
"Itulah saat pertama dan terakhir kalinya aku memeluk Tiara, putriku... selama bertahun-tahun aku mencarinya, kesana kemari, selalu datang ke kantor polisi, namun belum mendapatkan kabar apa pun."
Mama Renata mengusap kedua matanya yang berlinangan air mata, dia bahkan sampai sesegukan.
"Tetapi kehadiran anda membuat istriku shock, dia sedang hamil dan hal ini dapat membebaninya."
"Maafkan mama, mungkin tidak seharusnya mama datang menemuinya."
"Jangan menangis lagi, aku tidak bisa banyak membantu karena ini adalah masalah interen antara mama dan istriku."
Mama Renata kembali meneteskan air mata, dia menggenggam tangan Rendra. Dia tak pernah menyangka sama sekali di dalam hidupnya.
Dulu ia kehilangan anak semata wayangnya, namun sekarang saat bertemu mama Renata malah mendapatkan dua anak sekaligus.
"Istriku sedang menunggu di rumah, jadi aku tak bisa berlama-lama berada di luar," Rendra segera beranjak dari duduknya dan mengangguk sopan pada mama Renata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kota Z...
Alister yang baru selesai makan malam, mendadak dia ingin tubuhnya di pijat.
"Sayang, kemarilah..."
"Ada apa?" seru Manda dari bathroom, suaranya sedikit tidak jelas karena tengah menggosok gigi.
__ADS_1
"Tubuhku lelah semua, cepat pijati aku."
Manda sama sekali tak menjawab, dia menoleh ke arah jendela yang terpasang di bathroom.
Cepat-cepat dia berkumur-kumur, "Siapa?" seru Manda sembari mendekat. Posisinya saat ini sedang memakai piyama biru dengan corak Donal duck.
Rambut panjangnya terurai, dia hanya menjepit poninya ke atas dengan bobby pin.
Pyaaarrr!!
"Aaaaaa!!"
Seorang pria mendobrak masuk melalui jendela bathroom, sontak saja Manda terkejut dan berteriak.
Teriakan Manda membuat Alister terkejut dan beranjak bangun dari duduknya di tepi ranjang.
Brak!
Sekali dobrakan pintu nya pun terbuka lebar, membuat engsel pintu itu rusak.
"Manda!"
Pria yang memakai topeng wajah itu berhasil menyandra Amanda, dua tangannya terkunci ke belakang sementara tangan kanan pria itu melingkar di leher Manda dengan sebuah pistol.
Manik cokelat Manda menyiratkan ketakutan, membuat Alister memanas.
__ADS_1
"Sehelai saja rambutnya jatuh, aku tak akan segan mencabik-cabikmu!"
"Maka menjauhlah!" imbuh pria tersebut sembari menarik pelatuk.
Manda menggeleng, dengan kedua sudut matanya yang basah, "Jangan pedulikan dia -"
"Hei!" teriak pria itu tak main-main, lalu melepaskan satu tembakannya dan hampir mengenai tubuh Alister jika saja dia tak dapat menghindarinya, hal itu membuatnya tertawa sudah seperti Opera saja baginya.
Prak!
Dia melemparkan belati tajam di lantai tepat di dekat kaki Alister, lalu pistol itu kembali menodong kepala Manda, "Ambil belati itu!"
"Alister jangan, ku mohon jangan dengarkan dia -"
Dor!
"Aaaaaa!!!" teriak Manda dengan histeris saat pria itu menembak lantai, tepat di dekat kakinya.
"Apa yang kau inginkan? Jika targetmu adalah aku, lepaskan istriku."
Istri? Bahkan kalian saja belum terikat tali pernikahan, Alister. Apakah sebegitu khawatirnya dirimu terhadap wanita yang tengah mengandung darah daging mu?
"Cepat ambil belati itu!" Alister pun menurutinya, dia mengambil belati, "Bagus, sekarang tusukkan belati tersebut ke dada mu," Manda semakin menangis, "Berhenti menangis atau aku akan menembak kepalanya!"
"Jangan sakiti dia, aku akan melakukan apapun yang kau mau! Tapi sebagai gantinya, cepat lepaskan dia!"
__ADS_1
Alister menatap nyalang kepada pria itu, namun tatapannya hanya di balas dengan suara tawa mengejek.
"Hahahaha.... manis sekali, cepat, tancapkan belati itu ke dada kiri mu dan harus mengenai jantungmu!"