
Klek!
Rendra, Mama Renata, Maya, dan juga Manda menoleh bersamaan ke arah pintu ruangan Bangsal, Maya dan Mama Renata terkejut saat melihat sosok lelaki yang tengah berdiri di ambang pintu.
Mendadak lidah mama Renata menjadi kelu, dia menutup mulutnya sendiri dengan hati yang bergetar.
Dia melemah hampir terduduk di lantai dengan air matanya yang menetes, untung saja Maya dengan cepat menopang tubuhnya.
"Nyonya, itu tuan besar, Nyonya..." seru Maya tak kalah bahagianya.
Papa Hamish melangkah dengan wajah bahagia, dia mengulurkan tangannya ke hadapan mama Renata.
"Ini aku..." tutur papa Hamish dengan suara bahagia yang di sambut pelukan mama Renata.
Mama Renata menghamburkan diri di dalam pelukan suaminya, suami yang ia kira telah tiada ternyata masih hidup.
Betapa bahagianya dia, Tuhan memberikan kado spesial yang begitu besar di hari ulangtahun pernikahan mereka.
"Maafkan aku yang terlambat menemui mu," ucap papa Hamish seraya mengusap punggung istrinya.
"Terimakasih telah hadir kembali ke dalam hidupku, bertahun-tahun lamanya aku hidup seorang diri di dalam kesedihan," mama Renata melepaskan diri dari pelukan sang suami.
Lalu, papa Hamish menangkup wajah istrinya, mengusap air matanya yang berlinangan. Suasana haru biru itu pun harus rusak karena.
"EHM!"
__ADS_1
Rendra berdehem nyaring saat melihat mertuanya itu hampir beradu bibir.
Sudah tua tetapi tetap bergairah, apakah aku juga akan seperti itu kalau sudah tua nanti? gumam Rendra.
Mama dan papa terlihat kikuk karena kondisi ini, Salang tingkah bahkan wajah keduanya sudah sangat merah.
Saat semua masih berbalut kebahagiaan, tiba-tiba saja Tiara mengalami kejang seolah dia sedang di bangunkan oleh mimpi buruk.
Semuanya panik terutama Rendra, dia menekan tombol nurse call berulang kali.
Tak seberapa lama pun terdengar suara kaki yang berlarian mendekat, "Permisi, harap semuanya menunggu diluar!" seru dr.naina.
saat Rendra ingin menolak namun Alister segera mencegahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua menunggu di luar ruangan dengan gelisah, papa dan mama sejak tadi mondar-mandir seperti setrikaan panas.
Tuhan, tolong berikan aku kesempatan untuk berbincang dengan putriku... papa Hamish.
"Ya Tuhan, jangan ambil Tiara dari kami," lirih mama Renata sembari mengusap wajahnya dengan gusar.
Rendra pun tak bisa duduk dengan tenang, sejak tadi hanya bisa menghela napas.
Klek!
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka, mereka terkejut karena seorang perawat keluar dengan panik.
"Di mana orang tua pasien?!"
"Saya," spontan mama Renata.
"Kami," imbuh papa Hamish.
"Apa yang terjadi kepada istriku?" seru Rendra tak kalah panik dan khawatir.
"Pasien mengalami pendarahan, dan membutuhkan golongan darah ARH-O Negatif!"
Bukankah itu golongan darah yang sama dengan darah Rendra? Sejenak Rendra terdiam dan mencoba mengingat saat dirinya terluka di malam hari.
Saat tersadar, dia pun mendapatkan donor darah. Semuanya masuk akal, dengan luapan emosi dia pun membalikkan tubuhnya lalu menendang Alister dengan kuat di bagian perutnya.
Bugh!
"Aaaargggghh!!" pekik Alister kesakitan sampai tersungkur di lantai, hal itu pun membuat Maya panik.
"Alister -" seru Maya yang kemudian langsung di potong oleh Rendra dengan cepat.
"Jangan ikut campur!" tandas Rendra dengan gelap mata, dia menarik kerah kemeja Alister dan membawanya berdiri lalu kembali meninjunya.
"Brengsek kau! Bagaimana bisa kau menyembunyikan kebenaran itu, hah? Kau membiarkan wanita hamil untuk mendonorkan darahnya kepadaku?! KAU GILA!" teriak Rendra yang langsung menampar wajah Alister dan menabrakkan tubuhnya ke tembok.
__ADS_1