
Pergumulan panas keduanya pun berakhir, Alister segera menarik diri dari kepemilikan Manda.
Dia membaringkan tubuhnya tepat di sisi Manda sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya, lalu memeluknya terkadang juga mengusap perutnya.
"Dari mana kau tahu aku ada di kota ini?"
"Kau lupa siapa pria yang akan menjadi suami mu ini?"
Manda membuang wajahnya ke arah yang berlawanan, "Aku tidak bersedia menikah denganmu."
"Aku tidak akan pergi sampai mendapatkan hak ku."
"Hak apa? Jangan membuatku tertawa."
"Jangan main-main denganku, Manda, aku bisa melakukan hal yang gila."
Manda diam sejenak dengan menggigit bibir bawahnya, dia terkejut saat Alister kini sudah berada di atas tubuhnya lagi, "Ma- mau apa lagi kau?"
"Aku akan menikahi mu dan tak akan membiarkanmu melahirkan anak kita tanpa seorang suami."
"Aku bisa membesarkannya sendiri -" Manda memejamkan kedua matanya saat Alister menggigit dada kanannya, hingga meninggalkan bekas merah keunguan.
"Jangan keras kepala, atau aku akan melenyapkan adikmu. Kau tahu diriku seperti apa, lalu mengapa kau mencoba memancing emosiku. Pernikahan kita sudah di tetapkan, aku tidak peduli dengan semua penolakan mu."
"Kau adalah pria yang egois."
"Maka menurutlah, aku tak ingin membuatmu terluka untuk yang kedua kalinya."
Dari luar El memaksa masuk dan mencoba untuk memutar handle pintu, tapi tak bisa karena terkunci.
__ADS_1
"Kakak, kakak, ... kakak?" seru El yang terus memanggilnya.
"Menyingkirlah, adikku sudah pulang."
"Di luar ada Rio, biarkan saja... urusan kita masih belum selesai."
Lagi, dia membungkam bibir Manda dengan leluasa, dan kembali meninggalkan jejak kepemilikannya di sekujur tubuh Manda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kediaman Wilson...
Bosan di dalam kamar dan membuat Embun mengajak suaminya untuk jalan-jalan.
"Sayang ayo kita cari angin segar di luar," ajak Embun sembari menarik-narik lengan suaminya.
"Untuk apa mencari angin segar? AC di kamar ini masih berfungsi dengan baik."
"Aaaaaa, sayang ayolah... baby minta jalan-jalan."
"Yang benar baby minta di jenguk."
Rendra langsung menarik tubuh Embun ke dalam kungkungannya, membuat dua manik itu saling menatap dalam.
"Sayang jangan, minggir sana," pinta Embun sambil menepis tangan suaminya yang sudah bermain-main di dadanya.
"Satu kali saja, ya? Hari ini kita belum melakukannya. Kau kan tahu sendiri jika aku tak bisa melewatkan sehari pun tanpa berhubungan badan denganmu."
"Dasar, hidup bukan hanya sekadar berhubungan badan. Cepat menyingkirlah, aku ingin jalan-jalan."
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau sebelum kau bersedia melakukannya-"
"Sayang, tidak lihat ya sudah sebesar apa perut ku ini?"
Gerakan liar Rendra terhenti saat melihat perut buncit istrinya, ingin marah tapi tidak logis saja.
"Baiklah, ayo kita jalan-jalan... tapi sebentar saja karena aku tak mau kau kelelahan."
"Kau memang suami yang baik hati," Senyum simpul ia berikan untuk Rendra, lalu mencium lembut keningnya, "Terimakasih sayang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jalan-jalan di sore hari menikmati ke segaran angin kota memanglah epic.
"Sayang, aku mau ice cream."
Dia menunjuk sebuah gerobak jajanan di pinggir jalan.
"Jajanan di pinggir jalan itu tidak higenis, jangan aneh-aneh."
"Aaaaa, sayang tapi baby juga ingin."
Rendra menggeleng seraya menghela napasnya, "Putraku belum lahir, lalu dari mana kau tahu jika dia juga menginginkan ice cream? Aneh."
"Aaaaaa, aduh..."
Langkah mereka pun terhenti, Rendra pun mulai panik.
"Sayang, kau kenapa? Dimana nya yang sakit, katakan padaku."
__ADS_1
"Baby menendang perutku, sakit sekali... mungkin dia marah karena papanya tak mau membelikan ice creaaaa -" Rendra pun langsung mencubit gemas pipi tembem Embun, "Sayang sakit!" seru Embun sambil menepis kuat tangan suaminya.