
Manda turun dari mobil yang baru saja parkir, dia masuk ke dalam apotek itu hanya untuk membeli sepasang handscoon.
Dia memerlukannya untuk menutupi sidik jarinya nanti, jarum suntik yang ada padanya masih terbungkus plastik, rapat, tersegel, namun di dalam suntikan itu sudah ada cairan yang akan di suntikkan ke dalam tubuh Embun.
Usia membeli Manda segera kembali masuk ke dalam mobil hitam yang sedang menunggunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhirnya sampai juga di rumah utama keluarga Wilson dengan selamat, di teras rumah sudah ada bibi Rita yang menunggu kedatangan mereka.
"Selamat datang kembali, tuan muda, nona muda..." bibi mengangguk hormat lalu menggerakkan tangannya dengan sopan, "Silakan masuk tuan, nona..."
"Terimakasih Bi, ah ya, tolong beritahu chef agar menyiapkan Beef Chicken untuk makan malam," perintah Embun padanya yang kemudian di balas sebuah anggukan pelan.
"Baik, nona muda."
Segera semuanya di persiapkan sesuai dengan permintaan nona muda mereka, menu makanan, pun, sudah tertata rapi di atas meja makan.
Malam ini bukan hanya sepasang suami istri itu saja yang makan, tetapi sekretaris Alister juga di ajak untuk ikut makan malam.
"Alister, mau kemana kau?" tanya Rendra yang baru saja keluar dari kamarnya, mendapati Alister yang melangkah menuju ruang tamu.
"Sudah malam, saya mau pulang tuan," imbuhnya seraya mengangguk hormat.
"Ikutlah makan malam dulu, bersama kami. Istriku pasti akan senang."
"Itu benar jadi ayo, jangan menolak rezeki karena itu tidak baik loh," imbuh Embun menimpali ajakan Rendra.
__ADS_1
Senang untuk apa?
"Ayo."
Alister kembali mengangguk, "Baik, tuan muda."
Ketiganya sudah duduk di kursi masing-masing, Manda mulai menyendokan lauk pauk serta nasi di piring mereka, yang juga di bantu oleh An.
Mereka, pun, mulai menyantap makanan dan ada yang mendahuluinya dengan minum.
"Terimakasih An," ucap Embun dengan senyuman manisnya.
An mengangguk dengan senyuman super ramah, "Sama-sama nona, selamat menikmati makan malamnya," untuk yang terakhir kalinya, 😏.
Manda yang melihatnya begit kesal, bagaimana bisa ada wanita yang berwajah dua seperti dia? Permainannya begitu halus dan tak tercium baunya.
An menatap Manda dengan seringaian yang membuatnya kesal setengah mati, dan lagi, An menatapnya sembari menaikkan satu alisnya, judes banget pake ngeselin lagi, 🥴.
Begitu pun juga dengan Embun yang langsung kembali ke kamar seorang diri, sementara Rendra dan Alister masuk ke dalam ruang kerja.
"Kau sudah menemukan infonya, siapa-siapa saja yang terlibat dengan konspirasi pak tua itu?"
"Jaringan mereka sulit untuk di selidiki, tuan, tetapi saya akan tetap mencari tahu akan hal itu."
"Kau punya banyak pengikut lalu apa gunanya mereka jika kau tak menggunakannya dengan baik?" Rendra mendengus kesal, "Cih! Sudah dua Minggu waktu berlalu dak kau tak menemukan apapun?"
Obrolan keduanya terhenti saat mereka mendengar suara teriakan Embun dari dalam kamar, membuat keduanya membelalakkan mata.
__ADS_1
"Istriku?!" seru Rendra penuh kekhawatiran, dia pun langsung beranjak dari duduknya dan berlari cepat untuk mengecek keadaan Embun.
Begitupun juga dengan Alister, jika hal buruk terjadi pada nona muda maka orang pertama yang akan disalahkan adalah dirinya.
"Sayang!"
Saat Rendra membuka pintu, namun tak bisa, pintu terkunci dari dalam, "Sayang buka pintunya."
"Manda apa yang kau lakukan?" suara Embun lirih bergetar, Embun ketakutan saat melihat gadis itu memegang jarum suntik.
"Beristirahatlah dengan tenang, nona. Jangan khawatir."
"Manda jangan!"
Kedua lelaki yang masih berdiri khawatir di balik pintu kamar, pun, terkejut saat mendengar suara Manda.
"Manda apa yang kau lakukan, jika hal buruk terjadi kepada istriku, aku tak akan segan-segan menghancurkan mu!"
Rendra tak mau berhenti berusaha, dia meminta bantuan Alister untuk mendobrak pintu kamarnya.
Brak! Brak! Brak!
Saat pintu terbuka, keduanya sangat terkejut saat melihat Embun yang sudah tergeletak di atas lantai, dia tak sadarkan diri.
"Manda!"
Teriak Rendra dengan emosionalnya yang sudah tak bisa di kontrol, dan orang pertama yang merasakan kepalan tangannya adalah Alister.
__ADS_1
Bugh!
Napasnya terngah-engah, dia berhasil mendaratkan tangannya di wajah sang sekretaris, "Brengsek kau! Kenapa kau membawanya ke sisi istriku! Dasar anjing tak berguna kau!"