
Tiga bulan berlalu, pagi ini Manda merasa hal janggal pada dirinya sendiri.
Untuk pertama kalinya ia dibangunkan dari tidurnya karena rasa mual yang ia rasakan.
Dia mual dan ingin muntah, segera dia turun dari ranjang berlari menuju bathroom.
"Huek..." di putarnya keran wastafel, berkumur untuk membersihkan mulutnya.
"Astaga, kenapa aku begitu mual? Apakah karena aku terlalu sering bergadang?"
Setelah insiden beberapa bulan yang lalu, Manda membawa El pergi ke kota Z. Dan, memulai hidup baru dengan menjual bunga.
"Kakak," seru El memanggilnya dari luar pintu. Dia masuk ke dalam kamar dan tak menemui Manda, tetapi mendengar suara sang kakak yang berada di dalam bathroom.
"Ya El sebentar," Manda meraih tisu dan mengelap bibirnya hingga kering, lalu keluar untuk menemui adiknya, "Ada apa? Ini masih pagi, kenapa berteriak seperti itu?" imbuh Manda seraya mengusap pucuk kepala El.
"Kakak, aku bukan anak kecil lagi," progresnya sambil menepis pelan tangan Manda.
"Ada apa?"
"Kak, bukankah hari ini kita mendapatkan pesanan bunga?"
"Oh astaga, kakak hampir lupa dengan itu... kau benar, ayo segera kita kemas."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi yang cerah ini Alister terlihat sedang olahraga di tempat fitnes, keringat menetesi otot kekarnya.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian dia beristirahat duduk di kursi yang menghadap ke dinding kaca. Posisi itu bisa membuatnya melihat pemandangan kota, gedung-gedung pencakar langit.
Segala aktifitas di kota, pun, mulai di jalani.
"Selamat pagi tuan Al?" seorang pria mendekatinya dari samping, dan membungkuk memberinya bow.
Alister menjawabnya dengan anggukan kepala, "Kau sudah menemukannya?"
"Sudah tuan, nona Manda berada di kota Z... bersama dengan adik lelakinya yang bernama El."
"Sudah tiga bulan, wanita itu pasti sudah hamil. Siapkan segala sesuatunya dan ikut aku untuk menjemputnya. Ibu dari anakku tak boleh hidup terlantar."
"Baik, tuan Al... akan segera saya persiapkan segala sesuatunya."
"Hm, pergilah."
Flashback...
Tiga Minggu setelah insiden menyakitkan itu, Alister memergoki An yang sedang berbincang dengan seorang pria.
Siapa dia? Mengapa pelayan di rumah ini berani membawa orang lain untuk masuk ke dalam kediaman utama Wilson tanpa izin darinya ataupun dari tuan muda, ya setidaknya dari bibi Rita juga.
Alister yang berdiri menyembunyikan diri di balik tembok, pun, mendengar semua perbincangan mereka.
Tak lupa juga merekam dua suara itu.
"Aku sudah membantumu menyingkirkan gadis itu, informasi terkahir yang ku dapatkan dia sudah pindah keluar kota."
__ADS_1
"Jack, kau memang pria yang cerdas. Apakah kau berhasil menidurinya? Bagaimana pelayanannya? Apakah memuaskan ...,"
"Memuaskan apa? Dia berhasil kabur dariku, padahal aku sudah memasukkan obat perangsang di dalam minumannya," imbuh Jack dengan kesal.
"Ckckck... kasihan sekali dirimu -"
Jack menarik tubuh An ke dalam pelukannya, "Aku masih tak bisa melupakan malam percintaan kita, sayang..."
"Hei hentikan itu, anak di dalam rahimku ini akan ku jadikan senjata untuk menjebak tuan muda. Aku hanya perlu membuat adegan seolah tuan muda telah menodai ku. Menyingkirkan wanita jelek itu tidaklah sulit."
"Tetapi Manda menukar obat pelumpuh otak itu dengan obat bius."
Alister sangat terkejut saat mengetahui hal yang sebenarnya, matanya mendelik tajam dengan seklera yang mulai memerah.
Dadanya panas membara, bagaimana mungkin dia bisa menghancurkan hidup seseorang dengan merenggut paksa kesuciannya.
Dadanya bergemuruh hebat, otaknya serasa panas.
Di dalam kamar An, saat keduanya hendak bercinta dan masih memulainya dengan ciuman panas tanpa membuka baju, Alister mendobrak pintu kamar.
Membuat keduanya terkejut.
Lebih terkejut lagi saat tahu tenyata pria yang ia panggil dengan sebutan Jack adalah salah satu dari anak buahnya sendiri.
Rahang Alister mengeras sempurna dengan luapan emosi yang tak terbendung lagi, tanpa bicara dia menarik pistol dan menembakkan pelurunya di paha kiri Jack, alias M.
Dor!
__ADS_1
"Aaaakkkhh!!!" darah segar mengalir, kakinya tak kuat menopang tubuhnya, membuat M terhuyung dan ambruk berlutut meringis kesakitan.