekitar rumah sakit ini, dan aku ingin kau memberiku kabar secepatnya dalam waktu 1 x 12 jam dimulai dari detik ini, dan satu lagi berikan aku informasi yang jelas mengenai saksi itu." lalu Alister mematikan HP nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam ruangan Bangsal VVIP Rendra tengah duduk di kursi yang berada di samping bed Hospital, dia meraih tangan istrinya mengelus punggung tangannya lalu meletakkan punggung tangan itu di pipi kanan Rendra.
Dan, tangan kiri Rendra mengelus pipi kanan Tiara, "Mau sampai kapan kau tidur seperti ini, aku rindu dengan suaramu, canda tawamu, dan kau yang paling sering mencuri ciuman dariku." lalu Rendra mencium punggung tangan Tiara.
"Aku akan membalas orang yang telah berani melakukan hal ini kepadamu, untuk itu ku mohon sadarlah. Bagaimana mungkin aku bisa melewati hari-hariku tanpa dirimu? Kau yang selalu menyiapkan pakaian kerjaku dan mengikat dasi. Haruskah aku meminta Bibi Rita yang melakukan semua itu?" di sela air matanya yang menetes Rendra mencoba untuk tertawa, karena apa yang ia katakan barusan menurutnya adalah hal yang lucu.
Bagaimana mungkin seorang kepala pelayan yang melakukan tugas seorang istri, "Aku juga merindukan sikap manja mu, bahkan aku belum sempat membelikan mu es campur. Ayolah bangun, jika kau membuka matamu... aku akan membawamu ke tempat yang banyak es campur nya, dan kau boleh makan apapun sepuas mu."
"Jika selama ini aku melarang mu memakan ini dan itu, maka mulai hari ini aku membebaskannya."
__ADS_1
Panjang kali lebar Rendra mengajak istrinya berbicara namun sama sekali tak memberikan reaksi apapun, hal itu membuatnya seketika menangis berderai air mata. Rendra mencoba mengingat kembali awal mula kisah pernikahan mereka. seberapa kejamnya dia terhadap wanita yang saat ini tengah mengandung darah dagingnya dan terbaring, di hadapannya.
***
Flashback ...
Sesampainya Rendra di ruangan Tiara, di dalam ruangan itu ada Rio dan El yang sedang duduk.
Begitu Rendra masuk ke dalam, keduanya pun segera berdiri dan memberikannya bow.
"Selamat siang tuan, apakah -"
Rio tercekat saat Rendra memberinya isyarat untuk diam.
"Pergilah."
El yang merasa takut pun segera menarik-narik tangan Rio, memintanya untuk keluar.
__ADS_1
"Ayo pulang," seru El dengan suara lirih.
"Ah ya baiklah, maaf Tuan, saya permisi dulu," tutur Rio yang langsung memberikannya bow begitupun juga dengan El, dan segera pergi meninggalkan ruangan ini.