PERNIKAHAN HANGAT S2

PERNIKAHAN HANGAT S2
Pulang


__ADS_3

Malam menuju puncaknya, Manda tertatih-tatih melangkah meninggalkan gedung red man hall itu dengan kesusahpayahan, menahan sakit di tubuhnya.


Rambutnya kusut berantakan, dia berjalan menyusuri jalan hingga sampai di halte bus. Kepalanya masih terasa berat, namun tak sesakit saat melihat orang yang dia suka telah menyakitinya seperti ini.


Beberapa menit menunggu akhirnya bus terkahir datang juga, bus dengan rute kota J ke kota B.


Manda menghela napas saat menaiki tangga bus menahan sakit yang masih terasa menyiksanya, "Hei nona, kenapa lama sekali masuknya? Cepatlah, memangnya kau tak lihat mereka sudah menunggu?" protes sang sopir itu pada Manda yang masih belum masuk.


"Maaf," Manda menguatkan genggaman tangannya pada handle pintu masuk bus, dia berjalan menuju kursi paling belakang.


Duduk menyandarkan kepala yang diselingi air mata, hanya berharap agar mimpi buruk ini berakhir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di ruang inap VVIP dua lelaki itu terlelap di dalam tidurnya, Embun sangat gelisah mengingat insiden itu.


Dia turun dari bed, menyeret tiang infus dan berjalan menuju jendela, menatap guyuran hujan yang semakin deras.


Tak ada cahaya rembulan yang menyinari, tenggelam di dalam gelapnya malam.


Kau di mana? Ku harap, aku bisa memberitahukan mereka tentang kebenaran mu.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak tidur?"


"Em?" Embun menoleh ke sumber suara dan ternyata suaminya sudah duduk, mungkin sejak tadi dia sudah memperhatikannya.


Rendra beranjak dari sofa mendekatinya lalu memeluk sang istri dari belakang, "Apa yang kau pikirkan? Apa ada sesuatu yang mengganggu mu?" Embun menggeleng pelan, "Lalu?"


"Tidak ada apapun yang mengganggu, sayang," dia mengusap punggung tangan suaminya, "Sayang, aku ingin pulang."


"Tidak, kau akan dirawat di sini selama dua Minggu."


"Apa? Sayang, aku baik-baik saja... dan bayi kita juga tidak apa-apa, dia baik-baik saja -"


"Tapi -" Ah!


Embun meringis kesakitan saat Rendra menggigit pundaknya, lalu berpindah ke daun telinga.


"Sekali lagi kau menjawab tidak, maka aku akan memenjarakan mu."


Betapa berbahayanya dirimu, kau bahkan tega memperlakukan aku yang secara nyata adalah istrimu, aku tak mampu membayangkan apa yang akan kau lakukan kepada Manda jika kalian bertemu. Semoga Tuhan selalu melindungi dirimu, di manapun kau berada.


Sesaat Embun menghela napas, "Baiklah sayang, maafkan aku yang hampir tak mau menurutimu, aku tahu semua yang kau lakukan adalah yang terbaik untukku."

__ADS_1


Bayangan kaca jendela memantulkan dua wajah yang berpadu di dalam lembutnya ciuman malam yang dingin, di sofa Alister ternyata sudah bangun.


Tiba-tiba saja dirinya teringat akan percintaan satu malam nya bersama dengan Manda.


Cih!


Lalu kembali tidur lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam lima pagi bus yang membawa Manda menuju kota B, pun, akhirnya sampai juga.


Dia turun di halte bus yang sepi, lalu melanjutkan perjalanannya menuju rumah. Waktu yang ia tempuh dari halte bus ke rumahnya hanya butuh sekitar tiga puluh lima menit.


Sampai di depan rumah sepi menyambut kepulangannya. Mungkin sang adik masih terlelap di dalam tidurnya.


Dia bahkan tak melihat penjaga atau orang-orang yang di utus An.


Masuk ke dalam rumah, "El, ini kakak... kau di mana?" tak ada jawaban yang mengudara, "El?"


Manda mengetuk pintu kamar El, namun masih tak ada jawaban, sekali lagi dia mengetuknya, "El?" membuka pintu, dia mematung sempurna dengan apa yang baru saja ia lihat.

__ADS_1


__ADS_2