
Dave masuk ke dalam ruangan, dan Rendra hanya bisa melihat mereka dari luar. Pintu itu memiliki kaca yang memungkinkan seseorang bisa melihat ke dalam.
"Bertahanlah sayang, demi anak kita... aku bahkan belum puas untuk memanjakan mu," ucap Rendra dengan lirih.
Satu jam kemudian Dave keluar lagi, "Kak Rendra?"
"Ada apa Dave? Bagaimana hasil pemeriksaan mu?"
Dave menatap semua wajah yang sedang dilanda cemas, lalu Dave menghela napas dan menepuk bahu kakak sepupunya itu.
"Pendarahan kakak ipar berhasil di hentikan, dan kakak ipar juga sudah melalui masa kritisnya."
Terdengar helaan napas panjang melegakan dari mulut mereka semua, terutama Rendra dan Alister.
Karena jika hal buruk terjadi, maka sudah pasti Alister tak akan mendapatkan kata maaf dari sang tuan muda.
Mereka semua bernapas lega, "Kakak bisa tenang sekarang, karena semua kondisi sulit ini Kakak ipar berhasil melewatinya."
"Lalu kapan dia akan sadar?" tanya Rendra dengan tatapan sendu, lalu dia menundukkan pandangannya dengan lemah saat Dave menggeleng pelan kepadanya, "Begitu kah?" tanya Rendra dengan sangat lirih, lalu dia tertawa, tawa frustasi dengan deraian air matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu pun berputar dengan cepat, sejak insiden kecelakaan yang membuat Tiara koma hingga detik ini.
Memasuki bulan persiapan kelahiran buah hatinya, namun belum juga menunjukan tanda-tanda kesadarannya.
__ADS_1
Pagi ini, tim medis yang di pimpin langsung oleh Dave sedang mempersiapkan ruangan operasi.
Di dalam ruangan Bangsal, suami, orang tua dan orang yang dekat dengannya pun tengah berkumpul dan saling menyemangati.
Rendra meraih tangan istrinya yang terkulai lemah itu, "Sayang, sebentar lagi anak kita akan lahir ke dunia ini... bukankah ini impian mu sejak dulu? Kau ingin aku menemanimu saat bersalin, kan?"
Bibir Rendra kembali bergetar, lalu di tatapnya langit-langit ruangan sembari meniupkan udara dari dalam mulutnya agar air matanya tak jatuh.
"Bersabarlah Nak, Tuhan selalu ada untuk melindungi hamba-Nya," imbuh papa Hamish sembari mengusap-ngusap pundak menantunya itu.
Sementara mama Renata terlihat sedang menggunting kuku putrinya, "Sayang, sebentar lagi juga anak kalian akan memiliki teman," mama Renata menatap Manda yang sedang mengelus perutnya.
Usia kehamilannya juga tinggal menghitung beberapa bulan lagi, Manda tersenyum, begitupun juga dengan mama Renata.
"Mereka akan menjadi orang yang saling membutuhkan serta saling melindungi satu sama lainnya."
Semua menoleh saat pintu ruangan terbuka, para medis mendekat dan bersiap untuk memindahkan Tiara ke ruangan operasi.
"Maaf semuanya, sudah waktunya untuk membawa nona ke ruangan operasi," seru seorang petugas medis.
Mulailah mereka mendorong bed hospital di mana Tiara terbaring saat ini, Rendra dan yang lainnya pun mengikutinya hingga ke ruang operasi.
"Yang lainnya tetap menunggu disini, tidak boleh masuk."
"Tolong selamatkan istriku," ucap Rendra dengan begitu memohon.
__ADS_1
"Berusahalah untuk menyelamatkan putri kami, dokter," seru papa Hamish sembari merangkul bahu istrinya, mengusapnya, mencoba untuk memberikannya semangat.
"Kami akan berusaha semampu kami, hanya Tuhan yang memiliki kuasa untuk nyawa hamba-Nya. Tetap berdoa dan jangan putus asa," seru petugas medis itu sembari menutup pintu ruangan.
Dua menit kemudian pendar lampu ruangan operasi pun menyala merah, pertanda jika operasi sedang berlangsung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Operasi ini Dave yang memimpin, karena dia juga merupakan salah satu dokter Obgyn terbaik di kota ini.
Dia memulai operasi dengan penuh keyakinan jika kakak ipar dan calon keponakannya itu akan baik-baik saja.
Waktu terus berjalan hingga di tengah operasi denyut jantung dan tekanan darahnya menurun.
"Dr.dave!" seru suster Alina, "Tekanan darah dan denyut jantung pasien menurun."
"Siapkan kantung darah, hubungi keluarga pasien, segera!"
"Ba- baik, dokter."
Alina segera keluar dan meminta kesediaan keluarga untuk memberikan donor darah.
"Siapa di antara kalian yang memiliki darah ARH-O Negatif?"
"Saya," seru papa Hamish.
__ADS_1
"Aku," tandas Rendra.
Ada dua, syukurlah... "Pasien membutuhkan donor darah, tolong segera pergi ke laboratorium untuk mendonorkan darah kalian," seru Alina dan kembali masuk ke dalam ruangan.