
Guncangan pelan membuat Alister membuka kedua matanya, dia menoleh ke samping kanan.
"Maaf tuan, tempat ini akan segera tutup."
Alister terbangun dari tidurnya, dia mengingat kembali sebuah kebenaran yang telah terungkap hingga terbawa tidur.
Alister memijit pelan keningnya yang berkeringat, padahal di dalam ruangan ini AC nya menyala.
"Tuan?"
"Ya, aku mengerti... menyingkirlah, jangan menyentuhku."
Karyawan gedung fitnes itu pun langsung mundur selangkah sembari mengangguk, "Maafkan saya, Tuan."
Alister beranjak dari sofa dan mengambil tas jinjingnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil hitam Alister baru saja keluar dari parkiran gedung itu, dia berencana untuk mandi terlebih dahulu setelah itu barulah dia melanjutkan perjalanannya ke kota Z.
Sebelumnya dia juga sudah memberitahukan Rendra, beberapa hari kedepan sampai dirinya berhasil membawa pulang Manda maka dia tak akan menginjakan kakinya lagi di kota ini.
Dia harus menebus semua kesalahannya kepada Manda, dia menyadari perasaan asing yang singgah di hatinya. Tapi enggan untuk mengakuinya.
Sampai di apartemen pribadinya, seorang pelayan wanita paruh baya menyambut kedatangannya. Sebelumnya dia hanya hidup seorang diri tanpa teman.
__ADS_1
Namun kini, dia ingin ada pelayan yang bekerja di apartemennya. Untuk melayani dirinya dan Manda, nanti, jika mereka hidup bersama.
Tapi mengingat sifatnya yang dingin dan semua harus sesuai dengan apa yang ia mau, dia pasti akan memaksa Manda untuk menerima dan menikah dengannya.
Sekalipun harus melenyapkan adiknya, hanya itu ancaman yang bisa ia gunakan, ancaman terbesar di dalam hidup Manda.
"Selamat siang tuan Al, semua keperluan tuan sudah di persiapkan."
"Baguslah, tidak sia-sia aku menggaji kalian. Selama aku tak ada di tempat, tetap lakukan pekerjaan kalian seperti biasanya."
"Baik."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jadwal keberangkatan telah di tetapkan, pesawat menuju kota Z akan berangkat dalam waktu lima belas menit lagi.
"Rio, kau sudah memastikan wanitaku ada kota Z? Cukup lama aku memberimu waktu untuk mencarinya, aku tidak ingin kau membuatku kecewa."
Alister duduk di atas kursi kabin dengan melipat kaki, dia menoleh ke arah jendela memandang bandara kota yang akan ia tinggalkan dalam waktu lama.
Rio mengangguk hormat padanya, "Saya sudah memastikannya, tuan Al."
"Beritahukan kepada kapten pilot untuk segera lepas landas, jangan membuang waktu berharga ku."
"Saya mengerti tuan," Rio mundur selangkah dan segera pergi ke tempat kapten, memberitahukannya untuk segera menerbangkan pesawat ini.
__ADS_1
Suara mesin pesawat itu, pun, mulai berdesing di antara udara. Beberapa menit kemudian pesawat berhasil lepas landas menuju kota Z.
Manda, tunggu aku... aku pasti akan datang untuk menjemput mu, dan anak kita.
Entah keyakinan dari mana ia dapatkan, dirinya begitu yakin jika saat ini Manda tengah mengandung darah dagingnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kediaman utama Wilson...
Embun tengah membuat jus alpukat untuk dirinya sendiri, dia masih memblender buahnya.
Dari belakang Rendra mendekapnya dengan penuh kelembutan, "Apa yang kau lakukan?" menggigit pundak Embun, "Kau, kan, bisa meminta bibi Rita untuk membuatkannya."
"Tidak mau, aku masih bisa membuatnya sendiri."
Rendra tersenyum kemudian mengelus perut Embun yang terlihat membuncit, "Usia kandungan mu sudah memasuki empat bulan, aku tidak sabar ingin bertemu dengan putarku."
"Bersabarlah, itu tidak akan lama -"
"Aku tidak mau kau bersalin normal."
"Apa? Jika tidak dengan cara normal lalu dengan cara apa?"
"Operasi, aku tidak mau melihatmu kesakitan sepanjang waktu untuk menunggu pembukaan persalinan."
__ADS_1
"Sayang, kau kan belum pernah melihat -"
"Dulu, saat mama mau melahirkan Thalia. Aku melihatnya dengan jelas. Mama kesakitan dan itu membuatku tak mau istriku mengalami hal yang sama."