
"pakaian apa ini?" protes alister saat Amanda menyodorkan kemeja biru nya yang besar.
alister mengernyit, "memangnya tidak ada pakaian yang lainnya lagi yang bisa kupakai?" tanyanya dengan sedikit kesal.
"jika kau tidak mau ya sudah tidak usah pakai baju, seperti itu saja."
Astaga, apa yang baru saja dikatakan Amanda benar-benar pembuatan alister senang, karena itu artinya satu malam penuh dia akan berada di dalam dekapan dan memeluk wanitanya, semalam suntuk.
dengan gaya cool alister mengusap rambutnya keatas, dengan seringaian dia menggoda, "Oh benarkah? Tak kusangka jika Nyonya Alvaro akan berkata demikian... baiklah jika memang itu yang kau inginkan, aku bersedia untuk tidak memakai baju selama aku tinggal di sini... asalkan aku bisa memelukmu setiap saat."
mendengar pria itu mengatakan hal yang tak senonoh menurutnya, tanpa sadar Amanda mencubit bagian dadanya sedikit kuat hingga memerah, tentu saja hal itu membuat alister meringis kesakitan.
"Aduh! apa yang kau lakukan Kenapa kau mencubit ku?" dengan cepat Alister mencengkeram tangan Amanda kemudian membawanya ke arah bibirnya, apa lagi jika bukan untuk menggigit punggung tangannya sebagai balasan karena telah berani mencubitnya.
__ADS_1
"Aduh Sayang jangan digigit sakit-" ops! dengan cepat Amanda menjauhkan tangannya dari bibir alister lalu menutup mulutnya sendiri dengan kesal.
dia bergumam di dalam hatinya, Oh Tuhan Ya ampun apa yang sudah aku katakan aku memanggilnya sayang secara sadar?
kemudian dia menggeleng sungguh pemandangan yang membuat alister begitu gemas, dan ingin sekali melakukannya kembali seperti apa yang sering dilakukan oleh Tuan mudanya.
sehari semalam pun orang itu akan sanggup melakukannya. Oh my God! Bagaimana ini? pemandangan blue yang pertama kali ia lihat saat tuan dan Nona mudanya berada di ruangan CEO Brilian grup, dimana pada saat itu Alister yang hendak masuk ke ruangan Tuan mudanya, dirinya malah disuguhkan dengan pemandangan yang sangat luar biasa.
bayangan itu saat ini sedang berkeliaran di dalam benaknya.
"mau ke mana kau?" tanya alister saat melihat Amanda yang melangkah menuju pintu, wanita itu sudah memutar handle dan hampir membuka daun pintunya.
"Aku ingin ke dapur untuk memasak. Memangnya kalian tidak lapar?"
__ADS_1
Alister pun dengan cepat menggeleng, dia menaikkan telunjuknya ke udara lalu menggerakkannya "kemari kau!"
"kenapa?" Amanda bertanya sembari mengerutkan dahinya.
Memangnya apa yang salah dengan memasak di dapur, Manda tak bergeming dari tempatnya dan hanya diam saja, sikapnya itu membuat alister kesal.
"Kenapa diam! aku menyuruh mu untuk untuk mendekat bukan diam di situ, kau sedang hamil tidak boleh memasak... jika kau ingin makan," kemudian alister mengambil dompet yang ada di atas nakas, dia mengeluarkan Black card dan menyodorkannya, "pesan apa saja yang ingin kau makan dan bayar menggunakan Black card ini!"
wah wah Manda menggeleng, "sepertinya ada seseorang yang sikapnya mulai tertular oleh Tuan Muda Rendra."
"jangan menyamakan aku dengannya, tentu saja kami berbeda."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
dan alhasil untuk makan malam Amanda menuruti apa yang dikatakan oleh alister, dan tentu saja lagi-lagi Rio lah yang harus pergi untuk mencari makan malam. meskipun sebenarnya Rio juga tidak terlalu familiar dengan kota ini.