
Tak cukup sampai di situ, bibi Rita tetap berkoar mengompori Alister dengan menjelek-jelekkan keluarga inti.
"Bukan hanya itu saja, jika bukan karena kehamilannya, tuan besar tak akan mungkin memaksaku untuk menggugurkan janin yang ada di dalam rahimku, dia juga harus merasakannya... aku tak akan membiarkan keturunan Wilson lahir, hahaha...."
"Diam! Diam!"
Karena tak kunjung di gubris, akhrinya Alister mencekik leher bibi Rita lalu meminta kepada dua anak buahnya untuk membuka pintu yang mengarah ke balkon
"Buka pintu balkon dan berikan aku kain panjang."
Kedua orang itu pun mengangguk.
"Lepas... le... pas... lepaskan aku, Aaaakkkhh!" suaranya terbata-bata seiring dengan semakin kuatnya cekikan tangan Alister di lehernya.
"Tuan, semuanya sudah di persiapkan," seru salah satu anak buahnya.
Lalu, Alister pun menyeretnya seperti anak anjing yang hampir mati. Tak berperasaan Alister melilitkan kain itu di leher bibi Rita.
Tentu saja wanita itu memberontak, "Apa yang kau lakukan, lepaskan aku! Lepaskan!"
"Diam, bukankah kau mencintai tuan besar? Kau akan berterima kasih denganku karena sebentar lagi, kau akan bertemu dengannya."
__ADS_1
Lilitannya semakin kuat membuat bibi Rita terengah-engah.
"Kalian, cepat lemparkan dia ke bawah!"
pinta Alister yang langsung beranjak dari tempatnya dan sedikit menjauh.
Mereka mengangguk dan langsung melakukan apa yang Alister perintahkan.
"Tidak, jangan, lepaskan akun... lepaskan Aaaaaaa, Aaaaarrrgggghhh!" dia mengejang-ngejang seperti ayam yang baru saja di potong urat nadinya.
Alister menundukan pandangannya menikmati pemandangan super indah itu, "Jangan pernah mencoba mengusik keluarga inti, atau kalian akan berakhir dengan kondisi menyedihkan!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Anakku, mama mohon izinkan mama masuk, mama ingin memeluknya."
"Mama tidak akan kuat melihatnya."
"Lalu mau sampai kapan?"
Rendra diam sejenak, meskipun seorang wanita yang telah menikah akan menjadi' hak suami seutuhnya, tetapi dia juga adalah pria yang masih memiliki hati.
__ADS_1
Rendra menghela napas pelan, "Baiklah, tetapi mama tidak boleh menangis."
"Ya, mama janji, mama tidak akan menangisinya."
Yakin, Rendra pun mengizinkan mama Renata untuk segera masuk ke dalam untuk menemui putri kandungnya.
Mama tak sendirian karena dia selalu di temani oleh Maya, "Nyonya besar, kuatkan hati anda, Nyonya."
Mama mengangguk, lalu duduk di kursi yang baru saja di tarik oleh Maya.
Tak pernah sedikitpun terlintas di benaknya untuk hal seperti ini, melihat dengan mata kepala sendiri Putri yang ia nantikan kina tengah terbaring koma.
Mama Renata meraih tangan Tiara lalu mencium punggung tangannya, "Ayo bangun sayang, sudah hampir sore dan kau masih belum bangun dari tidur panjang mu?" menyeka air mata, dan hal itu pun terlihat oleh Maya.
"Nyonya jangan menangis, kata orang meskipun seorang pasien dalam keadaan koma... tetapi alam bawah sadarnya masih bisa merespon."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai guys, ini pertama kalinya nona buat Noted di akun baru, biasanya mah kagak ada, hehe, cuman mau kasih tau, kalau bentar lagi Pernikahan Hangat Season 2 akan segera tamat.
Dan berlanjut ke story novel baru, dengan judul yang berbeda. Di novel selanjutnya akan menceritakan kisah tentang Reykhel dan Nayra.
__ADS_1