PERNIKAHAN HANGAT S2

PERNIKAHAN HANGAT S2
Haru Biru


__ADS_3

Satu bulan berlalu namun Tiara pun belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar dan terbangun dari komanya.


Karena sebuah alasan akhirnya Rendra memutuskan untuk merawat Tiara di kediamannya, dengan meminta dokter Haikal untuk terus memantau kondisinya.


Di setiap hari, setiap waktu Rendra mengunjungi istrinya yang terbaring di sebuah kamar khusus.


Dia juga membawa Reykhel di dalam pangkuannya, di usianya yang sudah menginjak satu bulan, pun, Reykhel tumbuh dengan sehat dan gemuk.


Kedua pipinya yang merah gembul, membuat siapapun akan gemas saat melihatnya.


Rendra duduk di kursi yang ada di dekat ranjang.


"Sayang, mau sampai kapan kau tidur seperti ini? Tidak kah kau tahu betapa menggemaskannya Reykhel."


"Semakin besar, dia semakin mirip dengan ku... padahal kau mamanya, tetapi tidak ada satupun darinya yang menyerupai mu," ucap Rendra dengan lirih.


"Sayang, coba kau lihat Reykhel.." Rendra meletakkan putranya di sisi Tiara, membuat Reykhel tak ingin lepas dari pelukan papanya.


Reykhel pun menangis dengan suara yang melengking, tangannya mencoba meraih tangan sang papa.


Rendra menatap sedih saat melihat Tiara yang tak merespon, saat Rendra mengusap wajahnya dan di saat yang bersamaan juga Tiara meneteskan air matanya.

__ADS_1


Alam bawah sadarnya merespon, dia menangis di alam sana saat tengah berbincang dengan mama mertuanya.


"Mama?" seru Tiara, mencoba menggapai tangan mama mertuanya.


"Apa yang kau lakukan di sini? Tidak kah kau mendengarnya?" seru mama yang membuat Tiara heran sembari sedikit memiringkan kepalanya.


"Hm? Apa maksud mama?"


"Lihatlah," mama menunjuk ke sebuah tempat dengan penuh warna, "Suami dan putramu sudah menunggu, jangan membuat mereka menanti terlalu lama, sayang," mama mengusap pipi kanan menantunya itu.


Samar-samar Tiara mendengar suara Rendra memanggil-manggil namanya, begitu pun juga dia mendengar suara tangisan Reykhel.


"Jangan katakan itu lagi sayang, di sana masih ada orang-orang yang membutuhkanmu, papa dan mama mu juga sangat menyayangimu..."


"Papa dan ma - mama?"


"Ya," mama mertua mengangguk, "Dengarkan mama sayang, mama bisa melihat semua yang terjadi dari dalam dirimu... pergilah, belum saatnya kau berada di tempat ini, ayo pergilah temui mereka, papa sudah menunggu mama..."


Mama mertua melepaskan belaian tangannya dari Tiara, dan mendorongnya.


Seketika Tiara terbangun dari tidur panjangnya.

__ADS_1


Dia membelalak dengan tarikan napas yang keras sembari memanggil seseorang, "Mama!"


Rendra yang terkejut pun di tambah lagi Reykhel yang mendadak menangis dengan suara kencang karena terkejut mendengar suara sang mama.


"Tiara, sayang? Kau sudah sadar, syukurlah..." Rendra kembali menggendong Reykhel dan duduk di tepi ranjang.


"Sayang..." Tiara mencoba untuk bangun namun tak bisa, karena dia merasa pusing.


"Akh!"


"Hati-hati, jangan banyak bergerak, kau baru saja terbangun dari koma -"


"Koma?" tanya Tiara dengan heran, lalu kedua bola matanya menatap wajah mungil yang begitu mirip dengan suaminya, "Sayang, dia -"


Rendra mengangguk lalu tersenyum, "Iya sayang, dia Reykhel... putra kita, kau ingin menggendongnya? Dia pasti sangat merindukanmu."


Seketika air mata Tiara meleleh, "Maafkan mama, Reykhel sayang... mama sudah menelantarkan mu..."


Rendra membaringkan Reykhel yang baru saja tertidur di dalam pelukannya, membaringkannya di sisi Tiara.


Tiara memiringkan tubuhnya untuk mengelus wajah Reykhel, dia menciuminya dengan penuh haru dan kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2