PERNIKAHAN HANGAT S2

PERNIKAHAN HANGAT S2
Serpihan Memory


__ADS_3

Di dalam ruangan Bangsal itu, Mama berusaha sekuat tenaga agar tangisannya tak pecah.


Sementara itu di luar ruangan, tepatnya di ruangan khusus, Rendra sedang duduk di atas sofa dan di hadapannya sudah ada Alister juga tuan Hamish.


"Kenapa kalian memaksaku datang kemari?" lalu tuan Hamish menatap Rendra, "Bukankah urusan kita sudah selesai?"


"Tidak akan ada yang pernah selesai jika papa -"


"Apa? Papa? Sejak kapan aku menjadi papa Anda?"


Tatapan Rendra mengarah ke Alister, "Tunjukkan apa yang telah kau dapatkan."


"Baik tuan," Alister mengeluarkan beberapa lembar foto dan hasil tes DNA mama Renata dengan putri mereka ke atas meja. Semua adalah bukti pendukung.


tuan Hamish terkejut, dia melihat foto pria yang wajahnya mirip dengannya.


"Apa ini? Siapa pria ini, mengapa wajahnya mirip denganku?"


"Bukan mirip, tetapi pria yang ada di dalam foto itu memanglah Anda, tuan," jawab Alister dengan cepat.


Tuan Hamish meraih foto-foto itu, perlahan mencoba mengingat serpihan memori yang sempat hilang di kepalanya.


"Ah!" tuan Hamish terpejam menahan sakit di kepalanya, bayang-bayang masa lalu pun mulai menggeletik membuatnya berkeringat dingin.

__ADS_1


Tangannya sampai gemetaran, semakin erat kedua matanya terpejam maka semakin dalam juga memory yang bermunculan di dalam kepalanya.


Hingga akhirnya dia pun terbelalak meneriakkan sebuah nama, "Renata!" jantungnya berdegup kencang, debaran itu bisa ia rasakan. Di rabanya dada kiri yang berdegup-degup itu.


"Renata istriku, Tiara anakku?" senyum bahagia mengukir bibirnya, "Di mana, di mana mereka? Aku ingin bertemu."


Buliran air mata menetes, dia menciumi foto yang ada di tangannya.


Melihat hal itu Rendra pun segera beranjak dari tempat duduknya, "Alister, rubah penampilannya, sudah saatnya dunia mengetahui kebenaran ini."


Alister pun ikut berdiri dan mengangguk patuh padanya, "Baik tuan muda, akan segera saya lakukan sesuai dengan keinginan Anda, Tuan."


"Hm."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain, tuan Hamish tengah di makeover. Sekarang, inilah tuan Hamish yang sebenarnya. Gagah dan berwibawa, sama seperti yang dulu.


Tuan Hamish memperhatikan wajahnya yang terpantul di cermin, "Sekretaris Al, apakah benar ini aku yang dulu?"


"Benar, tuan besar..." Alister menatap arloji di pergelangan tangannya, "Sudah waktunya untuk pergi."


"Ah iya, aku sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan istri dan anakku... terlebih lagi, aku akan memiliki cucu, benar, kan?"

__ADS_1


"Iya itu benar, tuan."


Mereka pun bergegas keluar dari salon elit, masuk ke dalam mobil dan segera melakukannya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tuan Hamish yang memakai setelan tuxedo membuat ketampanannya kembali bersinar, meskipun kulit wajahnya mulai keriput, menunjukkan usia yang sudah tak muda lagi.


Sebuah pertemuan yang sangat ia rindukan, ia rindu bercengkerama dengan istrinya, setiap kali bangun tidur selalu saja wajah Renata yang ia lihat.


Dia ingin segera memeluk wanita yang selalu setia menemaninya, "Sekretaris Al?"


"Iya tuan?"


"Katakan padaku, apakah aku terlihat tampan memakai pakaian seperti ini?"


Terlalu tua! seru Alister dari dalam hati, namun ia malah mengangguk, dan turun dari mobil setelah sampai di garasi rumah sakit beberapa menit yang lalu.


Dia membuka pintu mobil bagian belakang, "Silakan turun Tuan besar, kita sudah sampai di rumah sakit."


"Sekretaris Al, aku sangat gugup."


Alister : (☉。☉)!

__ADS_1


__ADS_2