
Rendra masih enggan bangkit dari ranjang, dia terus memeluk istrinya.
"Sayang, ayo kita keluar... kasihan mama seharian ini menjaga Reykhel, kita, kan, orang tuanya sayang -"
"Tunggu sebentar lagi, Pookie," ucap Rendra sembari menggigit daun telinga Tiara.
"Sayang kenapa kau selalu memanggil ku dengan nama Pookie? Bukankah itu artinya -"
"Artinya itu nama panggilan kesayangan ku untuk mu sayang, Pookie (Poki) jangan salah mengucapkan apa lagi sampai salah mengartikannya."
"Panggilan sayang?" Rendra mengangguk, lalu mengeratkan pelukannya, "Sejak awal pernikahan kau memanggil ku seperti itu, itu artinya kau yang duluan jatuh cinta kepadaku, kan?"
Wajah Rendra merona merah samar, dia menahan kepala Tiara agar tak dapat menoleh ke arahnya, dia malu mengakuinya.
"Tidak, kau itu jelek dan kampungan... mana mungkin aku yang lebih dulu jatuh cinta kepadamu."
"Iya, aku memang jelek dan kampungan, karena tak pernah bermake-up... kalau begitu mulai hari ini aku akan memakai makeup -"
Seketika Tiara terkejut saat Rendra beranjak dan menindihnya, membuat Tiara berada di bawah kungkungannya.
Wajah Tiara yang kesal dan cemberut itu pun membuat Rendra tak tahan untuk menyentuhnya, "Kenapa? Karena aku mencintaimu apa adanya, bukan karena makeup mu ataupun gaya berpakaian mu... hanya aku yang boleh mencintaimu, tak seorang pun yang boleh melihatmu, jika kau berdandan layaknya wanita cantik di luar sana, itu membuatku marah, kau tidak tahu bagaimana perasaanku yang menahan cemburu! Kau tak akan pernah bisa mengerti!" tukas Rendra dengan sorot matanya yang menajam.
"Sayang, maafkan aku..." seru Tiara dengan mata berkaca-kaca, dia mengusap kedua sudut mata Rendra yang basah dengan ibu jarinya, "Maafkan aku yang tidak mengerti akan hal itu, sayang."
__ADS_1
"Sekarang, kau mengerti mengapa aku selalu mengatakan kalau kau itu jelek dan kampungan, karena itulah yang membuatku mencintaimu, kau istriku, kau ibu dari Reykhel putraku," Rendra mengecup bibir istrinya kemudian menggigitnya hingga memerah, "Tak ada yang dapat mematahkan kenyataan itu. Jadi jangan pernah berpikiran seperti itu lagi, kau sangat istimewa untukku."
Sekarang, malah Tiara yang menangis saat mendengar pengakuan cinta dari suaminya, "Aku mencintaimu, sangat..." imbuh Tiara yang kemudian membalas ciumannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepasang suami istri itu keluar dari kamar, mereka melihat Reykhel sedang bermain di dekat meja bersama dengan Maya.
Mama dan papa sedang ada di belakang.
"Reykhel..." panggil Tiara, membuat Rey menoleh ke arahnya. Cepat-cepat Rey beranjak namun bola plastik itu terinjak dan membuatnya terpeleset.
Bruk!
"Aaaaaa!!!" alhasil Reykhel pun menangis karena keningnya tergores sudut meja..
"Tuan muda kecil!" seru Maya yang terkejut.
Maya menggendong Reykhel dan segera memberikannya kepada Tiara.
"Cup, cup, cup, sayang... ini mama, sudah tidak apa-apa ya, anak mama kuat."
"Tidak apa-apa apanya? Tidak lihat keningnya tergores sampai merah seperti ini?" imbuh Rendra dengan kesal, "Kenapa masih diam, cepat ambilkan P3K!" tandasnya kepada Maya.
__ADS_1
"Ba- baik tuan, segera saya ambilkan."
Tak seberapa lama pun Maya kembali dengan membawa kotak P3K tersebut, dia meletakkannya di atas meja.
Membantu membalurkan obat di kening Reykhel yang masih menangis di pangkuan sang mama.
Tiara membawanya duduk diatas pangkuannya, di atas sofa, Rendra juga ada di sebelahnya.
"Sayang, kita obati dulu ya keningnya agar lekas sembuh... nanti bisa main lagi," tutur Tiara lalu mencium tangan Reykhel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore menyapa, Maya terlihat sedang duduk di gazebo bersama dengan Reykhel.
"Maya?" panggil Tiara yang mendekat sembari membawa piring berisi potongan buah.
"Iya, nona?"
Tiara duduk di dekatnya, dan tersenyum, "Maya, namamu mengingatkan ku dengan seorang sahabatku di kantor."
"Benarkah?"
"Iya, ku dengar sekarang dia sudah menikah, aku merindukan suasana kantor."
__ADS_1
Maya pun tersenyum, "Nona tidak ingin bekerja lagi?"
"Tidak, lagi pula tuan muda tak akan mengizinkanku. Dia hanya ingin aku fokus kepada Reykhel."