PERNIKAHAN HANGAT S2

PERNIKAHAN HANGAT S2
Pertemuan Yang Tak Disengaja


__ADS_3

"Alister hentikan itu, dia bisa mati ketakutan!" seru Manda mencoba membantu Intan untuk berdiri.


"Biarkan saja dia," lalu Alister menatap tajam pada Rio yang sedang berdiri di ambang pintu, "Pergi ke ruangan nona muda, jika terjadi sesuatu di luar kendali segera hubungi aku!"


Rio sedikit gelagapan karena ini pertama kalinya dia melihat Alister bersikap tak kenal ampun terhadap seorang wanita, "Ba- baik, Tuan Alister."


El yang melihat calon kakak iparnya pun dia mendadak merinding, dan lebih memilih untuk mengikuti langkah kaki Rio menuju Bangsal VVIP.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mama Renata dan Maya baru saja sampai di lobi rumah sakit, terjebak macet membuatnya harus bersabar.


"Permisi, maaf nona bisakah kau memberitahukan ku ruangan dari istri tuan muda Rendra?" dengan napas yang terengah-engah Mama Renata meminta informasi dari resepsionis yang ada di lobi.


"Baik Nyonya, tunggu sebentar," Ada apa dengan mereka semua? Terlihat begitu tidak sabaran! "Tuan muda Rendra ada di ruangan VVIP 101, nyonya."


"Baiklah, terimakasih."


Dengan tergesa-gesa mama Renata dan Maya masuk ke dalam lift, tubuhnya sudah gemetaran. Berharap jika hal buruk tak akan terjadi kepada anak dan menantunya itu.


Ting!

__ADS_1


Begitu lift terbuka dan Mama Renata juga Maya keluar dari lift, masih dengan tergesa-gesar. Mereka berpapasan dengan pria pejalan kaki yang dini hari menolong Rendra dan Tiara.


Pria itu masuk ke dalam lift, sekilas Maya melirik ke arahnya dan terasa familiar.


Namun karena rambut gondrong dan luka di bagian pipi membuat Maya tak menyadari jika pria itu adalah tuan besar Hamish.


Mama Renata melihat kamar rawat dengan nomor 101 di tengah koridor, dia menghela napas lega.


Dengan lutut yang terasa ingin lepas membuatnya terhuyung, berjalan dengan menyandarkan tangan di tembok. Berusaha sekuat mungkin untuk menopang tubuhnya.


Klek!


"Tiara!" seru mama Renata setelah membuka pintu ruangan, membuat Alister menoleh ke arahnya.


"Nyonya besar adalah mama mertua dari tuan muda Rendra, tuan," seru Maya membuat Alister bingung.


"Apa? Aku sudah membuang ibu nona muda, lalu mengapa muncul lagi seseorang yang -"


Alister mengembangkan kelopak matanya saat Rendra mencengkeram tangannya, "Tuan muda, anda sudah sadar?" seru Alister antara panik dan senang.


Rendra melepaskan kantung oksigen nya, "Dia membawakan hasil tes DNA ke rumah, lalu di mana istriku?"

__ADS_1


"Nona muda ada di bangsal VVIP tuan, karena nona muda mengalami koma -"


"Apa?" seketika itu juga mama Renata merasa pusing dan ingin pingsan, tetapi Maya segera menopang tubuhnya.


"Bertahanlah nyonya, saat ini nona muda membutuhkan dukungan dari kita semua."


"Maya, mengapa cobaan ini begitu berat? Aku bahkan belum memeluknya... mengapa Tuhan begitu tidak adil?"


"Duduk dulu Nyonya," seru Manda dengan tersenyum, dia mempersilakan mama Renata untuk segera duduk di sofa.


Mama Renata duduk dengan di bantu Maya, dia mengusap air matanya yang jatuh bercucuran.


Rendra segera duduk bersandar bantal, menatap tangannya yang di pasang alat penyanggah.


"Cih! Menyebalkan sekali. Alister, kau sudah menemukan sopir itu?"


"Tidak ada bekas kecelakaan di tempat yang tuan beritahukan -"


"Apa?" sontak saja Rendra terkejut hingga membulatkan matanya, "Itu tidak mungkin terjadi, cctv... kau sudah memeriksanya?"


"Bagian dari video itu telah terhapus, tuan."

__ADS_1


Lalu Rendra pun ingat jika ada seorang saksi yang bersamanya tadi, "Alister, aku baru ingat sesuatu. Tadi ada saksi yang datang bersama ku ke rumah sakit ini. Cepat kau periksa cctv rumah sakit ini."


__ADS_2